Yang Dibahas: Humaniora sepekan, skema “war ticket” haji hingga WFH untuk dosen
Rangkuman Berita Humaniora Pekan Ini
Dalam beberapa hari terakhir, berbagai isu humaniora yang menarik memperoleh perhatian publik. Berikut penjelasan singkat mengenai peristiwa-peristiwa utama selama masa ini.
Edukasi: Pemimpin Kampus Diminta Terapkan WFH
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mendorong seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk memberikan kesempatan kerja dari rumah (WFH) kepada dosen dan tenaga kependidikan (tendik) selama satu hari per minggu. Ini sebagai upaya mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan mengurangi beban kerja di lingkungan akademik.
“Kita mendorong kampus melakukan pemilihan serta evaluasi untuk tendik. Hal ini bisa dilakukan melalui sistem satu hari WFH dalam satu minggu,” tutur Brian Yuliarto kepada wartawan di Jakarta.
Haji 2026: Biaya Turun Meski Harga Avtur Naik
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa biaya haji 2026 untuk calon jamaah Indonesia akan mengalami penurunan sebesar Rp2 juta, meskipun harga bahan bakar avtur mengalami kenaikan. Ia memastikan kebijakan ini akan dijalankan meski situasi di Arab Saudi belum sepenuhnya stabil.
“Kita pastikan biaya haji 2026 tetap turun Rp2 juta, meskipun harga avtur naik,” kata Prabowo saat Rapat Kerja Pemerintah di Istana, Jakarta.
Skema “War Ticket” Haji Dijelaskan oleh Wamenhaj
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menjelaskan mekanisme skema “war ticket” dalam penyelenggaraan ibadah haji. Meski saat ini masih dalam tahap diskusi, ia mengungkapkan kemungkinan skema ini akan diterapkan jika Arab Saudi membuka kuota besar.
“Kalau Saudi membuka kuotanya dalam jumlah besar, kita akan buka dua skema. Pertama, skema antrean yang sudah ada. Kedua, skema war ticket yang disebut oleh Pak Menteri,” ujar Dahnil.
Gunung Semeru Erupsi, Awan Panas Meluncur 2,5 Kilometer
Dalam peristiwa geologis terkini, Gunung Semeru di perbatasan Lumajang dan Malang mengalami erupsi Sabtu malam, disertai guguran awan panas hingga 2,5 kilometer ke arah tenggara. Petugas Pos Pengamatan mencatat tinggi kolom letusan sekitar 1.500 meter di atas puncak, atau 5.176 meter di atas permukaan laut.
“Erupsi Gunung Semeru terjadi pada pukul 20.47 WIB dengan kolom letusan mencapai kira-kira 1.500 meter di atas puncak,” ungkap Sigit Rian Alfian, petugas pengamatan di Lumajang.
Objek Misterius di Langit Lampung Diungkap sebagai Sampah Antariksa
Profesor Astronomi dari BRIN, Thomas Djamaluddin, mengklaim benda langit yang viral di wilayah Lampung dan Banten pada 4 April lalu adalah sampah antariksa. Masyarakat melihat objek terang yang meluncur dan terpecah menjadi bagian-bagian kecil.
“Objek terang yang melintasi langit Lampung adalah pecahan sampah antariksa,” jelas Thomas Djamaluddin saat dikonfirmasi di Jakarta.
