Kelola sampah pakai biopori jumbo – warga Pondok Kelapa dipuji Gubernur DKI
Warga Pondok Kelapa Diberi Apresiasi oleh Gubernur DKI Jakarta atas Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis Biopori Jumbo
Kelola sampah pakai biopori jumbo – Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti upaya masyarakat RW 014, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, yang berhasil menerapkan sistem pengelolaan sampah organik dengan metode Biopori Jumbo. Menurut Pramono, inisiatif ini memberikan contoh nyata pengelolaan sampah berkelanjutan di tingkat lingkungan. “Gerakan ini membuktikan bahwa solusi lingkungan dapat dimulai dari tingkat komunitas,” ujarnya saat meninjau langsung implementasi Biopori Jumbo di wilayah tersebut, Minggu. Dalam pengunjungan tersebut, ia menegaskan bahwa keberhasilan warga Pondok Kelapa menjadi referensi bagi upaya mengurangi sampah di Jakarta.
Pengelolaan Sampah Berbasis Biopori Jumbo
Biopori Jumbo, yang diterapkan oleh warga RW 014, merupakan metode pengolahan sampah organik yang bertujuan mempercepat dekomposisi bahan-bahan dapur dan makanan menjadi kompos. Metode ini mengandalkan penggunaan lubang-lubang besar di tanah yang dibuat secara sistematis. Dalam RW 014 Pondok Kelapa, warga telah menyediakan 150 titik Biopori Jumbo, yang dapat melayani sekitar 300 rumah tangga. Selama ini, sampah organik kerap dibawa ke tempat pengolahan akhir, tetapi dengan Biopori Jumbo, sampah dapat diubah langsung di lingkungan sekitar. Pramono menilai pola ini mengurangi beban di fasilitas pengolahan sampah di hilir.
“Pengelolaan sampah dari sumber sejak awal akan mengurangi tekanan pada sistem pembuangan di tingkat paling akhir. Ini bisa menjadi role model bagi masyarakat lain,” kata Pramono.
Menurut gubernur, inisiatif yang digagas warga Pondok Kelapa sejalan dengan instruksi pemerintah nomor 5 tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Instruksi ini diharapkan mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam mengelola limbah. Pramono juga menyebut bahwa langkah warga Pondok Kelapa menunjukkan komitmen untuk mencapai tujuan Jakarta zero waste. “Saya sengaja ingin menunjukkan bahwa penanganan sampah oleh Pemerintah DKI Jakarta tidak dilakukan setengah hati,” tambahnya.
Peran Komunitas dalam Pemilahan Sampah
Gerakan pengelolaan sampah di RW 014 Pondok Kelapa dimulai sebelum adanya instruksi gubernur. Warga setempat secara mandiri mengembangkan metode ini, dengan membagi tugas pemilahan sampah menjadi organik dan anorganik. Sampah organik, seperti sisa makanan dan daun, diolah melalui Biopori Jumbo, sementara sampah anorganik dikelola dengan cara lain. Pramono menyoroti bagaimana warga mengadaptasi metode ini sesuai dengan kondisi lokal, sehingga tidak hanya efektif tetapi juga mudah diakses oleh seluruh anggota komunitas.
Kolaborasi antara warga dan sektor swasta juga menjadi bagian penting dari strategi pengelolaan sampah. Pramono menyatakan bahwa keberhasilan pengurangan sampah tidak hanya bergantung pada masyarakat, tetapi juga peran perusahaan dalam menangani sampah anorganik dan bahan berbahaya beracun (B3). “Kerja sama antara warga dan swasta menjadi kunci pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ujarnya. Dengan pendekatan ini, sampah yang tidak bisa diolah oleh warga tetap dikelola secara profesional.
“Pemilahan sampah tidak boleh berhenti pada jenis organik saja. Sampah anorganik dan B3 juga memerlukan penanganan khusus, yang bisa diakui oleh sektor swasta,” kata Pramono.
Di sisi lain, Pramono menggarisbawahi bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu. Ia menekankan bahwa sampah organik, yang selama ini menjadi beban utama pengangkutan dan pembuangan, perlu diolah sejak di sumber. Dengan Biopori Jumbo, sampah organik tidak lagi menjadi bahan buangan, tetapi menjadi sumber energi baru dalam bentuk kompos. “Ini adalah langkah signifikan untuk mengurangi volume sampah yang diangkut ke tempat pengolahan,” ujarnya.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Kebiasaan pengelolaan sampah di RW 014 Pondok Kelapa masih dalam tahap awal, tetapi Pramono yakin langkah ini bisa diikuti oleh wilayah lain. Ia menyoroti bahwa masyarakat perlu dilibatkan dalam setiap tahap penanganan sampah, mulai dari pemilahan hingga pengolahan. “Jika ini terus berjalan, Jakarta bisa menjadi contoh kota yang berhasil mengelola sampah secara mandiri,” ujarnya.
Menurut Pramono, Biopori Jumbo tidak hanya efektif dalam mengurangi volume sampah organik, tetapi juga meningkatkan kesadaran lingkungan warga. Ia berharap inisiatif ini dapat dikembangkan lebih luas, sehingga lebih banyak RW di Jakarta menerapkan metode serupa. “Kita perlu bergerak bersama untuk mencapai zero waste, dan RW 014 Pondok Kelapa adalah salah satu langkah penting,” pungkasnya. Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi masyarakat, ia optimis Jakarta bisa mencapai target pengelolaan sampah yang berkelanjutan dalam jangka pendek.
Kolaborasi dengan Sektor Swasta
Kolaborasi antara warga dan sektor swasta dianggap sangat penting untuk menangani sampah anorganik dan B3. Pramono mencontohkan bahwa perusahaan bisa membantu mengumpulkan dan memproses sampah jenis ini, serta memberikan solusi pengolahan yang lebih efisien. Ia menyebut bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa dicapai tanpa partisipasi aktif dari semua pihak. “Sampah B3 memerlukan penanganan khusus, dan swasta bisa menjadi mitra strategis dalam hal ini,” katanya.
Pengelolaan sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam dapat dilakukan melalui metode daur ulang atau pembakaran. Sementara itu, sampah B3, yang lebih berisiko lingkungan, perlu diproses dengan teknologi khusus untuk menghindari pencemaran. Pramono mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin antara warga Pondok Kelapa dengan perusahaan di sekitar wilayah tersebut. “Ini adalah bentuk kolaborasi yang menginspir
