SDA Jakut perbaiki turap Kali Pegangsaan yang longsor – rampung akhir Juni
SDA Jakarta Utara Perbaiki Turap Kali Pegangsaan yang Longsor, Proses Rampung Akhir Juni
SDA Jakut perbaiki turap Kali Pegangsaan – Jakarta, Minggu – Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara sedang memperbaiki turap Kali Pegangsaan di wilayah Kelapa Gading yang mengalami longsor akibat aktivitas pengerukan sedimentasi lumpur. Pengerjaan perbaikan turap tersebut berlangsung secara bertahap dan diharapkan selesai pada akhir bulan Juni 2026. Tujuan utamanya adalah mengantisipasi risiko banjir yang bisa mengancam kawasan sekitar.
Kondisi Turap dan Rencana Perbaikan
Turap yang longsor memiliki panjang sekitar 25 meter dan ketinggian mencapai 2,5 meter. Proyek perbaikan ini memprioritaskan stabilitas infrastruktur air di area tersebut, yang menjadi bagian penting dari sistem drainase kota. Heria Suwandi, Kepala Suku Dinas SDA Jakarta Utara, mengatakan bahwa pengerjaan masih berlangsung intensif. “Penanganan turap terus dilakukan hingga akhir Juni 2026,” jelas Heria.
“Proses pengerjaan perbaikan turap masih dilakukan saat ini, pengerjaan ditargetkan selesai pada akhir Juni 2026,” kata Heria Suwandi di Jakarta, Minggu.
Kondisi turap yang rusak terjadi karena aktivitas pengerukan sedimen di kali tersebut. Heria menambahkan bahwa konstruksi turap lama sudah mengalami usang dan kurang mampu menahan tekanan dari proses penggalian sedimen. “Ketinggian turap yang longsor mencapai 2,5 meter, dan panjangnya sekitar 25 meter,” imbuhnya.
Penyebab Longsor dan Penanganan Konstruksi
Longsor turap tersebut berawal dari penurunan permukaan bawah pondasi yang terjadi akibat pengerukan sedimen lumpur. Heria menjelaskan bahwa aktivitas ini menyebabkan adanya perubahan level tanah di bawah konstruksi turap lama. “Penurunan level tanah menyebabkan turap ambruk, terutama di bagian yang sudah lama tidak dijaga,” terang Heria.
“Ketika pengerukan sedimen dilakukan dengan alat berat, pondasi turap lama menjadi rentan terhadap kehilangan kekuatan struktural,” tambah Heria.
Untuk mengembalikan fungsi turap, pihak SDA menggunakan material batu belah sebagai konstruksi baru. Metode ini dipilih karena ketahanannya terhadap tekanan air dan erosi. Selain itu, pihak terkait juga memperhatikan kebutuhan daerah sekitar untuk mengurangi risiko bencana alam yang bisa terjadi di masa depan.
Progres Aktivitas Pengerukan dan Dampaknya
Penyebab longsor turap juga terkait dengan penggalian sedimen di kali Pegangsaan. Heria menjelaskan bahwa aktivitas pengerukan ini dilakukan untuk menjaga kelancaran aliran air dan mencegah pendangkalan. “Namun, terkadang penurunan level tanah di bawah turap lama menyebabkan bagian konstruksi terlepas,” katanya.
“Proses pengerukan lumpur masih berjalan di lokasi tersebut. Namun segmen titik pengerukan sudah bergeser ke titik lainnya di kali tersebut,” tambah Heria.
Kegiatan pengerukan sedimen dilakukan secara bertahap, dengan fokus pada area yang paling rentan terhadap kerusakan infrastruktur. Heria menjelaskan bahwa penggalian sedimen ini bertujuan untuk memastikan aliran air tetap lancar dan mencegah penumpukan lumpur yang bisa mengurangi kapasitas saluran. “Kami juga memperhatikan keseimbangan struktur turap agar tidak terjadi kerusakan lanjutan,” ujarnya.
Strategi Perbaikan dan Konsekuensinya
Pemeliharaan turap Kali Pegangsaan menjadi prioritas dalam upaya pengurangan risiko banjir. Selama ini, turap lama tidak mampu menahan tekanan dari aliran air dan sedimentasi yang berlebihan. Heria menjelaskan bahwa perbaikan ini tidak hanya menangani kerusakan saat ini, tetapi juga memperkuat infrastruktur untuk jangka panjang.
“Ketika dilakukan pengerukan sedimen menggunakan alat berat di kali tersebut, pondasi turap lama akan longsor,” kata Heria.
Menurut Heria, longsor turap di Kali Pegangsaan terjadi karena adanya perubahan level tanah di bawah pondasi. “Penurunan terjadi karena penggalian sedimen yang menyebabkan konstruksi menjadi rapuh,” jelasnya. Hal ini mengakibatkan kerusakan pada bagian turap yang berdampak pada aliran air di sekitar daerah tersebut.
Pelaksanaan dan Perkembangan Proyek
Pekerjaan perbaikan turap membutuhkan koordinasi antara tim teknis dan pihak terkait lainnya. Heria menyebutkan bahwa selain penggunaan material batu belah, langkah-langkah lain seperti pengamatan lapangan dan pemantauan secara berkala juga dilakukan. “Kami melakukan evaluasi berkala untuk memastikan progres pengerjaan tetap sesuai rencana,” katanya.
“Perbaikan turap kali menggunakan material batu belah yang dijadikan sebagai konstruksi tanggul yang rusak dan longsor,” kata Heria.
Proyek ini juga
