Program Amal
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kemenkes: AED di ruang publik tingkatkan peluang hidup ke 66,5 persen

Published 20-10-2026 · Updated 20-10-2026 · By Budi Wijaya - programamal.com

Foto : Budi Wijaya - programamal.com

AED di Ruang Publik Dinilai Krusial untuk Menolong Korban Henti Jantung Mendadak

Programamal.com – Ketersediaan Automated External Defibrillator (AED) di area publik menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesempatan hidup bagi orang yang mengalami henti jantung mendadak. Kementerian Kesehatan menyebut penggunaan alat tersebut, disertai pertolongan yang cepat, dapat menaikkan peluang keselamatan dari 43 persen menjadi 66,5 persen.

Urgensi penempatan AED semakin besar karena penyakit tidak menular masih menjadi penyebab utama kematian. Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Then Suyanti menyampaikan bahwa kelompok penyakit tersebut menyumbang 64 persen dari seluruh kematian. Dalam kondisi darurat jantung, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan hasil pertolongan.

“Bahwa penyediaan alat pacu atau AED di ruang publik ini sangat penting. Kenapa? Karena kita lihat penyakit tidak menular menyumbang 64 persen dari total kematian,” kata Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Then Suyanti di Jakarta, Selasa.

Setiap Menit Sangat Berarti

Henti jantung mendadak merupakan keadaan ketika jantung berhenti memompa darah secara efektif. Situasi ini membutuhkan respons segera, sebab aliran darah dan oksigen menuju otak serta organ vital dapat terganggu dalam waktu singkat. Pertolongan awal, pemanggilan layanan darurat, resusitasi jantung paru, dan penggunaan AED dapat menjadi rangkaian tindakan yang sangat menentukan.

Data dan literatur yang disampaikan Kementerian Kesehatan menunjukkan peluang hidup dapat turun 7 hingga 10 persen pada setiap menit ketika korban belum memperoleh pertolongan dan defibrilasi. Hal ini menjelaskan mengapa akses terhadap AED tidak seharusnya hanya tersedia di fasilitas kesehatan.

Perangkat AED dirancang untuk membantu memberikan kejut listrik pada kondisi irama jantung tertentu. Pada henti jantung yang terjadi di luar rumah sakit, sekitar 70 hingga 80 persen kasus pada tahap awal berupa fibrilasi ventrikel. Gangguan irama tersebut dapat ditangani melalui kejut listrik menggunakan AED.

Kehadiran alat di lokasi yang mudah dijangkau dapat memperpendek waktu sebelum tindakan defibrilasi dilakukan. Bandara, pelabuhan, kawasan perkantoran, tempat olahraga, pusat kegiatan masyarakat, serta lokasi pelayanan publik merupakan area yang relevan untuk memperkuat kesiapsiagaan ini.

261 Unit Sudah Siap Digunakan

Saat ini, terdapat 261 AED yang siap digunakan di sejumlah ruang publik. Penempatannya mencakup antara lain bandara, pelabuhan, dan pos lintas batas negara. Kementerian Kesehatan juga telah menyusun pedoman nasional penanggulangan krisis kesehatan yang memuat tata cara pemakaian AED.

Pedoman tersebut penting agar alat tidak sekadar tersedia secara fisik, tetapi dapat digunakan saat keadaan darurat benar-benar terjadi. Keberadaan perangkat perlu dibarengi dengan penanda lokasi yang jelas, akses yang tidak terhambat, pemeriksaan kesiapan alat, serta tenaga atau masyarakat yang memahami langkah dasar penggunaannya.

Then Suyanti menekankan perlunya penguatan aturan di tingkat daerah agar penyediaan AED dapat berkembang lebih luas.

“Regulasi Kemenkes sudah ada, perlu turunan regulasi daerah, ya. Kita minta pemda mewajibkan AED di ruang publik,” katanya.

Landasan penguatan penyediaan AED telah tercermin dalam sejumlah ketentuan, termasuk Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 47 Tahun 2018 tentang Pelayanan Kegawatdaruratan. Langkah ini juga selaras dengan rekomendasi International Liaison Committee on Resuscitation atau ILCOR pada 2025.

Beban Penyakit Jantung Tetap Besar

Penguatan respons terhadap kedaruratan jantung juga berkaitan dengan besarnya dampak penyakit jantung terhadap masyarakat dan pembiayaan kesehatan. Pada 2022, tercatat 15,5 juta kasus penyakit jantung. Pada tahun yang sama, nilai klaim yang dibayarkan BPJS Kesehatan untuk penyakit jantung mencapai sekitar Rp17,35 triliun.

Angka tersebut menggambarkan bahwa pencegahan, deteksi risiko, dan kesiapan menghadapi keadaan darurat perlu berjalan beriringan. AED bukan pengganti pemeriksaan kesehatan atau upaya mencegah penyakit jantung, tetapi menjadi perangkat penting ketika kondisi mengancam nyawa muncul tanpa diduga.

Bagi masyarakat, pemahaman mengenai lokasi AED terdekat dan cara meminta bantuan dapat menambah kesiapan saat menghadapi insiden darurat. Petugas di ruang publik juga memiliki peran besar karena sering kali menjadi pihak yang pertama mengetahui adanya korban. Pelatihan penggunaan AED bagi petugas dan masyarakat umum terus didorong agar pertolongan tidak tertunda karena keraguan atau kurangnya informasi.

Kolaborasi Lintas Sektor Didorong

Kementerian Kesehatan mendorong integrasi data lokasi AED dengan layanan kegawatdaruratan. Dengan demikian, informasi tentang perangkat yang tersedia dapat lebih mudah dimanfaatkan saat ada panggilan pertolongan. Integrasi ini berpotensi membantu petugas maupun warga menemukan akses AED yang paling dekat di lokasi kejadian.

Upaya perluasan juga dilakukan melalui kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan untuk menyiapkan AED di lingkungan kerja. Keterlibatan berbagai mitra dinilai diperlukan karena kebutuhan perlindungan terhadap henti jantung mendadak tidak terbatas pada satu jenis lokasi atau kelompok masyarakat.

Kesadaran publik mengenai pentingnya AED turut menjadi perhatian dalam webinar Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia bertajuk “Negara Hadir Melindungi Masyarakat/Konsumen Dalam Hal Penyediaan AED di Ruang Publik”. Kegiatan itu diarahkan untuk memperkuat kolaborasi sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kebutuhan alat penyelamat jiwa tersebut.

Dengan regulasi, penempatan alat, pelatihan, dan koordinasi layanan darurat yang semakin baik, ruang publik dapat menjadi lebih siap menghadapi kejadian henti jantung mendadak. Dalam keadaan seperti ini, tindakan yang dilakukan dalam hitungan menit dapat memberi perbedaan besar bagi keselamatan korban.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Kemenkes?

Kemenkes is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kemenkes matter?

Kemenkes matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.