Hasil Pertemuan: Kepri-SAAS Pahang jajaki kerja sama pengembangan warisan budaya Melayu

Kepri-SAAS Pahang jajaki kerja sama pengembangan warisan budaya Melayu

Tanjungpinang menjadi lokasi pertemuan antara Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) dan Universiti Al Quran Al-Sultan Abdullah Ahmad Syah Pahang (SAAS Pahang), Malaysia, dalam upaya menjajaki kerja sama pengembangan warisan budaya Melayu. Pertemuan ini berlangsung di Gedung Daerah Kota Tanjungpinang, Sabtu lalu.

Penyengat sebagai pusat sastra Melayu

Gubernur Kepri Ansar Ahmad menekankan bahwa Pulau Penyengat berperan penting sebagai tempat lahirnya karya-karya besar sastra Melayu. “Pulau Penyengat menjadi simbol utama dalam perjalanan sastra Melayu, termasuk karya klasik seperti Gurindam Dua Belas yang ditulis oleh Raja Ali Haji,” jelasnya dalam sambutan kepada rombongan dari SAAS Pahang.

“Pulau Penyengat merupakan pusat lahirnya karya-karya besar sastra Melayu, termasuk Gurindam Dua Belas yang ditulis oleh Raja Ali Haji,” kata Gubernur Ansar saat menjamu rombongan SAAS Pahang di Gedung Daerah, Kota Tanjungpinang, Sabtu.

Ansar juga menyampaikan rencana pembangunan monumen Bahasa Indonesia di Pulau Penyengat sebagai pengingat sejarah peran pulau tersebut dalam proses pembentukan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Ia menilai kolaborasi antar negara dalam bidang budaya dan pendidikan adalah langkah penting untuk menjaga relevansi warisan Melayu di tengah perubahan zaman.

Manuskrip sejarah dan kekayaan budaya

Naib Canselor SAAS Pahang, Mohd Zawavi Bin Zainal Abidin, mengungkapkan kesan mendalam setelah berkunjung langsung ke Pulau Penyengat. “Kunjungan ini memberikan wawasan mendalam mengenai manuskrip yang disimpan di sana, yang masih terawat dengan baik hingga kini,” katanya. Menurutnya, manuskrip-manuskrip dari Kerajaan Riau-Lingga adalah aset budaya berharga, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi komunitas Melayu secara global.

“Kami sangat terkesima dengan manuskrip yang ada di Pulau Penyengat. Ini adalah khazanah yang luar biasa dan harus terus dijaga serta dikembangkan,” ujarnya.

Moht Zawavi berharap kerja sama antara Pemprov Kepri dan SAAS Pahang bisa berkelanjutan, terutama dalam pelestarian manuskrip, penguatan identitas budaya Melayu, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ia juga menyebutkan kesiapan pihaknya untuk bekerja sama dengan Yayasan Kebudayaan Inderasakti dalam studi dan pengembangan dokumen sejarah.

Di sisi lain, kerja sama ini diharapkan mencakup pula pengembangan tulisan Jawi, yang dikenal di Kepri sebagai Arab Melayu. Menurutnya, tulisan ini merupakan ikon budaya yang menghubungkan identitas Melayu di Indonesia dan Malaysia. “Kami turut mengundang putra-putri Kepri untuk melanjutkan studi di SAAS Pahang,” tambahnya.