Pembahasan Penting: Pengerukan Kanal Banjir Barat ditargetkan rampung dalam setahun
Pengerukan Kanal Banjir Barat ditargetkan rampung dalam setahun
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menetapkan target penyelesaian pengerukan sepanjang Kanal Banjir Barat, khususnya di area Pintu Air Manggarai hingga Jalan Kyai Tapa (Roxy) di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ia menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan mengurangi ancaman banjir di kota metropolitan tersebut.
Kami hari ini berada di lokasi yang sangat strategis untuk mengatasi salah satu persoalan banjir di Jakarta. Di sinilah pertemuan Sungai Ciliwung dan Kali Krukut, yang sudah cukup lama tidak dikeruk. Kami akan berkonsentrasi selama satu tahun untuk pengerukan di Kanal Banjir Barat ini, yang merupakan hilir dari Kali Ciliwung dan Kali Krukut,” kata Pramono di Jakarta Pusat, Jumat.
Kanal Banjir Barat memiliki lebar antara 30 hingga 100 meter, dengan rencana total volume pengerukan mencapai 179.269 meter kubik. Proyek ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: Pintu Air Manggarai hingga Stasiun Karet (3.543 meter), Stasiun Karet hingga Pintu Air Karet (686 meter), serta Pintu Air Karet hingga Jalan Kyai Tapa (Roxy) (3.850 meter). Saat ini, fokus pengerukan tertuju pada segmen ketiga, dengan volume target sekitar 165.381 meter kubik.
Hingga Kamis (9/4), progres yang telah dicapai mencapai 1.609 meter kubik. Proses ini melibatkan enam unit mesin berat, termasuk empat ekskavator amfibi besar dan dua ekskavator long arm, serta didukung oleh 30 unit truk pengangkut berkapasitas 5 hingga 8 meter kubik. Pramono menekankan bahwa proyek ini menjadi prioritas pemerintah, sehingga harus berjalan tanpa hambatan.
“Proyek ini tidak boleh gagal dan tidak boleh mundur. Ini menjadi prioritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” tegas Pramono.
Dengan melaksanakan pengerukan dan normalisasi secara terus-menerus, pihaknya berharap mengurangi potensi genangan di wilayah Setiabudi, Tanah Abang, Menteng, Gambir, Palmerah, hingga Grogol Petamburan. Upaya tersebut juga bertujuan meningkatkan kapasitas penampungan air, mempercepat aliran, serta mengatasi pendangkalan akibat akumulasi lumpur dan sampah. Pramono menyatakan bahwa tindakan ini adalah bagian dari upaya mitigasi bencana untuk menekan risiko banjir dan genangan di daerah-daerah rentan tersebut.
