Lifestyle

Sejarah dan budaya perkuat daya tarik wisata gastronomi Indonesia

WhatsApp-Image-2026-10-03-at-13.11.04
Foto : Budi Wijaya - programamal.com
Daftar Isi
  1. Sejarah Kuliner Jadi Kunci Penguatan Wisata Gastronomi Indonesia
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Sejarah Kuliner Jadi Kunci Penguatan Wisata Gastronomi Indonesia

Programamal.com – Wisata gastronomi di Indonesia semakin dipandang sebagai pengalaman budaya yang utuh, bukan sekadar kegiatan mencicipi makanan. Rasa, bahan pangan, cara pengolahan, hingga cerita yang menyertai sebuah sajian dapat membentuk daya tarik tersendiri bagi wisatawan sekaligus memperkuat identitas suatu daerah.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 yang berlangsung di DI Yogyakarta pada Jumat (2/10). Forum itu menghadirkan 22 pembicara dari pemerintah, pelaku industri, pegiat seni, dan akademisi untuk membahas peran gastronomi sebagai identitas budaya serta penggerak ekonomi yang berkelanjutan.

Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, menekankan pentingnya narasi dalam setiap produk wisata kuliner. Bagi Yogyakarta, kisah di balik hidangan dapat membantu pengunjung memahami alasan suatu rasa berkembang dan bertahan dari generasi ke generasi.

Manisnya Kuliner Jogja dan Jejak Industri Gula

Salah satu contoh yang dapat menjelaskan hubungan antara makanan dan sejarah ialah kecenderungan rasa manis dalam kuliner Yogyakarta. Karakter tersebut berkaitan dengan masa Sultan Hamengkubuwono VII, ketika terdapat sekitar 19 pabrik gula di wilayah Jogja. Pada masa itu, gula menjadi penanda kemakmuran dan kedudukan sosial di lingkungan keraton, sehingga makanan serta minuman kerap dibuat dengan rasa yang sangat manis.

“Semua produk wisata gastronomi di Jogja harus memiliki latar belakang cerita. Contohnya, mengapa kuliner Jogja cenderung manis? Karena pada masa Sultan Hamengkubuwono VII, terdapat sekitar 19 pabrik gula di Jogja. Gula menjadi simbol status sosial dan kekayaan bagi keraton, sehingga minuman dan makanan saat itu disajikan sangat manis. Jadi, orang tahu rekam sejarahnya; ini yang harus dikemas dengan baik,” kata GKR Bendara.

Kisah seperti itu memberi nilai tambahan bagi pengalaman wisatawan. Mereka tidak hanya mengenali cita rasa sebuah makanan, tetapi juga memahami hubungan antara hidangan tersebut dengan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya pada zamannya. Dokumentasi sejarah yang kuat pun menjadi modal penting bagi pengembangan gastronomi Yogyakarta.

GKR Bendara menilai gastronomi perlu dipahami melalui filosofi dan identitas yang melekat pada setiap sajian. Dua kuliner langka dari Yogyakarta, nasi golong gilig dan dawet sambal, menjadi contoh bagaimana makanan dapat menyimpan cerita yang tidak langsung mudah dipahami oleh orang yang baru mengenalnya.

Dawet sambal, misalnya, memadukan dawet bercita rasa manis dengan sambal pecel dan tahu. Perpaduan tersebut dapat menimbulkan rasa penasaran sekaligus keraguan bagi orang yang belum pernah mencobanya, karena dawet umumnya dibayangkan sebagai minuman manis.

“Karena terkadang orang baru mendengar dawet sambal sudah menolak dulu, karena pikirannya dawet manis kok ada sambalnya. Jadi dawet manis tapi ada sambal pecelnya, jadi ada tahunya tapi ada dawetnya,” ujarnya.

Narasi Budaya Menambah Nilai Hidangan Daerah

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias juga menyoroti perlunya pengemasan gastronomi yang bertumpu pada nilai budaya. Ia mencontohkan rendang, kuliner yang dikenal memiliki karakter rasa khas sekaligus menyimpan makna filosofis. Dalam konteks pariwisata, kekuatan sebuah makanan dapat berkembang ketika cerita, warisan kota, dan pengalaman pengunjung disusun secara saling terhubung.

“Gastronomi harus terus dicatat, diwariskan, dan diintegrasikan dengan penataan kota pusaka serta cerita sejarah agar memberikan nilai tambah yang optimal bagi wisatawan,” ujar Ramlan.

Upaya pencatatan dan pewarisan menjadi penting karena makanan tidak lahir dalam ruang kosong. Resep dapat mencerminkan ketersediaan bahan lokal, kebiasaan keluarga, cara masyarakat merayakan peristiwa tertentu, maupun perjumpaan antarkebudayaan. Ketika unsur-unsur tersebut dijelaskan dengan baik, wisata kuliner dapat memberi pemahaman yang lebih dalam ketimbang sekadar daftar tempat makan.

Keaslian Rasa dan Ikatan Emosional

Chef Fernando Sindu mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia mempunyai kepekaan tinggi terhadap kuliner daerah. Banyak orang membawa memori personal terhadap masakan yang dulu dibuat ibu, nenek, atau anggota keluarga lain. Karena itu, penyajian kembali makanan tradisional memerlukan pemahaman yang kuat terhadap resep dan sumber asalnya.

“Orang Indonesia sangat kritis terhadap makanan lokal karena memiliki kenangan atau ikatan emosional dengan masakan keluarga seperti nenek atau ibu. Jadi penting banget untuk memahami resep dari sumber aslinya di berbagai daerah agar dapat menyajikan makanan yang autentik sekaligus memberikan sedikit sentuhan atau modifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada konsumen,” katanya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa inovasi dalam gastronomi tetap memiliki ruang, tetapi perlu dilakukan dengan tanggung jawab. Penyesuaian dapat diterapkan tanpa menghilangkan karakter utama sajian maupun memutus hubungan makanan tersebut dengan komunitas asalnya. Keaslian bukan hanya soal mengikuti resep secara kaku, melainkan memahami alasan di balik bahan, teknik, dan rasa yang digunakan.

Dokumentasi Visual untuk Merawat Memori Kuliner

Aspek budaya makanan juga dapat disampaikan melalui karya visual. Ilustrator dan pengisah makanan Nugraha Pratama melihat tantangan terbesar bukan hanya menerjemahkan rasa menjadi gambar, tetapi menangkap lapisan sejarah dan budaya yang berada di belakang sebuah hidangan.

“Bagian tersulit bukan menggambarkan rasa, melainkan menangkap budaya di balik makanan tersebut karena memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan mendalam,” ucap dia.

Melalui sketsa, Nugraha berupaya membangun catatan visual tentang gastronomi. Karyanya tidak hanya merekam bentuk sajian, tetapi juga cara manusia menikmati makanan serta berinteraksi dalam kehidupan sosial pada masanya. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa dokumentasi kuliner dapat hadir dalam beragam bentuk, termasuk tulisan, resep, arsip keluarga, cerita lisan, foto, dan ilustrasi.

Pengembangan wisata gastronomi Indonesia pada akhirnya membutuhkan pertemuan antara rasa, sejarah, budaya, dan keberlanjutan sumber pangan lokal. Hidangan yang disajikan kepada wisatawan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sebuah kota atau daerah dengan lebih dekat. Ketika cerita tersebut terjaga, makanan tidak hanya menjadi konsumsi, melainkan warisan hidup yang terus dapat dikenali, dipelajari, dan diwariskan.

Frequently Asked Questions

What is Sejarah dan budaya perkuat daya tarik?

Sejarah dan budaya perkuat daya tarik is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sejarah dan budaya perkuat daya tarik matter?

Sejarah dan budaya perkuat daya tarik matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Budi Wijaya - programamal.com

Budi Wijaya - programamal.com

Budi Wijaya adalah praktisi filantropi digital dengan pengalaman lebih dari 8 tahun dalam pengelolaan kampanye donasi online. Ia telah terlibat dalam berbagai program bantuan sosial, mulai dari distribusi sembako hingga penggalangan dana untuk korban bencana alam di Indonesia.

Keahliannya terletak pada strategi transparansi donasi dan membangun kepercayaan publik melalui laporan yang akuntabel. Di Program Amal, Budi berperan sebagai advisor konten untuk memastikan setiap informasi yang disampaikan sesuai dengan praktik terbaik dalam dunia filantropi.