Sejumlah faktor hingga tanda yang picu batu ginjal

Faktor dan Tanda yang Memicu Penyakit Batu Ginjal

Sejumlah faktor hingga tanda yang picu – Dari Jakarta – Dr. Sarbjit Mohapatra, seorang konsultan urologi di Manipal Hospital, Bhubaneswar, menjelaskan faktor serta gejala yang berpotensi menyebabkan penyakit batu ginjal. Penyakit ini terjadi karena pengendapan mineral keras yang mengkristal di dalam organ, biasanya diakibatkan oleh penggumpulan sisa-sisa mineral dalam tubuh. Menurut Dr. Sarbjit, kondisi dehidrasi menjadi salah satu penyebab utama pembentukan batu ginjal. Ia menjelaskan bahwa ketika tubuh kehilangan cairan melalui keringat dalam jumlah besar, tetapi tidak tergantikan dengan asupan air yang memadai, volume urine akan berkurang. Hal ini menyebabkan konsentrasi mineral dalam urine meningkat, sehingga memudahkan pembentukan batu.

“Akibatnya, mineral pembentuk batu menjadi lebih pekat sehingga lebih mudah membentuk batu ginjal,” kata Dr. Sarbjit seperti dilaporkan Hindustan Times, pada Jumat (26/6) waktu setempat.

Dokter tersebut juga menyoroti bahwa kasus batu ginjal cenderung lebih sering terjadi selama musim panas. Dalam kondisi cuaca panas, manusia kerap mengalami paparan panas yang berlebihan, aktivitas luar ruangan yang intens, konsumsi makanan ringan berbahan garam tinggi, dan kebiasaan menghirup minuman berkafein seperti teh atau kopi tanpa cukup air. “Tundaan akses ke kamar mandi dan kecenderungan mengabaikan gejala seperti nyeri saat buang air kecil awal sering kali memperburuk kondisi,” tambahnya.

Faktor Risiko Utama Batu Ginjal

Selain dehidrasi, beberapa faktor lain yang berkontribusi terhadap risiko terbentuknya batu ginjal meliputi gaya hidup kurang minum air, pola makan tinggi garam, konsumsi protein hewani berlebihan, infeksi saluran kemih (ISK), riwayat keluarga yang memiliki batu ginjal, obesitas, sindrom metabolik, serta sejarah penderita batu ginjal sebelumnya. Selain itu, penggunaan suplemen kalsium atau vitamin C tanpa pengawasan medis, serta kondisi medis seperti asam urat (gout) atau hiperparatiroidisme juga bisa memicu peningkatan risiko.

Dr. Mohapatra menekankan bahwa pencegahan lebih efektif daripada penanganan setelah gejala muncul. Ia menyebutkan bahwa penyakit ini sering berkembang secara diam-diam, sehingga gejala biasanya hanya muncul ketika batu mulai bergerak atau menghalangi aliran urine. Tanda-tanda yang umum ditemui antara lain nyeri di bagian samping tubuh atau punggung, nyeri yang menjalar ke selangkangan, rasa terbakar saat buang air kecil, adanya darah dalam urine, mual atau muntah, frekuensi buang air kecil meningkat, serta demam dan menggigil.

“Konsultasikan dengan ahli urologi jika gejalanya berlanjut, kambuh, atau terkait dengan demam, nyeri, darah dalam urin, atau berkurangnya aliran urin,” kata Dr. Sarbjit.

Beberapa gejala yang lebih halus tetapi tidak boleh diabaikan mencakup demam disertai nyeri, penurunan produksi urine, muntah berlebihan, serta nyeri yang tidak membaik meskipun sudah mengonsumsi obat. Kelompok tertentu memerlukan perhatian lebih, seperti individu yang hanya memiliki satu ginjal, ibu hamil, penderita diabetes, lansia yang mengalami demam, atau orang dengan riwayat batu ginjal berulang.

Langkah Pencegahan dan Perawatan

Dr. Sarbjit memberikan beberapa rekomendasi untuk mengurangi risiko batu ginjal. Ia menekankan bahwa minum air putih cukup sepanjang hari sangat penting. Tidak hanya jumlah air, tetapi juga distribusi waktu konsumsinya yang tepat menjadi kunci. Ia menyarankan pola minum seperti ini: 500 ml pada pagi hari, 500 ml sebelum berangkat ke tempat kerja, 1–1,5 liter selama jam kerja, dan 500–700 ml pada sore hingga malam hari. Jika masih merasa nyaman, tambahkan sedikit air sebelum tidur.

Menurut dokter tersebut, pengurangan konsumsi garam sangat penting. Kandungan garam tinggi dalam makanan bisa meningkatkan kadar kalsium di urine, sehingga memperbesar kemungkinan terbentuknya batu ginjal. Makanan kemasan, keripik, camilan asin, serta makanan cepat saji yang kaya natrium sebaiknya dikurangi. Ia juga mengingatkan bahwa diet rendah kalsium justru bisa meningkatkan penyerapan oksalat dari makanan, yang berisiko membentuk batu kalsium oksalat.

Selain itu, air lemon disarankan karena kandungan sitrat dalamnya bisa membantu mencegah pembentukan batu. Namun, air lemon bukanlah obat yang mampu melarutkan batu secara signifikan. Dr. Mohapatra mengingatkan untuk menghindari penambahan gula berlebihan, karena bisa memicu peningkatan kadar asam urat di tubuh. Konsumsi protein hewani seperti daging merah dan jeroan dalam jumlah berlebihan juga perlu dikontrol, karena berpotensi meningkatkan kadar asam urat pada sebagian orang.

Langkah pencegahan lain adalah menghindari pengobatan sendiri atau bergantung pada pengobatan rumahan. Apabila batu ginjal sudah menghalangi aliran urine, pengobatan rumahan bisa menunda penanganan medis yang diperlukan. Nyeri mungkin menghilang meskipun batu masih ada di dalam tubuh, sehingga pemeriksaan lanjutan seperti pemindaian diperlukan untuk memastikan batu sudah keluar dan pembengkakan pada ginjal telah berkurang.

Dengan memahami faktor penyebab dan gejala yang muncul, serta mengadopsi pola hidup sehat, risiko batu ginjal bisa ditekan. Dr. Sarbjit menggarisbawahi pentingnya kesadaran akan pola konsumsi air dan garam, serta konsultasi profesional bila gejala mengganggu kehidupan sehari-hari.