New Policy: Menekraf: Sensus Ekonomi bagian dari pembangunan ekraf Indonesia
Menekraf: Sensus Ekonomi bagian dari pembangunan ekraf Indonesia
New Policy – Dalam upaya memperkuat fondasi sektor ekonomi kreatif, Menteri Ekonomi Kreatif Indonesia, Teuku Riefky Harsya, menekankan pentingnya pelaksanaan Sensus Ekonomi yang diinisiasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Acara konferensi pers terkait sensus ekonomi 2026 sektor ekraf di Jakarta, Senin, menjadi panggung bagi ia untuk menjelaskan peran data ekonomi dalam mengarahkan kebijakan pembangunan. “Hasil sensus ekonomi nasional yang sukses telah memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi sektor ekonomi kreatif Indonesia,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa data ini tidak hanya menjadi dasar untuk kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, akademisi, dan pelaku usaha, tetapi juga membuka peluang bagi dukungan pendanaan yang lebih tepat sasaran, termasuk akses kredit untuk subsektor yang memerlukan pengembangan.
Peran Sensus Ekonomi dalam Memetakan Potensi Ekraf
Kementerian Ekonomi Kreatif menilai sensus ekonomi nasional sebagai alat penting dalam mengidentifikasi potensi ekonomi kreatif di berbagai daerah. Berdasarkan catatan BPS, beberapa subsektor telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan negara. Di antaranya, industri kuliner, fesyen, serta media massa seperti televisi dan radio menunjukkan dominasi yang kuat, dengan kontribusi mencapai 68,42 persen. Hal ini menegaskan bahwa sektor-sektor ini menjadi tulang punggung dalam ekosistem ekraf nasional.
“Hasil sensus ekonomi nasional yang sukses telah memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi sektor ekonomi kreatif Indonesia,” kata Menteri Teuku Riefky Harsya dalam acara konferensi pers Sensus Ekonomi 2026 sektor ekonomi kreatif di Jakarta, Senin. Ia menambahkan bahwa data ini memungkinkan kolaborasi antarlembaga, termasuk pemerintah dan pelaku usaha, untuk memperkuat ekraf daerah.
Dalam rangkaian upaya memetakan potensi ekraf, BPS juga mengidentifikasi tiga subsektor yang menunjukkan pertumbuhan signifikan. Subsektor tersebut meliputi pengembang aplikasi dan game, industri film animasi serta video, dan fotografi. Pertumbuhan di subsektor ini didorong oleh adopsi teknologi baru, yang membuat pelaku usaha lebih adaptif dan inovatif. “Subsektor dengan pertumbuhan cepat ini tidak hanya menunjukkan potensi, tetapi juga peran strategis dalam memperkaya struktur ekonomi kreatif,” terangnya.
Pemanfaatan Teknologi dan Subsektor yang Berkembang
BPS berupaya untuk menggali lebih dalam mengenai aktivitas ekonomi kreatif yang dilakukan masyarakat di berbagai lapisan. Dalam sensus ini, selain memetakan subsektor yang sudah berkembang, pihaknya juga ingin mengidentifikasi subsektor-subsektor baru yang mungkin belum tercatat secara maksimal. “Dengan data yang akurat, kita dapat memahami bagaimana masyarakat lokal mengaktifkan kegiatan ekraf mereka, baik dalam skala kecil maupun besar,” tambahnya. Hal ini berdampak pada kebijakan pemerintah yang lebih terarah dan terukur.
Sebagai bagian dari strategi membangun ekraf, BPS menargetkan 251 ribu petugas resmi untuk mengumpulkan data hingga akhir Agustus 2026. Petugas-petugas ini akan mengunjungi 92 juta rumah secara menyeluruh, termasuk menanyakan jenis pekerjaan dan kegiatan usaha yang dilakukan masyarakat. “Ini adalah langkah awal untuk membangun basis data yang lebih lengkap dan bisa dipakai sebagai alat analisis,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa meskipun sensus ekonomi tidak secara khusus memfokuskan pada pertanyaan ekraf, data yang diperoleh tetap menjadi fondasi untuk pengembangan lebih lanjut.
Kolaborasi dan Dukungan untuk Subsektor Ekraf
Menteri Harsya menekankan pentingnya sinergi antara berbagai pihak dalam memaksimalkan manfaat sensus ekonomi. Ia menjelaskan bahwa data dari sensus ini akan menjadi panduan untuk kebijakan yang lebih tepat sasaran, terutama dalam meningkatkan ekosistem ekraf di daerah-daerah. “Kolaborasi antarlembaga seperti pemerintah, asosiasi, akademisi, dan pelaku usaha akan lebih mudah dilakukan jika data ekraf sudah terstruktur,” katanya. Dukungan ini berupa akses pendanaan, pelatihan, serta program pengembangan usaha yang terukur.
Berdasarkan hasil sensus, BPS berharap dapat memetakan secara rinci keberadaan pelaku ekraf di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. “Data ini akan memudahkan kita mengetahui lokasi-lokasi yang menjadi sentral kegiatan ekraf, baik yang sudah mapan maupun yang berkembang,” tambahnya. Dengan demikian, pemerintah bisa memberikan perhatian lebih besar pada daerah-daerah yang memiliki potensi unik, seperti kota-kota kecil atau daerah terpencil yang mungkin belum tergarap secara optimal.
Target Subsektor dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Dalam prospek jangka panjang, Menteri Harsya mengharapkan sensus ekonomi 2026 mampu membangkitkan 17 hingga 21 subsektor yang memiliki potensi pertumbuhan. Subsektor-subsektor ini dianggap penting untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. “Dengan mengidentifikasi subsektor ekraf yang belum tergarap, kita bisa memastikan keberlanjutan sektor ini dalam jangka waktu yang lebih panjang,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa hasil sensus akan digunakan sebagai basis data mikro untuk survei lanjutan yang dijalankan oleh kementerian terkait. “Data ini tidak hanya memberikan gambaran keseluruhan, tetapi juga bisa digunakan sebagai alat untuk evaluasi lebih detail di tingkat lokal,” jelasnya. Pemanfaatan data ini diharapkan mendorong pembuatan kebijakan yang lebih efektif, terutama dalam meningkatkan kualitas usaha dan meningkatkan akses pasar bagi pelaku ekraf.
Sensus ekonomi 2026 dianggap sebagai langkah kritis dalam merumuskan strategi pembangunan ekraf yang lebih holistik. Dengan mencakup berbagai lapisan masyarakat, BPS ingin memastikan bahwa tidak ada pelaku usaha yang terabaikan dalam pemetaan potensi. “Selain mengukur keberhasilan subsektor yang sudah ada, sensus ini juga akan mengungkap subsektor baru yang bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan,” tuturnya.
Kehadiran data dari sensus ekonomi akan membantu pemerintah dalam mengevaluasi progres kebijakan sektor ekraf, termasuk dalam meningkatkan kapasitas SDM dan menyempurnakan infrastruktur pendukung. Menteri Harsya mengakui bahwa ekraf memiliki peran vital dalam mendorong ekonomi nasional, dan sensus ini menjadi bagian dari upaya untuk menguatkan posisi sektor tersebut di tengah tantangan ekonomi global. “Kita harus memastikan bahwa data ekraf diakui sebagai indikator penting dalam pembangunan nasional,” pungkasnya.
Dalam keseluruhan pelaksanaan sensus, BPS berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya. Dengan demikian, hasil sensus akan menjadi referensi yang andal bagi pihak terkait dalam merancang strategi pengembangan ekraf. “Data ini akan memberikan wawasan tentang bagaimana ekraf berkontribusi pada PDB dan sektor-sektor lainnya,” ujarnya. Pihaknya juga berharap bahwa sensus ini akan mendorong partisipasi lebih luas dari masyarakat dalam mengembangkan usaha kreatif, baik secara individu maupun kolektif.
Mengingat pentingnya data untuk kebijakan pembangunan, Menteri Harsya menekankan bahwa sensus ekonomi adalah alat utama
