Special Plan: Kementerian PU percepat preservasi Jalan Pantura untuk konektivitas

Kementerian PU Percepat Preservasi Jalan Pantura untuk Peningkatan Konektivitas

Special Plan – Jakarta — Upaya Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dalam memperbaiki kualitas infrastruktur jalan nasional kembali mendapat perhatian khusus, terutama pada koridor Pantai Utara (Pantura) Jawa. Pada ruas Jalan Pantura Kudus-Pati-Rembang, pekerjaan preservasi yang sebelumnya dijadwalkan secara bertahap kini dipercepat untuk memastikan ketersediaan akses yang optimal bagi masyarakat dan pengangkutan barang. Menteri PU Dody Hanggodo mengungkapkan bahwa pemerintah menekankan pentingnya menjaga kondisi jalan nasional agar tetap layak digunakan, terutama di jalur strategis dengan intensitas lalu lintas tinggi.

Preservasi sebagai Pendorong Konektivitas Wilayah

Dody menjelaskan dalam pernyataannya di Jakarta, Senin, bahwa jalur Pantura Jawa memiliki peran vital sebagai arteri distribusi logistik nasional. “Jalur Pantura merupakan bagian inti dari sistem transportasi yang menghubungkan berbagai daerah, sehingga kualitas jalan harus tetap terjaga untuk mendukung mobilitas dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya. Pemeliharaan jalan berkelanjutan dianggap penting untuk menjaga stabilitas infrastruktur yang menjadi tulang punggung pengangkutan barang dan penumpang.

“Jalur Pantura merupakan urat nadi konektivitas dan distribusi logistik nasional. Karena itu, kualitas jalan nasional harus tetap terjaga agar aman dilalui masyarakat maupun kendaraan logistik.”

Preservasi pada ruas Kudus-Pati-Rembang, khususnya Jalan Lingkar Juwana-Pati, menjadi prioritas dalam rangka meningkatkan keandalan infrastruktur. BBPJN Jawa Tengah-DI Yogyakarta saat ini fokus pada penanganan sepanjang 990 meter dengan lebar 10,5 meter. Proses ini melibatkan rekonstruksi perkerasan menggunakan bahan beton untuk titik-titik yang mengalami kerusakan parah akibat beban lalu lintas yang tinggi.

Dalam pelaksanaannya, pekerjaan memulai dengan penghapusan perkerasan lama yang rusak, lalu dilanjutkan dengan peningkatan struktur tanah dasar dan pemasangan beton baru. Selain itu, ada juga tahap pengaspalan di Jembatan Lama Juwana serta pekerjaan transisi antara lapisan beton lama dan baru. Hingga kini, progres konstruksi telah mencapai 85%, dengan beton rigid sudah selesai dikerjakan. Sisa pekerjaan terkait pengaspalan di Jembatan Jeratun dan Jembatan Juwana lama ditargetkan selesai pada pertengahan Juni 2026.

Pengaturan Lalu Lintas Selama Pekerjaan

Durasi proyek ini mencakup 540 hari kalender, dimulai dari 11 Desember 2025 hingga 3 Juni 2027, dan akan diikuti masa pemeliharaan selama 365 hari kalender hingga 2 Juni 2028. Untuk meminimalkan dampak pada kegiatan sehari-hari, BBPJN Jawa Tengah-DI Yogyakarta menerapkan rekayasa lalu lintas yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Kendaraan kecil seperti minibus dan sepeda motor tetap bisa melintas, sementara kendaraan besar dari arah Rembang ke Pati mengalami penyesuaian jalur, terutama di sekitar Jembatan Jeratun yang sempit.

Di Jembatan Jeratun, lebar jembatan hanya 7,5 meter, sehingga arus kendaraan besar dari Rembang ke Pati dilayani secara terarah. Dalam waktu yang sama, arus dari Pati ke Rembang tetap dipertahankan sesuai arahan petugas. Pengaturan ini bertujuan memastikan keamanan dan kelancaran pengguna jalan, baik untuk kebutuhan logistik maupun transportasi umum.

Nilai Kontrak dan Pendanaan Proyek

Preservasi Jalan Lingkar Juwana-Pati adalah bagian dari Paket Preservasi Jalan Kudus-Pati-Rembang dalam Tahun Anggaran 2025-2027. Proyek ini didanai melalui skema Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), dengan nilai kontrak sebesar Rp202,9 miliar. Total panjang penanganan mencapai 14,66 kilometer, yang akan dijalankan dalam beberapa tahap untuk memastikan kualitas pekerjaan sesuai standar.

Pelaksanaan konstruksi mengacu pada target pengecoran harian sebesar 200 m³, dengan total volume mencapai 2.400 m³. Dody menekankan pentingnya pengendalian kualitas secara konsisten di lapangan untuk menghindari kesalahan dalam proses pembangunan. “Dengan preservasi yang terencana, kita bisa menjaga daya dukung jalan secara optimal, bahkan di tengah dinamika lalu lintas yang kompleks,” tambahnya.

Manfaat untuk Ekonomi dan Mobilitas

Proyek ini diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap kelancaran distribusi logistik dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Pantura. “Kemantapan jalan nasional akan memperkuat aksesibilitas, sehingga meningkatkan produktivitas sektor ekonomi,” kata Dody. Kementerian PU juga mengimbau pengguna jalan untuk selalu berhati-hati, mematuhi rambu lalu lintas, dan mengikuti arahan petugas selama pekerjaan berlangsung.

Jalan Lingkar Juwana-Pati yang menjadi fokus dalam proyek ini, merupakan bagian dari koridor strategis Pantura yang sering dilalui kendaraan bertonase besar. Pengangkutan barang yang mengalami hambatan selama pembangunan akan segera teratasi setelah pekerjaan selesai. Dody menyampaikan bahwa prioritas utama adalah memastikan jalan tetap layak dan aman digunakan, terutama untuk kebutuhan logistik yang mendukung sektor-sektor vital seperti pertanian, industri, dan perdagangan.

Sebagai langkah tambahan, Kementerian PU terus memperkuat koordinasi dengan pihak terkait, termasuk pemerintah daerah dan operator jalan. Dengan penyelesaian proyek yang tepat waktu, ekosistem transportasi nasional diharapkan lebih stabil, meminimalkan risiko kemacetan dan kerusakan infrastruktur. Selain itu, upaya ini juga dianggap penting untuk menunjang mobilitas warga, terut