Special Plan: Menekraf ajak wisudawan jadi penggerak ekonomi melalui kewirausahaan
Menekraf Ajak Wisudawan Jadi Penggerak Ekonomi Melalui Kewirausahaan
Special Plan – Jakarta, Kamis – Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, Menteri Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, memberikan pesan penting kepada lulusan baru Institut STIAMI ke-49. Ia menegaskan bahwa para wisudawan memiliki peran penting dalam membentuk sektor ekonomi kreatif yang dinamis, khususnya melalui inovasi dan wirausaha. Menurut Riefky, generasi muda bukan hanya bagian dari bonus demografi Indonesia, tetapi juga motor penggerak utama dalam menciptakan peluang ekonomi baru.
Menghadapi Perubahan Cepat dengan Ide dan Kreativitas
Dalam era digital yang terus berubah, Riefky menyoroti bahwa kemampuan anak muda untuk beradaptasi dan menghasilkan gagasan inovatif menjadi kunci sukses. Ia menyebut bahwa generasi Z dan milenial, yang dikenal sebagai digital native, memiliki keunggulan dalam menggabungkan teknologi dengan kreativitas, sehingga mampu menghasilkan solusi yang tidak hanya lokal, tetapi juga bisa bersaing secara internasional.
“Ekonomi kreatif pada dasarnya adalah tentang anak muda dan gagasan. Sebagai digital native yang kreatif, visioner, dan adaptif, generasi Z dan milenial memiliki kemampuan besar untuk menghasilkan gagasan inovatif yang melampaui batas budaya maupun negara,”
Riefky juga menekankan bahwa para wisudawan ditantang untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi sekaligus pengusaha yang mampu membuka peluang kerja bagi orang lain. Ia menyatakan bahwa dengan jumlah penduduk produktif mencapai lebih dari 53 persen, sektor ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menyerap tenaga kerja generasi muda, terutama dalam mengatasi masalah pengangguran di usia 15–39 tahun.
Persiapan untuk Masa Depan yang Beragam
Menurut Riefky, karakteristik generasi muda seperti kreativitas, adaptabilitas, dan penguasaan teknologi secara selaras dengan kebutuhan industri ekonomi kreatif. Ia menjelaskan bahwa struktur tenaga kerja di sektor tersebut pada 2025 sudah didominasi oleh 63 persen pegiat dari generasi milenial dan Gen Z. “Ini menunjukkan bahwa kekuatan ide dan inovasi generasi muda sudah mulai terwujud secara nyata,” ujarnya.
“Generasi muda harus menjadi agen perubahan yang menghubungkan ilmu dari kampus ke masyarakat, industri, hingga pasar global. Untuk itu, para wisudawan saya titipkan tiga pesan penting menuju Indonesia Emas 2045, yaitu terus belajar menghadapi perubahan cepat, berani ciptakan peluang jadilah pencipta lapangan kerja, serta menjaga integritas dengan karakter yang kuat,”
Riefky menambahkan bahwa para wisudawan diminta untuk terus berkembang, baik secara pengetahuan maupun kompetensi, agar bisa menjawab tantangan global. “Dengan memiliki karakter yang kuat dan integritas tinggi, mereka mampu menjadi percontohan bagi masyarakat sekitar, bahkan menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan,” kata Riefky.
Program Strategis untuk Memperkuat Ekonomi Kreatif
Menyusul ajakan tersebut, pemerintah terus memperkuat pengembangan ekonomi kreatif melalui delapan kebijakan strategis yang dikenal sebagai Asta Ekraf. Kebijakan ini mencakup berbagai aspek, seperti penguatan data, regulasi, talenta, infrastruktur, kekayaan intelektual, akses pembiayaan, perluasan pasar, serta kolaborasi hexahelix. Asta Ekraf bertujuan mengakselerasi pertumbuhan sektor ekonomi kreatif, sekaligus menjawab tantangan yang dihadapi Indonesia dalam bidang ini.
Dalam kesempatan ini, Riefky juga menyebutkan bahwa Kementerian Ekraf sedang menyiapkan Program Flagship Ekraf 2027. Program ini mencakup beberapa inisiatif kunci, termasuk aktivasi desa kreatif, pengembangan creative hub, serta program Creative by Indonesia. “Program ini bertujuan memberikan dukungan nyata kepada wirausaha muda dan menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan sektor kreatif,” tutur Riefky.
Kolaborasi Hexahelix: Kunci Penguatan Ekonomi Kreatif
Salah satu aspek penting dalam Asta Ekraf adalah kolaborasi hexahelix, yang mencakup kerja sama antara pemerintah, perusahaan, akademisi, komunitas, pengusaha, dan masyarakat. Riefky menyatakan bahwa model ini dapat mengoptimalkan potensi ekonomi kreatif, sekaligus memastikan partisipasi yang lebih luas dari berbagai pihak. “Dengan pendekatan kolaboratif, kita bisa membangun solusi yang lebih inovatif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Di sisi lain, penguatan infrastruktur dan akses pembiayaan menjadi fokus utama untuk memastikan wirausaha muda memiliki dukungan yang memadai. Riefky menekankan bahwa kekayaan intelektual dan data yang akurat juga menjadi fondasi penting dalam mempercepat pertumbuhan sektor kreatif. “Melalui data yang terintegrasi, kita bisa mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan menciptakan produk yang sesuai,” katanya.
Harapan untuk Indonesia Emas 2045
Riefky menegaskan bahwa pencapaian Indonesia Emas 2045 tidak mungkin terwujud tanpa peran aktif generasi muda. Ia berharap para wisudawan dapat menjadi bagian dari transformasi ekonomi yang sedang berlangsung, sekaligus membawa perubahan positif ke berbagai lapisan masyarakat. “Dengan inovasi yang berkelanjutan, mereka mampu menciptakan nilai tambah bagi ekonomi nasional, bahkan mendorong ekspor kreatif yang berpengaruh di tingkat global,” tambah Riefky.
Menurut Riefky, program-program seperti Creative by Indonesia dan bantuan sarana produksi kreatif adalah langkah konkret untuk mendukung para wisudawan. “Kita perlu menciptakan ruang yang memungkinkan ide-ide baru tumbuh secara mandiri, tanpa tergantung pada kebijakan yang sudah ada,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa penguatan kelembagaan dan diplomasi ekonomi kreatif akan menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang.
Menekraf: Pendekatan Kreatif untuk Ekonomi Nasional
Kementerian Ekonomi Kreatif terus mendorong kebijakan yang memadukan inovasi dengan kebutuhan pasar. Riefky menyatakan bahwa melalui pendekatan kreatif, pemerintah berusaha mengubah paradigma ekonomi Indonesia menjadi lebih dinamis dan berbasis kreativitas. “Dari sisi kebijakan, kita tidak hanya berfokus pada pengembangan sektor tertentu, tetapi juga memastikan adanya penyesuaian terhadap perubahan global,” tambahnya.
Dalam konteks ini, Riefky mengingatkan bahwa ekonomi kreatif bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang transformasi sosial dan budaya. “Para wisudawan diharapkan bisa menjadi pelopor perubahan
