Official Announcement: CFA jatuhkan sanksi seumur hidup kepada 17 orang atas pengaturan skor

CFA Berikan Sanksi Seumur Hidup kepada 17 Orang atas Kasus Korupsi Sepak Bola

Official Announcement – Beijing, Rabu (21/5) – Asosiasi Sepak Bola Tiongkok (CFA) mengumumkan gelombang sanksi ketiga dalam rangkaian penyelidikan korupsi di sepak bola nasional. Penyelidikan ini terkait dengan pengaturan skor, perjudian, dan pelanggaran disiplin industri yang menghancurkan integritas kompetisi. Dalam pengumuman terbaru, CFA memberikan larangan seumur hidup terhadap 17 individu dan menambahkan hukuman berupa pengurangan enam poin kepada klub Meizhou Hakka. Penyelidikan ini menjadi langkah tegas untuk memperkuat pengawasan terhadap praktik tidak wajar dalam olahraga yang paling populer di Tiongkok.

Pengumuman dari CFA menyebutkan bahwa 17 orang yang divonis bersalah oleh pengadilan Tiongkok dilarang melakukan segala aktivitas terkait sepak bola seumur hidup. Sementara itu, 48 praktisi sepak bola lainnya menerima hukuman larangan selama maksimal lima tahun karena melanggar disiplin industri secara serius. Sanksi ini diberikan berdasarkan kriteria seperti sifat pelanggaran, jumlah dana yang terlibat, frekuensi kecurangan, dan tingkat niat jahat para pelaku. Dengan demikian, CFA menunjukkan komitmen untuk memerangi segala bentuk praktik korupsi di sepak bola nasional.

Meizhou Hakka, tim yang berlaga di Liga Tiongkok Kasta Dua (China League One), menjadi salah satu klub yang dikenai sanksi tambahan. Selain pengurangan enam poin, klub ini juga didenda 800.000 yuan, setara dengan sekitar 117.600 dolar AS atau Rp2.598 juta. “Berdasarkan putusan pengadilan pidana yang baru diterima, Meizhou Hakka FC terbukti melanggar regulasi dan disiplin industri secara signifikan,” jelas CFA dalam pernyataan resmi.

“Berdasarkan berkas putusan pengadilan pidana yang baru diterima, Meizhou Hakka FC diketahui terlibat dalam pelanggaran regulasi dan disiplin serius lainnya,” urai CFA dalam sebuah pernyataan.

Di antara individu yang menerima hukuman seumur hidup adalah mantan manajer umum Shenzhen FC Ding Yong, mantan manajer Inner Mongolia Zhongyou FC Shi Yaoyong, dan mantan manajer Meizhou Hakka FC Cao Yang. Mereka dianggap sebagai pelaku utama dalam praktik penyelundupan skor yang merusak kredibilitas kompetisi. Sementara itu, praktisi sepak bola yang dikenai larangan hingga lima tahun mencakup mantan manajer Guangzhou Evergrande FC Gao Han, mantan wakil ketua Guangzhou R&F FC Huang Shenghua, mantan manajer Shandong Taishan FC Sun Hua, mantan manajer Beijing Guoan FC Li Ming, mantan manajer Zhejiang Greentown FC Jiao Fengbo, serta mantan manajer Henan Jianye FC Guo Guangqi.

Sanksi ini merupakan bagian dari upaya CFA untuk mengoreksi keadaan yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, asosiasi tersebut telah menerapkan dua gelombang sanksi disipliner pada bulan September 2024 dan Januari 2026, dengan lebih dari 100 orang menerima hukuman seumur hidup dan 10 klub lainnya didenda. Penyelidikan terus berlanjut untuk memastikan tidak ada praktik kecurangan yang tersisa dalam sistem sepak bola Tiongkok. Dengan jumlah sanksi yang terus meningkat, CFA menginginkan untuk menegaskan bahwa segala bentuk kejahatan dalam olahraga ini akan dihukum secara tegas.

Penyelidikan terhadap kasus korupsi di sepak bola Tiongkok telah mengungkap berbagai praktik memalukan, termasuk manipulasi hasil pertandingan dan transaksi uang yang tidak transparan. Sejumlah besar dana diinvestasikan dalam skema penipuan tersebut, sehingga dampaknya terasa sangat besar. CFA menyatakan bahwa sanksi ini tidak hanya berupa hukuman materi, tetapi juga sebagai pesan untuk mengingatkan seluruh pihak terkait sepak bola untuk menjaga integritas dan kejujuran dalam setiap pertandingan.

Kasus-kasus yang terungkap menunjukkan bahwa korupsi di sepak bola Tiongkok telah mencapai tingkat yang sangat serius. Beberapa klub besar terlibat dalam skandal ini, termasuk Guangzhou Evergrande FC, yang dikenal sebagai salah satu tim paling kuat di negara ini. Pengurangan poin dan denda besar menjadi konsekuensi langsung atas pelanggaran yang dilakukan oleh klub tersebut. Selain itu, CFA juga memberikan peringatan tegas kepada para manajer dan pengurus klub agar tidak mengulangi kesalahan serupa.

Para individu yang dihukum seumur hidup dianggap sebagai pihak yang secara langsung bertanggung jawab atas kecurangan. Mereka tidak hanya memanipulasi skor, tetapi juga mengikuti skema yang melibatkan perjudian dan transaksi yang tidak wajar. Faktor-faktor seperti frekuensi pelanggaran dan tingkat niat jahat menjadi dasar untuk memberikan hukuman yang lebih berat. Dengan langkah ini, CFA mencoba mengakhiri dominasi praktik korupsi yang telah merusak nama baik sepak bola Tiongkok selama bertahun-tahun.

Pengumuman CFA menggambarkan komitmen untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap olahraga ini. Sanksi seumur hidup kepada 17 orang dan hukuman berat terhadap klub-klub tertentu menunjukkan bahwa tidak ada ruang bagi kecurangan di tingkat puncak. Sebagai langkah preventif, CFA mendesak seluruh klub, asosiasi anggota, dan praktisi sepak bola untuk “mengambil pelajaran berharga dari kasus-kasus tersebut, tetap waspada setiap saat, menghormati aturan dan prinsip-prinsip dasar, serta secara tegas memberantas pengaturan skor, perjudian, dan transaksi tidak wajar lainnya yang merusak kompetisi yang adil.”

Sanksi ketiga ini juga menjadi penutup dari serangkaian penyelidikan yang telah dilakukan. CFA telah menetapkan tiga gelombang hukuman disipliner, dengan jumlah individu dan klub yang terkena sanksi terus bertambah. Dengan adanya pengurangan poin dan denda, harapan besar diusahakan agar klub-klub yang terlibat dalam kecurangan dapat berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan serupa. Dampak dari sanksi ini juga diperkirakan akan berdampak signifikan pada prestasi dan kinerja tim-tim di liga.

Sebagai bentuk respons terhadap korupsi, CFA telah menyusun kebijakan lebih ketat untuk mengawasi aktivitas klub dan praktisi sepak bola. Peraturan baru ini mencakup penegakan hukum yang lebih cepat, pemeriksaan menyeluruh terhadap keuangan klub, dan penambahan sanksi untuk pelanggaran berulang. Dengan adanya mekanisme pengawasan yang lebih baik, CFA mengharapkan peningkatan transparansi dalam kompetisi dan pemulihan reputasi sepak bola Tiongkok secara keseluruhan.

Kasus yang menyeret 17 orang dan 48 praktisi lainnya menjadi contoh nyata bahwa korupsi tidak hanya terjadi di tingkat pemerintah, tetapi juga melibatkan berbagai pihak dalam sepak bola. Sanksi seumur hidup diberikan sebagai bentuk hukuman paling keras, sementara pengurangan poin dan denda menjadi konsekuensi materi yang diharapkan dapat mengurangi peluang klub melakukan kecurangan di masa depan. CFA menegaskan bahwa penegakan hukum harus berkelanjutan untuk memastikan sepak bola Tiongkok kembali ke jalur yang adil dan kompetitif.