Topics Covered: Kompetisi pidato Bahasa Mandarin promosikan pertukaran budaya RI-China
Kompetisi Pidato Bahasa Mandarin: Promosikan Pertukaran Budaya RI-China
Topics Covered – Kompetisi pidato Bahasa Mandarin Chinese Bridge tahun ini diadakan di Jakarta, 12-14 Juni, dan menarik partisipasi lebih dari 80 siswa dari berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Acara ini tidak hanya menguji kemampuan berbicara dalam bahasa Mandarin, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkenalkan dan membangun kesadaran budaya Tiongkok di kalangan generasi muda Indonesia. Melalui pidato dan ekspresi seni, peserta berkesempatan menyampaikan pesan yang menggambarkan kerja sama antarbangsa.
Langkah untuk Memperkuat Hubungan RI-China
Kerja sama pendidikan dan kebudayaan antara Indonesia dan Tiongkok terus berkembang, seperti diungkapkan Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong. Ia menegaskan bahwa minat masyarakat Indonesia terhadap bahasa Mandarin semakin meningkat, terlihat dari jumlah peserta ujian kemahiran Bahasa Mandarin (HSK) yang mencapai lebih dari 30 ribu orang pada tahun lalu. Acara ini merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral melalui pertukaran budaya.
Pertukaran Budaya dan Pengembangan Bahasa Mandarin
Kompetisi Chinese Bridge telah menjadi tradisi rutin selama lebih dari dua dekade, dengan jumlah peserta tahun ini mencapai hampir 200 siswa dari berbagai wilayah Indonesia. Namun, hanya 84 peserta yang berhasil melangkah ke babak final, terbagi dalam kategori SD, Sekolah Menengah (SMA), dan perguruan tinggi. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong kolaborasi strategis di berbagai bidang, seperti keterlibatan perusahaan Tiongkok dalam merekrut tenaga kerja Indonesia.
“Saya harap para peserta menjadikan Chinese Bridge sebagai awal untuk memperkuat cinta terhadap Bahasa Mandarin serta mempertahankan ketulusan dalam memahami budaya Tiongkok. Bahasa bisa menjadi jembatan, sementara budaya menjadi media penghubung dalam menyuarakan persahabatan antarbangsa,” kata Wang Lutong saat upacara pembukaan di Jakarta, Minggu (14/6).
Pelatihan dan Keterlibatan Generasi Muda
Ketua Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Mandarin (BKPBM) Jakarta, Arifin Zain, menyebutkan bahwa partisipasi dalam kompetisi ini memperkaya perspektif internasional para peserta. Ia menekankan bahwa kemampuan berbicara dan pemahaman budaya Tiongkok adalah dua aspek penting dalam pertukaran budaya. Dengan pelatihan dan program pendidikan berbahasa Mandarin yang terus berkembang, lebih banyak generasi muda Indonesia terlibat dalam memperdalam hubungan dengan Tiongkok.
Kompetisi ini tidak hanya membuka peluang ekspresi seni, tetapi juga menjadi sarana memperkaya pengetahuan tentang budaya Tiongkok. Peserta diberikan kesempatan untuk menampilkan tarian tradisional, kesenian bercerita, dan pertunjukan permainan Diabolo, yang menunjukkan perbedaan dan kesamaan budaya antara kedua negara. Kecakapan berbahasa Mandarin dan pemahaman budaya Tiongkok, menurut Arifin Zain, menjadi keunggulan Indonesia dalam kompetisi internasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, pertukaran budaya RI-China semakin dinamis. Program pendidikan dan pelatihan Bahasa Mandarin telah menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas, termasuk lulusan SD hingga perguruan tinggi. Selain itu, kemampuan berbahasa Mandarin dianggap sebagai nilai tambah dalam dunia kerja, yang mendorong minat bisnis Indonesia terhadap tenaga kerja yang menguasai dua aspek ini.
Contoh nyata dari keberhasilan pertukaran budaya adalah partisipasi peserta dari berbagai tingkatan. Di kategori SD, mereka menampilkan pertunjukan sederhana namun kreatif, sementara di SMA peserta memperlihatkan keterampilan dalam seni drama dan musik. Di tingkat perguruan tinggi, peserta menunjukkan pengetahuan yang lebih mendalam tentang budaya Tiongkok, termasuk pengaplikasian nilai-nilai tradisional dalam pidato mereka. Semua ini memperkuat konsep pertukaran budaya yang ditekankan dalam Topics Covered.
Pemenang utama dari kategori perguruan tinggi, Hezel, mahasiswi kelima tahun di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia (STBA-PIA), Kota Medan, membagikan pesan tentang semangat kekeluargaan antarbangsa. Ia menyampaikan bahwa perbedaan bahasa dan jarak geografis tidak menghalangi hubungan harmonis. Hezel menegaskan bahwa kegiatan seperti ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran budaya melalui Topics Covered.
