Program Amal
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Merawat ruang untuk kota masa depan

Published 14-10-2026 · Updated 14-10-2026 · By Rachmat Razi - programamal.com

Foto : Rachmat Razi - programamal.com

Surabaya Menata Fondasi Kota yang Tangguh hingga 2045

Programamal.com – Surabaya sedang menempatkan air bersih, pengelolaan sampah, dan ruang hijau sebagai bagian penting dalam arah pembangunan jangka panjangnya. Ketiga hal tersebut menjadi titik bahasan saat Pemerintah Kota Surabaya menerima delegasi Centre for Liveable Cities (CLC) Singapura dalam diskusi mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah atau RTRW Kota Surabaya 2025–2045 pada Senin, 12 Oktober 2026.

Pertemuan ini memperlihatkan bahwa kualitas kota tidak dapat dinilai hanya dari pertumbuhan bangunan, lebar jalan, atau ramai tidaknya aktivitas ekonomi. Kota yang benar-benar nyaman juga harus mampu menjamin pelayanan dasar, menjaga lingkungan, serta menyediakan ruang bersama yang dapat diakses warga dari berbagai latar belakang.

Melalui dialog tersebut, Surabaya dan delegasi CLC Singapura membuka ruang pertukaran pengalaman terkait pengolahan air baku, tata kelola sampah, serta penyediaan ruang terbuka hijau. Pembahasan itu penting karena ketiganya saling memengaruhi dalam kehidupan sehari-hari penduduk perkotaan.

RTRW sebagai arah pembangunan dua dekade

RTRW Surabaya untuk periode 2025–2045 telah memiliki landasan hukum melalui Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 3 Tahun 2025. Dokumen ini berfungsi sebagai kompas pembangunan wilayah selama 20 tahun, dengan sasaran menjadikan Surabaya kota yang kompak, inklusif, serta berperan sebagai pusat permukiman, perdagangan, dan jasa bertaraf internasional.

Target tersebut membawa konsekuensi besar. Pembangunan kawasan baru tidak cukup hanya menyediakan lahan dan akses jalan. Setiap rencana perlu disertai perhitungan mengenai ketersediaan air, kebutuhan pengolahan limbah, kapasitas transportasi, ruang publik, hingga dampaknya bagi lingkungan sekitar.

Perencanaan hingga 2045 memberi kesempatan bagi kota untuk tidak terjebak pada respons sesaat. Pertumbuhan penduduk, dinamika ekonomi, risiko perubahan iklim, dan keterbatasan ruang merupakan faktor yang harus dipertimbangkan secara bersamaan. Kebijakan tata ruang perlu melihat hubungan antarsektor, bukan menangani persoalan secara terpisah-pisah.

Contohnya, pembangunan hunian yang terus bertambah akan meningkatkan kebutuhan pasokan air bersih. Kegiatan usaha yang berkembang tanpa dukungan sistem limbah yang memadai dapat menambah tekanan terhadap lingkungan. Di sisi lain, pembangunan yang mengurangi vegetasi dan area resapan berpotensi memperbesar risiko genangan sekaligus memperparah suhu panas di kawasan padat.

Tiga sektor yang menentukan kualitas hidup

Air baku menjadi unsur awal dalam rantai penyediaan air bersih bagi masyarakat. Ketersediaan dan pengelolaannya harus dijaga agar kebutuhan warga dapat dilayani secara berkelanjutan. Dalam kota yang terus berkembang, persoalan air bukan hanya tentang jaringan distribusi, tetapi juga perlindungan sumber daya dan kemampuan sistem menghadapi kebutuhan di masa depan.

Pengelolaan sampah juga memerlukan perhatian yang sama seriusnya. Sampah yang tidak tertangani dengan baik dapat memperburuk kualitas lingkungan, mengganggu saluran air, serta menambah beban bagi kawasan permukiman. Karena itu, tata kelola sampah harus diposisikan sebagai pelayanan publik yang terhubung dengan pola konsumsi, aktivitas ekonomi, fasilitas pengolahan, dan kesadaran warga.

Sementara itu, ruang terbuka hijau bukan sekadar pelengkap lanskap kota. Area hijau berperan dalam menyerap air hujan, membantu mengurangi panas, serta memberi ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas. Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, perlindungan terhadap ruang hijau membutuhkan ketegasan agar kebutuhan pembangunan tidak menghapus fungsi ekologis yang penting.

Ketertarikan CLC Singapura pada tiga sektor tersebut menunjukkan adanya peluang pembelajaran dua arah. Surabaya dapat mengambil manfaat dari pengalaman kota lain dalam merancang kebijakan perkotaan, sementara praktik yang berkembang di Surabaya juga dapat menjadi bahan pertukaran pengetahuan. Nilai utama dari kerja sama semacam ini terletak pada kemampuan menerapkan gagasan yang relevan dengan kondisi lokal.

Menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan daya dukung kota

CLC mengembangkan kerangka kota layak huni yang mempertemukan tiga tujuan: daya saing ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kualitas hidup. Ketiga tujuan itu tidak seharusnya dipandang sebagai pilihan yang saling bertentangan. Pertumbuhan ekonomi dapat berjalan bersama perlindungan lingkungan apabila perencanaan dilakukan sejak awal dan pelaksanaannya dijaga secara konsisten.

Kawasan yang dipersiapkan sebagai pusat perdagangan, misalnya, perlu dilengkapi dengan perencanaan kebutuhan air, pengelolaan air limbah, konektivitas transportasi, dan ruang publik. Jika unsur-unsur tersebut diabaikan, aktivitas ekonomi yang semula diharapkan membawa manfaat dapat memunculkan persoalan baru yang biayanya lebih besar untuk diselesaikan pada masa mendatang.

Di sinilah RTRW perlu bekerja lebih jauh daripada sekadar menunjukkan pembagian peruntukan lahan pada peta. Tata ruang harus mampu mempertemukan rencana pembangunan dengan kapasitas infrastruktur, kemampuan lingkungan dalam menopang aktivitas manusia, serta kebutuhan nyata yang dihadapi warga.

Pendekatan terpadu juga membantu pemerintah melihat dampak dari setiap keputusan. Perubahan penggunaan lahan, misalnya, tidak hanya memengaruhi nilai ekonomi suatu kawasan. Keputusan tersebut dapat berdampak pada aliran air, kebutuhan jaringan utilitas, akses pelayanan, kondisi lalu lintas, dan kenyamanan permukiman di sekitarnya.

Konsistensi pelaksanaan menjadi ujian utama

Tantangan terbesar dalam rencana jangka panjang terletak pada kesinambungan pelaksanaannya. RTRW berlaku melampaui masa jabatan kepemimpinan, sedangkan prioritas anggaran, tekanan pembangunan, dan kebutuhan politik dapat berubah dari waktu ke waktu. Tanpa pengawasan yang kuat, arah pembangunan yang telah dirumuskan berisiko berhenti sebagai dokumen administratif.

Surabaya membutuhkan evaluasi berkala yang terbuka, terukur, dan dapat dipahami publik. Setiap penyesuaian pemanfaatan ruang perlu diuji terhadap tujuan RTRW, dampak lingkungannya, serta pengaruhnya pada pelayanan dasar. Cara ini penting agar investasi dan pembangunan tetap memberi nilai tambah tanpa mengorbankan kepentingan bersama.

Kota masa depan tidak dibangun hanya melalui proyek fisik yang terlihat. Ia tumbuh melalui keputusan yang menjaga sumber daya, memperkuat layanan dasar, dan memberi ruang hidup yang layak bagi warganya. Diskusi Surabaya dengan CLC Singapura menjadi awal yang bernilai, tetapi manfaat sesungguhnya akan ditentukan oleh kebijakan, pembiayaan, pengendalian ruang, dan pelaksanaan yang konsisten hingga 2045.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Merawat ruang untuk kota masa depan?

Merawat ruang untuk kota masa depan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Merawat ruang untuk kota masa depan matter?

Merawat ruang untuk kota masa depan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.