Strategi Penting: Bapanas tegaskan jaga stabilitas harga beras lewat intervensi SPHP

Bapanas tegaskan jaga stabilitas harga beras lewat intervensi SPHP

Dalam wawancara di Jakarta, Rabu, Deputi Bapanas Andriko Noto Sutanto menyatakan bahwa program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) berperan sebagai instrumen kunci dalam menjaga ketersediaan beras serta memastikan akses harga yang terjangkau bagi masyarakat. “Target SPHP beras tahun 2026 adalah 828 ribu ton, sehingga program ini sangat penting untuk mengendalikan fluktuasi pasokan dan harga,” ujarnya.

Analisis IPH Terhadap Perkembangan Harga

Bapanas mencatat bahwa terdapat kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras di 83 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, hanya 41 kabupaten/kota yang mencatat kenaikan melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET). Pada tingkat provinsi, 19 wilayah mengalami kenaikan IPH beras medium di atas HET.

“Dengan adanya kenaikan IPH yang tercatat, kita perlu mempercepat penyaluran beras SPHP untuk mengendalikan pergerakan harga,” tutur Andriko.

Kinerja SPHP dalam Pemantauan Pasokan

Realisasi penjualan beras SPHP sejak awal Maret hingga 14 April 2026 mencapai 111,2 ribu ton. Pihaknya mengungkapkan bahwa angka ini cukup menggambarkan dampak program terhadap stabilitas harga beras nasional.

Dalam pemantauan, rata-rata harga beras medium di semua zonasi kompak per 12 April 2026 tidak melebihi HET. Harga di Zona I sebesar Rp12.984 per kg (3,82% di bawah HET), Zona II Rp13.615 per kg (2,75% di bawah HET), dan Zona III Rp15.178 per kg (2,08% di bawah HET).

Kebutuhan Penyaluran di Wilayah Rendah

Bapanas mendorong Perum Bulog untuk meningkatkan penyaluran beras SPHP di daerah yang realisasi salurnya masih di bawah target. Contohnya, DKI Jakarta dan Banten memiliki target salur 46,82 ribu ton, namun hingga saat ini hanya tercapai 1,45 ribu ton.

Program bantuan pangan, seperti beras gratis sebanyak 10 kg per KPM, juga menjadi peredam fluktuasi harga. Total target salur bantuan pangan sebesar 33,2 juta keluarga penerima manfaat telah diberikan kepada Bulog.

“Selain menjadi bantalan ekonomi, bantuan pangan juga membantu menjaga daya beli masyarakat dan memudahkan akses konsumsi pangan,” jelas Andriko.

Stok CBP Naik, Pemerintah Leluasa Intervensi

Kepala Bapanas, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menyampaikan bahwa stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) nasional kembali mencapai rekor baru. Total stok CBP per 14 April mencapai 4,75 juta ton, memungkinkan pemerintah lebih fleksibel dalam menggelontorkan beras untuk program intervensi.

“Hari ini, stok Bulog mencapai 4,7 juta ton. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya sejak Indonesia merdeka,” ungkap Amran.

Realisasi salur bantuan pangan per 15 April 2026 mencapai 87,4 juta kg beras dan 17,5 juta liter minyak goreng. Proses distribusi saat ini berlangsung di 34 provinsi, sementara 4 provinsi—Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Tengah—masih dalam proses penyaluran.