Polda NTT raih dua rekor MURI lewat terapi kesehatan mental

Polda NTT Mencatatkan Dua Rekor MURI Melalui Program Terapi Kesehatan Mental

Inisiatif Kepolisian Daerah NTT Menjadi Tercatat dalam Sejarah Rekor Dunia

Polda NTT raih dua rekor MURI – Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80, Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) sukses mengukir dua rekor baru Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan ini diberikan berdasarkan inovasi terapi kesehatan mental yang digunakan oleh institusi kepolisian tersebut serta jumlah peserta terapi yang mencapai angka signifikan. Proses penghargaan berlangsung pada Sabtu (4/7) di kota Kupang, yang menandai capaian luar biasa dalam upaya meningkatkan kesehatan mental pegawai dan masyarakat.

Terapi kesehatan mental yang diterapkan oleh Polda NTT memanfaatkan metode USEFT (Ultimate SBMS Emotional Freedom Technique). Metode ini merupakan pendekatan unik yang menggabungkan teknik relaksasi dan pengalihan perhatian untuk mengatasi stres, gangguan emosional, serta masalah psikologis lainnya. Dengan memperkenalkan USEFT, Polda NTT menunjukkan komitmen untuk menerapkan pendekatan modern dalam menjaga kesehatan psikologis anggota polisi, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“Penerapan USEFT oleh Polda NTT membuktikan bahwa inovasi dalam bidang kesehatan mental bisa menghasilkan dampak luas,” kata salah satu penyusun laporan. “Dengan metode ini, kita tidak hanya fokus pada perawatan pribadi, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih sehat secara kolektif.”

Metode USEFT dirancang untuk mempercepat proses pemulihan mental melalui serangkaian latihan pernapasan dan visualisasi. Teknik ini dikembangkan berdasarkan prinsip psikologi dan terapi emosional, yang menjadikannya efektif dalam mengurangi gejala stres, kecemasan, dan depresi. Polda NTT melaksanakan terapi ini secara terstruktur, dengan mengadakan pelatihan bagi seluruh pegawai, termasuk anggota polisi, pejabat, dan petugas lapangan. Selain itu, program ini juga terbuka untuk masyarakat umum yang ingin memperbaiki kesehatan mental mereka.

Jumlah peserta yang mencapai 11.663 orang menjadi salah satu rekor yang diakui oleh MURI. Angka ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap terapi yang diadakan oleh Polda NTT. Sejumlah data menunjukkan bahwa metode USEFT diminati karena prosesnya relatif singkat dan efektif tanpa memerlukan alat khusus. Dalam sebulan, terdapat lebih dari 11 ribu orang yang mengikuti sesi terapi, termasuk keluarga dan anak-anak anggota polisi yang turut serta dalam program ini.

Direktur Utama Polda NTT, yang tidak disebutkan nama lengkapnya, mengungkapkan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan polisi yang sehat secara fisik dan mental. “Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam meningkatkan performa kerja dan kepercayaan publik terhadap kepolisian,” katanya dalam wawancara terpisah. “Dengan menerapkan USEFT, kita bisa memberikan solusi yang lebih cepat dan mudah diakses oleh banyak orang.”

Terapi kesehatan mental ini tidak hanya memperbaiki kondisi psikologis peserta, tetapi juga mendorong pengurangan tingkat konflik antara petugas kepolisian dan masyarakat. Pelatihan diadakan dalam beberapa sesi, dengan durasi setiap sesi sekitar 60 menit. Program ini juga didukung oleh berbagai organisasi kesehatan mental dan psikolog di wilayah NTT, yang turut memberikan evaluasi dan bantuan teknis. Selain itu, Polda NTT melibatkan masyarakat secara aktif dengan mengadakan sosialisasi dan pelatihan gratis di berbagai desa.

Sejumlah pegawai yang telah mengikuti terapi ini menyatakan bahwa hasilnya sangat terasa. “Sebelumnya, saya sering merasa kewalahan karena tugas yang berat. Namun, setelah mengikuti program USEFT, suasana hati saya jauh lebih stabil,” ujar seorang petugas lapangan. Program ini juga diberikan apresiasi dari para pengurus MURI, yang menilai inisiatif tersebut layak diakui karena keberhasilannya dalam mengintegrasikan teknologi kesehatan mental ke dalam sistem kepolisian.

Rekor kedua yang diraih oleh Polda NTT adalah jumlah peserta terbanyak dalam satu program terapi. Angka 11.663 orang mencerminkan partisipasi yang luar biasa dari berbagai kalangan, termasuk pelajar, wanita, lansia, dan penyandang disabilitas. Proses pendaftaran dilakukan secara terbuka, dengan pihak kepolisian menyediakan fasilitas yang memadai dan memastikan keterjangkauan bagi seluruh lapisan masyarakat. Kepolisian juga berupaya meminimalkan biaya melalui kerja sama dengan berbagai lembaga lokal.

Program USEFT di Polda NTT dianggap sebagai contoh nyata inovasi dalam pendekatan kesehatan mental. Metode ini tidak hanya efektif untuk individu, tetapi juga menjadi sarana membangun komunitas yang lebih sehat secara mental. Dengan terapi ini, peserta diberi kesempatan untuk memahami diri sendiri dan meningkatkan kemampuan mengelola emosi. Selain itu, pihak kepolisian juga berencana mengembangkan program serupa di tingkat nasional, sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan psikologis seluruh anggota polisi di Indonesia.

Rekor MURI yang diraih Polda NTT menjadi pengakuan internasional atas keberhasilannya dalam menggabungkan teknologi dan seni terapi emosional. Hal ini menunjukkan bahwa kepolisian tidak hanya menjadi pelindung keamanan, tetapi juga penjaga kesehatan mental masyarakat. Dengan memperkenalkan USEFT, Polda NTT menciptakan solusi yang inklusif dan terjangkau, sekaligus menjadi contoh bagi institusi lain untuk mengadopsi pendekatan serupa.

Kepolisian Daerah NTT memperkuat posisinya sebagai institusi yang proaktif dalam menghadapi tantangan kesehatan mental. Dengan menggandeng berbagai pihak, program ini menjadi bagian dari kebijakan yang lebih luas, yaitu mendorong kesehatan mental sebagai prioritas nasional. Rekor MURI ini diharapkan menjadi bukti bahwa pendekatan inovatif bisa menghasilkan perubahan signifikan, baik untuk individu maupun masyarakat secara keseluruhan.

Direktur Utama Polda NTT menambahkan bahwa program terapi ini tidak hanya berdampak pada anggota polisi, tetapi juga membantu keluarga mereka. “Kita melihat bahwa partisipasi dari keluarga sangat penting untuk menjaga kestabilan emosional seluruh anggota keluarga,” tuturnya. “Dengan mengakui kebutuhan kesehatan mental secara menyeluruh, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan produktif.”

MURI, sebagai lembaga yang mengukur prestasi