Main Agenda: Kemkomdigi: 90 persen trafik internet RI masih lewat Singapura

Kemkomdigi: Trafik Internet Indonesia Tergantung pada Singapura Hingga 90 Persen

Main Agenda – Jakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) baru-baru ini menyebutkan bahwa hingga saat ini, sekitar 90 persen data internet Indonesia masih menggunakan jalur yang melewati Singapura. Hal ini menunjukkan ketergantungan yang signifikan terhadap satu titik masuk data internasional, yang menjadi tantangan utama dalam mengamankan kualitas dan keandalan jaringan komunikasi nasional. Denny Setiawan, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kemenkominfo, menjelaskan bahwa kondisi ini perlu diperbaiki agar kemajuan ekonomi digital dan adopsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) tetap didukung secara optimal.

Analisis Ketergantungan Trafik

Denny Setiawan mengungkapkan dalam diskusi di ajang Selular Award 2026 di Jakarta, Senin, bahwa ketergantungan pada Singapura menjadi risiko besar. “Jujur, sekarang traffic kita 90 persen tergantung Singapura,” ujarnya. Menurut dia, kondisi ini bisa menyebabkan gangguan serius jika terjadi perubahan mendadak pada hubungan teknis dengan negara tetangga tersebut. Ia menilai bahwa diversifikasi jaringan komunikasi menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurangi risiko kehilangan akses ke data internasional secara keseluruhan.

“Kita harus punya juga diversity untuk kabel laut, kemudian kabel darat, tiap pulau juga seperti itu,” kata Denny.

Dia membandingkan ketergantungan ini dengan menempatkan semua sumber daya pada satu jalur, seperti mengandalkan satu jalan untuk memasok energi ke suatu wilayah. Jika jalur tersebut terganggu, maka seluruh sistem bisa lumpuh. Dengan demikian, penguatan infrastruktur digital nasional dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan ekosistem teknologi di Indonesia.

Langkah Pemerintah untuk Diversifikasi

Untuk mengatasi masalah tersebut, Kemenkominfo mendorong pembangunan jalur alternatif dalam konektivitas digital. Denny menyebutkan bahwa penguatan kabel laut dan kabel darat menjadi prioritas, karena kedua komponen ini berperan penting dalam menghubungkan seluruh wilayah Indonesia. Pemerintah juga sedang berupaya memperluas jaringan lokal dan internasional agar tidak ada kekacauan ketika satu jalur mengalami kesulitan.

Menurut Denny, kebutuhan akan kapasitas jaringan terus meningkat seiring pertumbuhan teknologi digital. Khususnya, kecerdasan buatan (AI) dan layanan berbasis data membutuhkan stabilitas koneksi yang tinggi. “Kita harus punya juga diversity untuk kabel laut, kemudian kabel darat, tiap pulau juga seperti itu,” ujarnya kembali dalam diskusi tersebut. Ia menekankan bahwa diversifikasi ini penting untuk memastikan akses data tetap terjaga bahkan di tengah dinamika global.

Penguatan Infrastruktur Sebagai Fondasi

Pemerintah Indonesia juga sedang menyelaraskan pengembangan berbagai infrastruktur digital, termasuk pusat data, kabel laut, kabel darat, dan spektrum frekuensi. Tujuan utamanya adalah memperkuat ekosistem digital nasional agar bisa menopang pertumbuhan teknologi dan ekonomi secara berkelanjutan. “Kita lagi coba align roadmap data center, kabel laut, kabel darat, sama frekuensi sekalian,” kata Denny.

Penguatan ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada negara tetangga sambil menjaga kualitas layanan. Dengan adanya infrastruktur yang lengkap, Indonesia bisa memaksimalkan potensi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara. Denny menambahkan bahwa setiap pulau di Indonesia perlu memiliki jalur konektivitas yang mandiri, sehingga tidak ada satu titik yang bisa menjadi “pintu keluar” utama.

Tantangan dan Peluang di Tengah Pertumbuhan

Di tengah percepatan adopsi teknologi digital, Kemenkominfo menilai bahwa infrastruktur harus menjadi fondasi utama. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, dan menghubungkan semuanya secara efisien membutuhkan investasi yang signifikan. Dengan membangun jalur alternatif, negara ini bisa meningkatkan keandalan jaringan, terutama dalam situasi darurat atau saat ada kenaikan permintaan data.

Ketergantungan pada Singapura juga memberikan peluang untuk mengeksplorasi kerja sama dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Denny mengatakan bahwa Indonesia perlu memperluas jaringan internasional agar bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi digital yang lebih stabil. “Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara,” ujarnya.

Selain itu, pembangunan pusat data nasional dianggap penting untuk meminimalkan risiko kehilangan data. Pemerintah sedang mendorong pengembangan pusat data yang terdistribusi di berbagai wilayah agar tidak semua informasi disimpan di satu tempat. Hal ini bisa meningkatkan keamanan dan kecepatan akses ke data, terutama saat terjadi peningkatan permintaan dari sektor-sektor strategis seperti AI dan layanan digital berbasis cloud.

Menurut Denny, kabel laut dan kabel darat yang terus diperluas akan menjadi pilar utama dalam membangun ekosistem digital yang mandiri. Dengan memiliki berbagai jalur yang terhubung, Indonesia bisa meminimalkan risiko gangguan ketika salah satu jalur mengalami kegagalan. “Jalur alternatif adalah kunci untuk meningkatkan ketahanan jaringan,” tegasnya.

Kebutuhan akan kapasitas jaringan yang lebih besar juga mengarah pada penggunaan spektrum frekuensi secara optimal. Kemenkominfo sedang berupaya menyelaraskan penggunaan frekuensi dengan kebutuhan sektor-sektor kritis, termasuk pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan. Dengan begitu, kecepatan dan kualitas layanan internet bisa meningkat, seiring dengan tuntutan teknologi yang semakin kompleks.

Upaya diversifikasi ini tidak hanya menguntungkan keandalan teknis, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi digital di berbagai daerah. Denny mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia harus dilakukan secara terpadu, agar semua sektor bisa menikmati manfaat dari kemajuan digital secara merata. “Ini akan memastikan bahwa teknologi bisa menjangkau seluruh wilayah,” katanya.

Kesiapan Menghadapi Tantangan Global

Dengan memiliki infrastruktur yang kuat, Indonesia bisa lebih siap menghadapi tantangan global, seperti kenaikan harga layanan internet atau perubahan kebijakan internasional. Denny menekankan bahwa diversifikasi jaringan bukan hanya tentang jumlah, tetapi juga tentang kualitas dan kapasitas. “Kita harus memastikan bahwa jalur alternatif tidak hanya ada, tetapi juga bisa mengakomodasi kebutuhan data yang semakin besar,” ujarnya.

Kemenkominfo terus berupaya mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang ada, sambil mempercepat pengerjaan proyek infrastruktur baru. Dengan kombinasi antara jalur darat dan jalur laut, serta pemanfaatan spektrum frekuensi yang lebih luas, Indonesia diharapkan bisa menjadi negara dengan kemampuan konektivitas yang mandiri dan tangguh. Langkah-langkah ini sejalan dengan visi pemerintah untuk meningkatkan kedaulatan digital, yang menjadi bagian dari transformasi nasional menuju ekonomi berbasis tekn