Kebijakan Baru: AS ancam sanksi sekunder bagi pendukung Iran

AS Ancam Sanksi Sekunder bagi Pendukung Iran

Departemen Keuangan AS, pada Selasa, mengirimkan peringatan menyeluruh kepada lembaga keuangan global bahwa mereka siap menerapkan sanksi sekunder terhadap entitas yang terus mendukung tindakan Iran, saat negosiasi langsung antara kedua negara stagnan.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, lembaga tersebut menegaskan, “Lembaga keuangan harus menyadari bahwa Departemen Keuangan AS akan memanfaatkan seluruh instrumen dan wewenang yang ada serta siap mengenakan sanksi sekunder kepada lembaga keuangan asing yang masih berpegang pada dukungan terhadap operasi Iran.”

Dalam upaya mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Iran, Departemen Keuangan juga menyatakan siap mengambil langkah agresif dengan intensitas tekanan maksimal.

Peringatan tersebut dikeluarkan tepat sebelum pengecualian sementara untuk penjualan minyak Iran yang tertahan di laut akan berakhir dalam beberapa hari mendatang. Pengecualian tersebut berlaku selama 30 hari, dimulai dari 20 Maret, yang memungkinkan penjualan sekitar 140 juta barel minyak.

Kebijakan ini bertujuan menekan kenaikan tajam harga energi global yang dipicu oleh perang antara AS dan Israel terhadap Iran. Tindakan militer AS-Israel, serta respons Iran yang menutup Selat Hormuz dan menargetkan infrastruktur energi di wilayah sekutu Arab Teluk, memicu kenaikan harga minyak secara signifikan.

Perundingan langsung intensif antara AS dan Iran yang berlangsung maraton berakhir pada akhir pekan lalu tanpa kesepakatan untuk mengakhiri konflik secara permanen. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan akan dilanjutkan di Pakistan dalam dua hari ke depan, meskipun belum ada pengumuman resmi.