Program Amal
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Museum NTB boyong artefak budaya ke sekolah yang jauh dari museum

Published 18-10-2026 · Updated 18-10-2026 · By Indah Santoso - programamal.com

Foto : Indah Santoso - programamal.com

Museum NTB Hadirkan Artefak Budaya ke SDN Batu Pedang

Programamal.com – Siswa SDN Batu Pedang di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, mendapat kesempatan melihat koleksi budaya dan sejarah dari dekat tanpa harus menempuh perjalanan ke Museum Negeri Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini menjadi bagian dari program Museum Masuk Sekolah, yang dirancang untuk memperluas jangkauan pendidikan kebudayaan bagi sekolah-sekolah dengan lokasi jauh dari museum.

Pada 14 Oktober 2026, Museum NTB membawa empat kotak yang memuat 15 koleksi artefak ke sekolah tersebut. Kehadiran benda-benda bersejarah itu memberi pengalaman belajar langsung bagi anak-anak, terutama untuk mengenal warisan leluhur yang tumbuh dalam lingkungan budaya mereka sendiri.

Pembelajaran budaya dari benda bersejarah

Program kunjungan ini tidak hanya mengajak siswa melihat koleksi yang dipamerkan. Mereka juga mengikuti sesi mendongeng mengenai seorang anak dengan rasa ingin tahu besar terhadap kebudayaan. Pendekatan tersebut membantu siswa memahami bahwa artefak bukan sekadar benda lama, melainkan bagian dari cerita kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Pamong Budaya Madya Museum NTB, Gunarti, menyampaikan bahwa kegiatan ini ditujukan bagi sekolah yang sulit menjangkau museum secara langsung. Pengenalan terhadap koleksi sejarah sejak usia sekolah diharapkan dapat memperkuat pemahaman anak-anak atas peninggalan nenek moyang serta identitas budayanya.

“Kami ingin para siswa sekolah yang kami datangi bisa mengenal benda-benda milik nenek moyang mereka.”

Melalui kegiatan di sekolah, materi budaya menjadi lebih dekat dengan keseharian siswa. Anak-anak dapat mengamati bentuk, fungsi, dan keberadaan berbagai benda yang sebelumnya mungkin hanya mereka dengar melalui cerita keluarga atau pelajaran di kelas. Pengalaman seperti ini juga membuka ruang bagi mereka untuk bertanya dan membangun rasa ingin tahu terhadap sejarah daerah.

Keris hingga alat pertanian tradisional

Lima belas artefak yang diperkenalkan di SDN Batu Pedang mencerminkan ragam kehidupan masyarakat masa lampau. Koleksinya mencakup keris Lombok, takepan nabi haparas, serut kecil, pengikel, puset atau bor, tempat perhiasan, gelang tangan, teken ima, kawari, anjuk, sangket pondongan, alat pemanen padi ani-ani, serta pengepak padi.

Keragaman benda tersebut memperlihatkan bahwa warisan budaya tidak hanya berkaitan dengan perlengkapan upacara atau perhiasan. Ada pula alat yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari, termasuk kegiatan pertanian. Dengan melihatnya secara langsung, siswa dapat mengenali hubungan antara benda budaya, keterampilan tradisional, dan cara masyarakat memenuhi kebutuhan hidup pada masanya.

Artefak seperti tempat perhiasan dan gelang tangan memperkenalkan unsur estetika dalam kehidupan masyarakat terdahulu. Sementara itu, ani-ani dan pengepak padi memberi gambaran mengenai peralatan yang digunakan dalam proses panen. Keris Lombok juga menjadi salah satu koleksi yang menarik perhatian karena dikenal sebagai benda bersejarah yang memiliki nilai budaya kuat.

Menjangkau siswa di kawasan Gunung Piring

Kepala SDN Batu Pedang, Murtam, menyambut baik pelaksanaan Museum Masuk Sekolah. Ia melihat kegiatan tersebut sebagai kesempatan penting bagi murid-murid untuk mendekatkan diri pada sejarah dan kebudayaan lokal, khususnya bagi anak-anak yang tinggal di kawasan Gunung Piring.

Banyak siswa belum memiliki pemahaman yang cukup mengenai warisan budaya yang berada di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Kehadiran koleksi museum di sekolah membuat pembelajaran tidak berhenti pada penjelasan lisan atau gambar dalam buku, tetapi berkembang menjadi perjumpaan langsung dengan objek bersejarah.

“Anak-anak kami akhirnya bisa memahami secara langsung sejarah dan budaya,” kata Murtam.

Kunjungan seperti ini memberi arti penting bagi pendidikan budaya di tingkat sekolah dasar. Pada usia tersebut, siswa sedang membangun cara pandang terhadap lingkungan, keluarga, dan daerah asalnya. Ketika sejarah lokal diperkenalkan melalui pengalaman yang nyata, anak-anak memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami bahwa kebudayaan adalah bagian dari kehidupan mereka, bukan sesuatu yang jauh atau asing.

Program ini juga memperlihatkan peran museum sebagai ruang belajar yang dapat bergerak melampaui bangunannya. Bagi sekolah yang berada jauh dari pusat koleksi, layanan kunjungan menjadi jembatan agar akses terhadap pengetahuan sejarah dan budaya tetap tersedia. Kehadiran petugas museum beserta artefak yang dibawa membantu menghadirkan suasana belajar yang lebih hidup.

Antusiasme siswa terhadap cerita koleksi

Annisa Ramadani, siswi kelas VI SDN Batu Pedang, mengaku gembira dapat menyaksikan koleksi dan mengikuti dongeng yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. Cerita di balik masing-masing artefak membuat benda-benda yang dipamerkan lebih mudah dipahami oleh para siswa.

Bagi anak-anak sekolah dasar, narasi yang menyertai koleksi penting untuk menjelaskan alasan sebuah benda digunakan, siapa yang memakainya, serta nilai budaya yang melekat padanya. Dengan cara itu, artefak dapat dipahami sebagai penanda perjalanan masyarakat dan sumber pembelajaran mengenai jati diri.

“Kami senang ada benda-benda bersejarah, seperti perhiasan, tempat perhiasan, dan juga keris,” pungkas Annisa.

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah dan budaya dapat menarik perhatian siswa ketika disampaikan secara dekat, visual, dan interaktif. Museum Masuk Sekolah memberi ruang bagi anak-anak untuk mengenal kekayaan budaya Nusa Tenggara Barat melalui koleksi nyata, cerita, serta dialog yang sesuai dengan lingkungan belajar mereka.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Museum NTB boyong artefak budaya ke sekolah?

Museum NTB boyong artefak budaya ke sekolah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Museum NTB boyong artefak budaya ke sekolah matter?

Museum NTB boyong artefak budaya ke sekolah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.