Key Strategy: Dirut ANTARA bekali Imigrasi strategi komunikasi di era disrupsi
Dirut ANTARA Bekali Imigrasi Strategi Komunikasi di Era Disrupsi
Key Strategy – Jakarta – Perum Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA, dalam perannya sebagai penyedia informasi resmi, menyelenggarakan kegiatan Kopdar Humas Imigrasi 2026 di Cibubur, Jakarta Timur. Acara tersebut menjadi platform untuk memperkenalkan pendekatan baru dalam komunikasi kepada jajaran Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi. Direktur Utama ANTARA, Benny Siga Butarbutar, mengatakan bahwa transformasi strategi komunikasi merupakan langkah penting dalam membangun kepercayaan publik dan memperkuat kredibilitas lembaga.
Kepemimpinan dan Respons Terhadap Perubahan
Benny menekankan bahwa peran Direktur Utama dalam memandu kebijakan komunikasi tidak hanya berupa penyampaian informasi, tetapi juga sebagai penggerak perubahan mindset. “Pemerintah saat ini sedang berjuang memperkuat kepercayaan masyarakat yang terus berubah. Itulah pelayanan, komunikasi, dan kemudahan yang harus diberikan dengan cepat,” ujarnya. Dalam era disrupsi, ia menjelaskan bahwa adaptasi menjadi kunci untuk menjaga relevansi institusi.
“Ketangguhan lembaga harus dibangun melalui komunikasi yang transformatif, bukan sekadar reaktif,” kata Benny.
Menurut Benny, Ditjen Imigrasi tidak hanya menjadi bagian dari sistem pemerintahan, tetapi juga penghubung antara masyarakat Indonesia dan warga negara asing (WNA). Karena itu, ia memandang bahwa keberhasilan komunikasi lembaga tersebut akan berdampak langsung pada citra nasional. “Strategi komunikasi ini seperti salah satu bentuk nation branding yang harus didorong terus, sehingga Imigrasi bisa menjadi contoh bagaimana lembaga publik mampu beradaptasi di tengah dinamika global,” tambahnya.
Perubahan Paradigma dari VUCA ke BANI
Benny menjelaskan bahwa konsep VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang dulu digunakan untuk menggambarkan tantangan global kini telah berubah menjadi BANI (Brittle, Anxious, Nonlinear, Incomprehensible). Perpindahan ini mencerminkan munculnya paradigma baru yang lebih ekstrem dalam menyikapi perubahan. “Di era VUCA, dunia dianggap sebagai tempat yang cepat berubah dan penuh ketidakjelasan, tetapi di BANI, perubahan terasa lebih rapuh dan sulit dipahami,” ujarnya.
Dalam era BANI, Benny mengungkapkan bahwa masyarakat kini lebih rentan terhadap tekanan dan kecemasan. “Perubahan yang terjadi tidak lagi linear, melainkan tiba-tiba dan tidak terduga. Karena itu, komunikasi harus menjadi alat yang mampu mengurangi ketidakpastian dan membangun kepercayaan,” katanya. Ia menambahkan bahwa lembaga publik, termasuk Imigrasi, perlu meningkatkan kemampuan untuk merespons dengan cepat dan efektif.
“Ketangguhan tidak hanya tentang siap menghadapi tantangan, tetapi juga tentang mampu mengubah ketidakpastian menjadi peluang,” ujar Benny.
Transformasi dari Pendekatan Birokratis ke Respons Publik
Menurut Benny, transformasi komunikasi di era disrupsi membutuhkan pergeseran dari pendekatan birokratis ke respons publik. “Humas di sini bukan lagi sekadar penyampai informasi, tetapi menjadi pusat komando narasi yang mampu membaca situasi dan mengelola ekspektasi masyarakat,” katanya. Ia menyoroti pentingnya membangun kultur komunikasi yang lebih empatik, mampu memahami dinamika media, serta menerapkan teknik social listening.
Strategi komunikasi yang ditekankan Benny meliputi perubahan cara berpikir dan tindak lanjut dari instansi. “Dengan membangun kepercayaan melalui pelayanan yang beragam, lembaga bisa menunjukkan kinerja yang tidak hanya efisien, tetapi juga efektif,” ujarnya. Dalam konteks ini, ia memaparkan bahwa humas perlu berperan sebagai pelaku inisiatif, bukan hanya penunggu instruksi.
“Humas harus proaktif, mampu merespons kebutuhan publik dengan fleksibilitas dan kecepatan,” katanya.
Pemimpinan sebagai Pendorong Komunikasi Efektif
Benny juga menggarisbawahi bahwa komunikasi kepemimpinan adalah bagian penting dari strategi keseluruhan. “Pemimpin perlu membentuk makna, membangun kepercayaan, dan menggerakkan tindakan yang sesuai dengan visi lembaga,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan yang baik akan memungkinkan kebijakan komunikasi menjadi lebih dinamis dan adaptif.
Salah satu contoh dari transformasi ini adalah penyesuaian cara penyampaian informasi kepada publik. Benny menegaskan bahwa lembaga seperti Imigrasi perlu menggabungkan kecermatan dalam menyampaikan pesan dengan kecepatan respons terhadap isu yang muncul. “Komunikasi kepemimpinan harus mampu mengubah kesan birokratik menjadi kepercayaan yang kuat,” katanya.
“Kepemimpinan yang transformatif adalah jembatan antara visi strategis dan kenyataan di lapangan,” ujar Benny.
Kopdar Humas Imigrasi sebagai Platform Komunikasi
Kopdar Humas Imigrasi 2026 tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan strategi baru, tetapi juga memperkuat jaringan antarpejabat. Acara tahunan yang diinisiasi oleh Fungsi Komunikasi Publik Ditjen Imigrasi ini dihadiri oleh ratusan kepala kantor imigrasi dan rumah detensi dari seluruh Indonesia. Benny menilai bahwa kegiatan seperti ini berperan penting dalam menciptakan kesinambungan dan koordinasi dalam penerapan komunikasi strategis.
Menurut Benny, berkomunikasi secara efektif di era disrupsi membutuhkan kolaborasi antarlembaga dan masyarakat. “Kita harus memahami bahwa komunikasi adalah keterlibatan, bukan sekadar pengumuman,” katanya. Ia menegaskan bahwa strategi komunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang lebih baik antara lembaga dan publik, termasuk dalam hal pelayanan keimigrasian.
“Transformasi komunikasi adalah bagian dari transformasi nasional yang lebih luas,” ujarnya.
Di samping itu, Benny juga memperkenalkan peran digital dalam memperkuat keberhasilan komunikasi. “Media sosial dan teknologi informasi menjadi alat penting untuk menyampaikan pesan secara cepat dan transparan,” katanya. Ia menekankan bahwa lembaga publik perlu memanfaatkan platform digital untuk membangun narasi yang kuat dan menarik perhatian masyarakat.
Transformasi ini tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang mindset. Benny mengatakan bahwa tim humas harus mampu mengubah cara kerja dari sekadar menyelesaikan tugas menjadi menciptakan nilai tambah. “Strategi komunikasi transformatif akan mengubah diri kita menjadi lembaga yang lebih terbuka dan responsif,” ujarnya.
Kopdar Humas Im
