Pembahasan Penting: AS-Iran bahas gencatan senjata 45 hari dalam dua tahap
AS-Iran bahas gencatan senjata 45 hari dalam dua tahap
Dalam upaya mencari penyelesaian, AS, Iran, serta mediator regional tengah menyusun detail gencatan senjata 45 hari sebagai langkah awal dari rencana dua tahap untuk mengakhiri konflik. Menurut laporan Axios, yang mengutip sumber terkait pada Minggu, pemerintahan Trump telah mengirimkan sejumlah tawaran kepada Iran dalam beberapa hari terakhir. Namun, pejabat Iran belum mengakui salah satu dari penawaran tersebut hingga saat ini.
Sumber menyatakan peluang mencapai kesepakatan antara kedua pihak dalam 48 jam ke depan masih rendah. Trump sebelumnya menunjukkan ancaman terhadap pembangkit listrik dan jembatan, serta meminta pembukaan Selat Hormuz. Dalam rangkaian pembicaraan, sumber Axios menyebutkan bahwa isu pembukaan penuh Selat Hormuz dan kepemilikan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi oleh Iran hanya dapat diselesaikan dalam kerangka kesepakatan akhir.
“AS sedang berada dalam negosiasi mendalam dengan Iran, dan kesepakatan bisa tercapai paling cepat pada Selasa (7/4),” kata Trump kepada media pada Minggu (5/4).
Tahap pertama rencana dua tahap ini melibatkan gencatan senjata selama 45 hari, di mana syarat perdamaian final akan dinegosiasikan. Jika perlu, gencatan senjata bisa diperpanjang untuk memberi waktu tambahan kepada para pihak dalam perundingan.
Tahap kedua akan menandatangani kesepakatan resmi untuk mengakhiri perang. Mediator sedang berupaya membangun kepercayaan antara AS dan Iran dengan mengeksplorasi langkah yang mungkin diambil Washington untuk memenuhi tuntutan Teheran.
Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya dialog langsung, tetapi mengakui telah menerima pesan melalui perantara mengenai niat AS memulai komunikasi demi meredam konflik. Pada 28 Februari, AS dan Israel meluncurkan serangan gabungan terhadap target Iran, termasuk Teheran. Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
