Pembahasan Penting: Harga Sembako Terbang-Cabai Rawit Rp200.000/ Kg, BPS: Fenomena Ramadan
Harga Cabai Rawit Melonjak ke Rp200.000/Kg, BPS: Fenomena Ramadan
Jakarta, CNBC Indonesia – Sebelum Ramadan, kenaikan harga bahan makanan mulai terasa di berbagai wilayah. Lonjakan terbesar terjadi pada cabai rawit yang harga rata-rata nasional kini mencapai Rp200.000 per kilogram. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan ini sebagai bagian dari pola musiman yang berulang setiap tahun. Menurutnya, permintaan bahan pokok seperti cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, daging sapi, beras, dan bawang merah meningkat drastis menjelang bulan suci.
“Ini menunjukkan ciri khas fenomena Ramadan yang membutuhkan pasokan bahan pokok dalam jumlah besar. Kenaikan Indeks Perubahan Harga (IPH) terjadi di 221 kabupaten/kota, dengan harga tertinggi mencapai Rp200.000 dan terendah sekitar Rp26.111 per kilogram,” ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Inflasi di Kemendagri, Selasa (3/3/2026).
Peningkatan permintaan terutama memengaruhi daerah-daerah di Indonesia timur. Harga cabai rawit tercatat paling tinggi di sejumlah kabupaten di Papua, menandakan masalah distribusi dan akses yang belum sepenuhnya terselesaikan. “Wilayah seperti Nduga, Mappi, dan Intan Jaya menjadi lokasi dengan kenaikan harga terbesar,” tambahnya.
Kenaikan signifikan juga terjadi di Jawa Timur. Situbondo, misalnya, mencatat peningkatan IPH hingga 125,9%, dengan harga cabai rawit mencapai Rp79.991 per kilo. “Angka ini jauh melebihi batas atas Harga Acuan Penjualan (HAP), yang sekitar 40% lebih tinggi,” jelas Amalia. Situasi serupa terjadi di Pasuruan, dengan kenaikan IPH hingga 115% dan harga mencapai Rp78.792 per kilo.
Fenomena ini dinilai perlu diawasi ketat oleh pemerintah daerah untuk mencegah tekanan inflasi yang lebih luas selama Ramadan dan Idul Fitri. “Kenaikan harga di atas HAP dan IPH tinggi harus menjadi perhatian utama,” tegas Amalia. Peningkatan permintaan saat Ramadan diyakini akan terus mendorong kenaikan harga, sehingga pengaturan pasokan menjadi kunci dalam mempertahankan stabilitas ekonomi.
