Kebijakan Baru: Selat Hormuz Memanas, Ini Rekam Jejak Krisis Harga Minyak Dunia
Gejolak di Selat Hormuz, Momen Sejarah Krisis Harga Minyak Dunia
Permasalahan geopolitik di Selat Hormuz kembali menghiasi berita utama, menjadi penyebab utama ketidakstabilan harga minyak global. Wilayah strategis ini menjadi titik perhatian karena ancaman gangguan transportasi energi yang bisa memicu kenaikan tajam harga. Komoditas minyak mentah masih rentan terhadap peristiwa di luar faktor ekonomi, seperti konflik atau perubahan kebijakan.
Krisis Harga Minyak di Berbagai Masa
Sejarah mencatat bahwa fluktuasi harga minyak sering kali dipengaruhi oleh kejadian besar. Mulai dari embargo Arab di tahun 1970-an, Perang Teluk, Resesi Besar 2008, hingga krisis global 2020.
Investopedia melaporkan bahwa data Macrotrends LLC menunjukkan, meskipun produsen minyak berusaha menjaga stabilitas, harga West Texas Intermediate (WTI) tetap rentan volatilitas.
Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) didirikan pada 1960 untuk menyatukan kebijakan antarnegara anggota. Tujuannya adalah menjamin harga yang adil bagi produsen dengan mengatur volume produksi sesuai permintaan global. Namun, dalam dekade pertama, OPEC belum sepenuhnya menunjukkan pengaruhnya sebagai kartel penentu harga.
Dalam masa itu, pasar minyak masih didominasi perusahaan AS yang didukung cadangan domestik. Harga minyak stabil hingga 1970-an. Perubahan mulai terjadi ketika faktor geopolitik ikut memengaruhi. Pada 1973, negara-negara Arab menghentikan ekspor ke AS sebagai respons atas dukungan AS terhadap Israel dalam Perang Yom Kippur. Kebijakan ini membuat harga minyak melonjak dari 25,34 dolar AS menjadi 68 dolar AS per barel pada awal 1974.
Gejolak semakin memuncak saat Revolusi Iran pecah pada 1979. Jatuhnya kekuasaan Shah Iran dan munculnya kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini menyebabkan produksi minyak Iran turun drastis. Lonjakan harga mencapai lebih dari 150 dolar AS per barel di April 1980, meningkat dari 68 dolar AS sebelumnya. Pada 1981, Presiden Ronald Reagan menghapus kontrol harga dan alokasi minyak AS, sehingga harga minyak turun hingga 30 dolar AS per barel.
Kenaikan kembali terjadi saat Irak menyerang Kuwait pada 1990. Peristiwa ini mendorong harga minyak melompat ke 90 dolar AS, sebelum akhirnya kembali menurun setelah koalisi AS memenangkan perang. Memasuki 2008, pasar minyak dihantam masalah produksi global, termasuk sengketa nasionalisasi aset di Venezuela, gangguan ekspor Irak, dan aksi mogok kerja di Nigeria. Harga minyak yang sempat mencapai 144 dolar AS di akhir 2007, melonjak ke 200 dolar AS per barel.
Kenaikan ini tidak bertahan lama. Resesi ekonomi dan krisis keuangan global pada 2009 menurunkan harga ke kisaran 60 dolar AS. Di dekade terakhir, “Revolusi Shale” di AS mengubah dinamika pasar. Teknologi fracking memicu peningkatan produksi hingga 57 persen pada 2020, menjadikan AS sebagai produsen utama. Dampaknya, harga minyak yang sempat di level 106 dolar AS pada 2010, turun ke sekitar 63 dolar AS per barel di Januari 2020.
Di 2026, krisis kembali terjadi. Perdagangan Senin (9/3/2026) melaporkan Brent crude naik hampir 24 persen ke 114,74 dolar AS, sementara Nymex light sweet melesat lebih dari 26 persen menjadi 114,78 dolar AS. Analis sebelumnya memperkirakan harga akan menyentuh 100 dolar AS, tetapi kenaikan tajam terjadi dalam satu menit saja di awal perdagangan Asia.
Kondisi ini dipicu eskalasi konflik antara AS-Israel melawan Iran, mengancam distribusi energi di Selat Hormuz. Meski pekan lalu pasar relatif tenang, risiko penahanan jutaan barel minyak dan LNG tetap ada.
Adnan Mazarei dari Peterson Institute menyatakan lonjakan harga terjadi karena penghentian produksi di Selat Hormuz berlanjut hingga akhir Maret.
