Pembahasan Penting: “Healing” hingga “flexing”: Bahasa gaul yang jadi industri

Healing” hingga “Flexing”: Bahasa Gaul yang Jadi Industri

Di Surabaya, dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik Indonesia kini dihiasi oleh munculnya sejumlah istilah baru, seperti healing, flexing, gas, hingga anjay. Frasa-frafa ini tidak hanya beredar di platform digital, tetapi juga menyebar ke dalam interaksi sehari-hari, lalu membentuk cara pandangan generasi muda terhadap diri sendiri serta lingkungan sekitarnya.

Perkembangan fenomena ini sering dianggap sebagai bentuk kreativitas linguistik. Namun, jika dilihat dari perspektif Analisis Wacana Kritis, khususnya pendekatan Norman Fairclough, bahasa tersebut tidak pernah bersifat netral. Ia menjadi alat praktik sosial yang penuh dengan kepentingan tertentu.

Menurut pendekatan Norman Fairclough, bahasa beroperasi dalam tiga dimensi: teks, praktik wacana, serta praktik sosial. Pada tingkat teks, kata ‘healing’ misalnya, mengalami pergeseran makna dari ‘penyembuhan’ yang medis menjadi ‘rekreasi’ atau ‘cara melarikan diri dari tekanan rutinitas’. Perubahan ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya mencerminkan pergeseran perspektif: dari proses pemulihan yang mendalam menjadi aktivitas konsumsi yang instan.

Analisis tidak berhenti pada perubahan makna. Pada tingkat praktik wacana, penting untuk memahami bagaimana istilah tersebut dihidupkan dan diperkuat. Kata ‘healing’ menjadi populer bukan secara kebetulan. Ia didukung oleh pengaruh pemimpin opini, konten media sosial, serta industri pariwisata yang secara konsisten mengaitkan kebahagiaan dengan perjalanan, kafe estetik, serta pengalaman visual yang bisa dibagikan.

Dalam konteks ini, bahasa tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga ikut mengonstruksinya. Di tingkat praktik sosial, istilah ‘healing’ masuk ke dalam logika kapitalisme gaya hidup. Kesehatan mental, yang sebelumnya dianggap sebagai isu kompleks, kini disederhanakan menjadi bentuk konsumsi. Solusi kebutuhan sehari-hari direduksi menjadi pembelian pengalaman, sehingga peduli pada diri sendiri tidak lagi sekadar kebutuhan, tetapi diubah menjadi produk yang bisa diperdagangkan.

Fenomena serupa juga terjadi pada istilah ‘flexing’. Secara teks, kata ini mengacu pada tindakan memamerkan prestasi atau kekayaan. Pada tingkat praktik wacana, istilah ini sering muncul dalam konteks kritik terhadap gaya hidup yang mengunggulkan keberhasilan sebagai standar pengakuan. Di tingkat praktik sosial, ‘flexing’ berperan dalam membentuk norma baru: bahwa pencapaian harus ditampilkan agar diakui.

Kritik terhadap ‘flexing’ justru memperkuat kehadiran praktik tersebut, menunjukkan bahwa baik pelaku maupun pengkritik sama-sama terjebak dalam sistem yang sama. Bahasa gaul ini bukan sekadar isapan jempol, melainkan bagian dari industri yang mengubah cara kita memahami diri dan dunia di sekitar.