Program Amal
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Menko AHY: Indonesia harus jadi kekuatan menengah yang berpengaruh

Published 16-10-2026 · Updated 16-10-2026 · By Fajar Utami - programamal.com

Foto : Fajar Utami - programamal.com

AHY Dorong Indonesia Tampil sebagai Kekuatan Menengah Berpengaruh

Programamal.com – Indonesia memiliki modal besar untuk mengambil peran yang lebih kuat dalam dinamika global, mulai dari sumber daya alam, jumlah penduduk, letak geografis, hingga pengalaman diplomasi. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menekankan bahwa seluruh modal tersebut perlu diarahkan agar Indonesia berkembang sebagai kekuatan menengah yang berpengaruh dalam geopolitik internasional.

Pesan itu disampaikan AHY saat membuka Konvensi Nasional XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) 2026 di President University, Kota Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, Selasa (13/10). Kehadiran Indonesia di berbagai forum dunia dinilai semakin diperhatikan dan dibutuhkan dalam pembicaraan mengenai persoalan lintas negara.

Konvensi yang berlangsung pada 12–15 Oktober itu mengangkat tema “Melampaui Fragmentasi: Konstelasi Kuasa, Inovasi, dan Tata Kelola Global Masa Depan”. Sekitar 200 peserta dari unsur akademisi, mahasiswa, serta media mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi forum ilmiah, pidato utama, dan agenda organisasi. Beijing Language and Culture University (BLCU) juga terlibat sebagai penyelenggara.

Dunia yang Terhubung, tetapi Terpecah

Dalam pemaparannya, AHY menggambarkan situasi internasional saat ini sebagai paradoks global. Konektivitas antarnegara terus meningkat melalui perdagangan, komunikasi, teknologi, dan pertukaran informasi. Namun, pada saat bersamaan, polarisasi kepentingan serta perpecahan di antara negara-negara juga terasa semakin kuat.

“Kalau kita mengikuti pemberitaan sehari-hari dan kita juga merasakan langsung di kehidupan kita, ini terasa betul bahwa dunia semakin borderless, semakin terhubung satu sama lain, tapi ironisnya di sana-sini kita merasakan terjadinya fragmentasi,” tutur AHY.

Perkembangan teknologi yang cepat seharusnya dapat memperluas kesempatan kerja sama. Kenyataannya, kebutuhan untuk berkolaborasi justru berjalan beriringan dengan melemahnya kepercayaan terhadap lembaga internasional. Mencapai kesepakatan bersama antarbangsa pun semakin sulit, terutama ketika dunia membutuhkan kepemimpinan global dalam menghadapi tantangan bersama.

Keadaan itu membuat banyak negara semakin menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama. AHY memandang orientasi tersebut wajar karena negara dibentuk untuk melindungi rakyat dan kepentingannya. Akan tetapi, pendekatan yang terlalu ekstrem berpotensi membuat kerja sama global semakin tersendat.

“Memang inilah sejatinya negara itu dibangun, pertama dan utama adalah untuk negaranya, untuk rakyatnya dulu. Tapi dalam takaran yang ekstrem, maka ini akan menghadirkan tantangan bahkan permasalahan baru di dunia saat ini,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa dunia dapat kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan masalah bersama apabila tiap negara hanya bergerak sendiri. Persoalan seperti keamanan, perubahan iklim, stabilitas ekonomi, dan pembangunan tidak mudah diselesaikan oleh satu negara tanpa hubungan yang saling mendukung.

Kemandirian di Tengah Ketidakpastian

AHY juga mengaitkan kondisi tersebut dengan gagasan Thucydides: the strong do what they can, the weak suffer what they must. Dalam lingkungan global yang penuh ketidakpastian, negara didorong untuk memperkuat daya tahan dan kapasitasnya agar tidak berada dalam posisi rentan.

“Artinya ketika national interest first dan dikaitkan dengan semangat ini, maka tidak ada pilihan atau sedikit pilihan bagi negara-negara selain memperkuat dirinya sendiri. Karena tidak mau menjadi korban, menjadi the weak yang suffering di dunia yang penuh ketidakpastian,” imbuhnya.

Bagi Indonesia, penguatan nasional tidak hanya berkaitan dengan pertahanan atau ekonomi. Kualitas pembangunan di dalam negeri, kesiapan sumber daya manusia, ketahanan infrastruktur, serta kemampuan menghadirkan kebijakan yang bekerja bagi masyarakat menjadi fondasi bagi pengaruh Indonesia di luar negeri.

Dalam konteks itulah posisi Indonesia sebagai negara besar di kawasan menjadi penting. Indonesia memiliki ruang untuk menjembatani kepentingan yang beragam, membangun kemitraan dengan banyak pihak, dan tetap menjaga kebebasan dalam menentukan arah kebijakan luar negerinya.

Diplomasi Bebas Aktif sebagai Dasar Peran Global

AHY menegaskan bahwa Indonesia memiliki pengalaman panjang menjalankan diplomasi bebas aktif. Prinsip tersebut terlihat melalui keterlibatan pemimpin dan diplomat Indonesia dalam berbagai forum multilateral maupun internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, BRICS, G20, Organisasi Kerja Sama Islam, ASEAN, dan World Economic Forum.

“Foreign policy kita bebas aktif, tentu kita sudah sangat menyadari betapa pentingnya bebas aktif ini, ditunjukkan dengan hadirnya pemimpin kita dan para diplomat kita di berbagai forum multinasional, multilateral,” katanya.

Peran internasional Indonesia, lanjutnya, perlu berpegang pada empat arah utama: menjaga kedaulatan negara, memperluas jaringan kemitraan, memperbesar pengaruh di tingkat global, dan menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. Diplomasi bukan sekadar kehadiran dalam pertemuan internasional, melainkan sarana untuk memperjuangkan kepentingan nasional secara konkret.

Konsep kekuatan menengah berpengaruh menempatkan Indonesia bukan sebagai pihak yang harus mengikuti arus persaingan kekuatan besar. Indonesia dapat memiliki posisi sendiri melalui kerja sama, konsistensi diplomatik, kemampuan membangun kepercayaan, serta kapasitas menjawab kebutuhan domestik.

Pengaruh Global Berawal dari Rumah Sendiri

AHY menutup arahannya dengan menekankan bahwa kekuatan diplomasi harus bertumpu pada kondisi dalam negeri yang sehat. Kemampuan memproyeksikan pengaruh ke luar akan lebih kuat apabila persoalan domestik dapat ditangani dengan kebijakan yang efektif.

“Jadi sebelum kita memproyeksikan diri kita ke luar, sebelum kita ingin menghadirkan policy atau foreign policy dan diplomasi yang efektif, terlebih dahulu selesaikan masalah rumah tangga kita,” tuturnya.

Pesan tersebut sejalan dengan semboyan komunitas hubungan internasional, foreign policy begins at home, everything begins at home. Artinya, keberhasilan diplomasi Indonesia di panggung dunia berkaitan erat dengan kemampuan negara menyelesaikan agenda pembangunan dan kebutuhan masyarakat di dalam negeri.

Ketua Umum AIHII Agus Haryanto turut menggambarkan besarnya ekosistem pendidikan hubungan internasional di Indonesia. Saat ini terdapat 77 program studi hubungan internasional dengan sekitar 37.000 hingga 40.000 mahasiswa aktif. AIHII juga menaungi 729 dosen dengan keahlian beragam, dari pertahanan dan keamanan hingga politik serta iklim. Keahlian para dosen itu dapat ditelusuri melalui kode batang pada kartu anggota, sehingga pencarian bidang kepakaran menjadi lebih mudah.

Dengan basis akademik yang luas, diplomasi yang aktif, dan kebutuhan untuk memperkuat fondasi nasional, Indonesia memiliki peluang untuk mempertegas perannya sebagai kekuatan menengah yang didengar. Tantangannya terletak pada kemampuan menerjemahkan potensi tersebut menjadi kebijakan, kemitraan, dan hasil yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Menko AHY?

Menko AHY is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menko AHY matter?

Menko AHY matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.