Program Amal
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pemprov Bali optimistis capai target tanpa emisi sebelum 2045

Published 13-10-2026 · Updated 13-10-2026 · By Tegar Wijaya - programamal.com

Foto : Tegar Wijaya - programamal.com

Bali Membidik Emisi Nol Bersih Lebih Cepat dari Target 2045

Programamal.com – Pemerintah Provinsi Bali menilai Pulau Dewata memiliki peluang kuat untuk mencapai kondisi nol emisi karbon lebih awal dari 2045. Target tersebut diproyeksikan dapat diwujudkan sekitar 2040 melalui perubahan besar pada sektor listrik, transportasi, pembangunan gedung, dan pengelolaan lingkungan.

Optimisme itu disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster saat Pekan Iklim Bali 2026 di Denpasar, Selasa. Ia melihat langkah-langkah yang telah disiapkan pemerintah daerah dapat mempercepat pengurangan ketergantungan pada energi berbasis batu bara dan minyak.

“Tidak perlu tahun 2045, menurut saya mungkin 2040 sudah bisa tercapai,” ucap Gubernur Bali Wayan Koster.

Pasokan Listrik Bergeser ke Gas dan Surya

Salah satu fondasi utama target tersebut adalah perubahan pasokan energi listrik Bali. Pemprov Bali telah menyepakati penghentian penambahan pasokan listrik dari PLTU Paiton di Jawa Timur bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta PLN. Arah kebijakan berikutnya adalah memenuhi kebutuhan listrik pulau ini dari sumber energi yang lebih bersih.

Dalam tahap transisi, pembangkit listrik berbahan bakar gas direncanakan memiliki kapasitas total 1.550 megawatt. Pembangunannya akan dilakukan secara bertahap mulai tahun ini sampai 2031. Di saat yang sama, penggunaan pembangkit listrik tenaga surya akan terus diperluas untuk memperbesar porsi energi terbarukan di Bali.

Pembangkit yang memakai batu bara dan diesel dipersiapkan untuk dihentikan secara bertahap. Batas akhir penghentian sumber listrik fosil tersebut ditetapkan paling lambat lima tahun ke depan. Pergeseran ini penting karena sektor energi menjadi salah satu sumber emisi yang paling besar dalam aktivitas sehari-hari.

“Kalau pembangkit listriknya terwujud 2031 dengan bahan bakar gas, PLTS-nya sekarang diberikan kuota oleh Pak Presiden 1.000 megawatt, maka semua energi di Bali ini berbahan bakar yang ramah lingkungan, PLTS dan gas,” ujar Koster.

Kuota 1.000 megawatt untuk PLTS memberi ruang lebih besar bagi Bali untuk mengembangkan tenaga surya. Pemanfaatannya dapat mendukung kebutuhan listrik tanpa menambah beban emisi dari bahan bakar fosil. Kombinasi gas sebagai energi transisi dan tenaga surya sebagai sumber terbarukan menjadi bagian penting dari peta jalan energi daerah.

PLTS Atap Menjadi Syarat Bangunan Baru

Percepatan perubahan tidak hanya diarahkan kepada pembangkit berskala besar. Pemerintah daerah juga menyiapkan aturan yang menghubungkan pembangunan gedung baru dengan penerapan energi bersih. Penggunaan PLTS atap diwajibkan sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh persetujuan bangunan gedung atau PBG.

Kesepakatan ini melibatkan pemerintah provinsi, para bupati, dan wali kota di Bali. Perizinan bangunan baru tidak akan diterbitkan apabila pemohon belum menerapkan PLTS, kendaraan listrik, pengurangan plastik sekali pakai, serta pengelolaan sampah dari sumbernya.

Kebijakan tersebut menempatkan bangunan sebagai bagian dari upaya iklim, bukan semata-mata objek pembangunan fisik. Pemilik dan pengembang gedung akan didorong untuk memperhitungkan sumber listrik, mobilitas, sampah, dan penggunaan material sejak tahap perencanaan. Dengan cara itu, agenda emisi nol bersih dapat hadir dalam aktivitas perkotaan dan kawasan permukiman.

Transportasi Listrik Didorong Lebih Luas

Selain kelistrikan, kendaraan bermotor listrik berbasis baterai menjadi sektor yang diprioritaskan. Pemerintah Bali ingin penggunaan kendaraan listrik berkembang lebih cepat agar emisi dari pembakaran batu bara dan minyak dapat ditekan secara signifikan.

“Dengan makin dikencangkan lagi penggunaan kendaraan listrik, maka 90 persen emisi dari batu bara dan minyak, itu akan lebih cepat berkurang,” kata Koster.

Peralihan kendaraan pribadi perlu berjalan beriringan dengan penguatan transportasi publik. Komite Pengarah Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, Suzanty Sitorus, menekankan pentingnya pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang menjangkau bus, sepeda motor, dan layanan logistik. Cakupan yang merata akan membuat manfaat pengurangan emisi tidak hanya bergantung pada pengguna mobil pribadi.

Tingkat adopsi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai di Indonesia telah mencapai 17 persen dari seluruh penjualan kendaraan baru. Angka itu telah melampaui Amerika Serikat, walaupun masih tertinggal dari sejumlah negara lain di ASEAN. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa peralihan menuju kendaraan listrik mulai menjadi bagian nyata dari pasar otomotif nasional.

Bali memiliki dua kondisi yang dipandang dapat mempercepat perubahan ini. Kenaikan harga bensin memicu antrean panjang serta kemacetan, sehingga masyarakat memiliki dorongan praktis untuk mempertimbangkan kendaraan listrik. Selain itu, karakter Bali sebagai pulau dapat memudahkan penataan infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum atau SPKLU.

Penyediaan fasilitas pengisian daya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Beragam teknologi pengisian perlu tersedia agar kendaraan pribadi, angkutan umum, kendaraan roda dua, dan sektor distribusi barang dapat beroperasi dengan lebih andal.

Target Ambisius Membutuhkan Konsistensi

Koster menyatakan siap menghadapi tekanan dari pihak-pihak yang terdampak oleh transformasi energi tersebut. Baginya, penolakan dan kritik merupakan bagian dari konsekuensi kepemimpinan ketika kebijakan besar mulai mengubah kepentingan yang telah berjalan.

“Syaratnya tahan di-bully memang, kalau di-bully memang bagian dari sesuatu yang harus dinikmati oleh pemimpin, jadi tidak apa-apa,” ucapnya.

Suzanty menilai sasaran emisi nol bersih Bali sebelum 2045 tetap realistis selama kebijakan yang telah dirancang dijalankan secara konsisten. Perubahan pembangkit listrik, perluasan PLTS, kewajiban pada bangunan baru, dan penguatan kendaraan listrik perlu bergerak sebagai satu ekosistem.

“Kami ikut optimistis juga jika fokusnya dan apa yang sekarang direncanakan terus dilanjutkan, maka target itu sangat mungkin tercapai,” kata Suzanty.

Bagi masyarakat, agenda ini berarti perubahan dapat terlihat dalam pilihan kendaraan, rancangan bangunan, penggunaan listrik, hingga cara mengelola sampah. Keberhasilan Bali menuju emisi nol bersih akan sangat ditentukan oleh keberlanjutan kebijakan, kesiapan infrastruktur, serta keterlibatan warga dan pelaku usaha dalam menjalankan transformasi tersebut.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Pemprov Bali optimistis capai target tanpa?

Pemprov Bali optimistis capai target tanpa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pemprov Bali optimistis capai target tanpa matter?

Pemprov Bali optimistis capai target tanpa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.