Visit Agenda: Walhi Gorontalo soroti kondisi DAS Limboto pada Hari Lingkungan Hidup

Walhi Gorontalo Mengkritik Kondisi DAS Limboto pada Hari Lingkungan Hidup

Pentingnya Perlindungan Kawasan Hulu untuk Menjaga Kesehatan Danau Limboto

Visit Agenda – Gorontalo, pada perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, organisasi konservasi lingkungan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Gorontalo mengungkapkan kekhawatiran terhadap kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto. Direktur Eksekutif Walhi Gorontalo, Defri Sofyan, menegaskan bahwa lingkungan sekitar danau tersebut mengalami penurunan kualitas yang berpotensi mengancam keberlanjutan ekosistem. Dalam sebuah pernyataan, Defri menjelaskan bahwa aksi simbolik yang dilakukan oleh Walhi di Danau Limboto bertujuan untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga fungsi ekologis wilayah hulu.

“Danau Limboto saat ini berada dalam kondisi kritis. Ancaman terbesarnya berasal dari wilayah hulu yang terus mengalami perubahan ekosistem,” ujar Defri dalam keterangannya di Gorontalo, Sabtu.

Menurut Defri, aktivitas pemanfaatan lahan di kawasan hulu, seperti pertanian, perkebunan, dan penggalian sumber daya alam, menjadi faktor utama yang memengaruhi kesehatan danau. Wilayah hulu DAS Limboto berperan sebagai penyerap air dan pengatur aliran sungai, sehingga kerusakan di sana langsung berdampak pada kualitas air danau. “Fungsi daerah tangkapan air harus dijaga agar tidak mengganggu kehidupan ekosistem di sekitar danau,” tambahnya.

Walhi Gorontalo telah melakukan kajian spasial terhadap area konsesi perusahaan biomassa yang berada di Sungai Limboto-Bolango-Bone. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki peran kritis dalam mempertahankan siklus hidrologi dan mengurangi risiko bencana alam seperti banjir atau longsor. Defri menjelaskan bahwa sedimentasi yang terjadi di danau merupakan indikator dari kerusakan lingkungan di sekitarnya. Data dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi II menyebutkan laju sedimentasi Danau Limboto mencapai sekitar 5.300 ton per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa aliran air yang masuk ke danau terus mengandung partikel tanah dan polutan, yang memperburuk kualitas air.

Menurut Defri, sedimentasi tersebut berasal dari sejumlah sungai yang bermuara ke danau, termasuk aliran dari daerah hulu yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia. “Kerusakan hulu berdampak langsung pada kondisi danau, baik secara fisik maupun biologis,” katanya. Ia menekankan bahwa perlindungan kawasan hulu harus menjadi prioritas, karena tanpa pengelolaan yang baik, ekosistem Danau Limboto akan semakin terancam.

Pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Walhi Gorontalo juga menyoroti peran masyarakat dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Defri mengatakan bahwa partisipasi aktif warga sekitar sangat penting dalam mengawasi pemanfaatan lahan dan mengurangi dampak negatif terhadap DAS Limboto. “Masyarakat harus menjadi mitra dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu meningkatkan kebijakan perlindungan ekosistem, serta memastikan adanya ruang bagi warga untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sumber daya alam.

Menurut Defri, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perusahaan atau masyarakat di sekitar kawasan hulu perlu dievaluasi ulang. “Aktivitas pemanfaatan lahan yang tidak terkendali bisa mengubah struktur tanah dan menambah jumlah sedimentasi, sehingga mengurangi kapasitas danau sebagai penyangga lingkungan,” jelasnya. Selain itu, Walhi menyarankan pemerintah untuk memperkuat penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan, terutama di wilayah hulu yang berpotensi merusak kualitas air.

Aksi simbolik di Danau Limboto yang digelar Walhi Gorontalo pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia melibatkan berbagai kegiatan seperti pembentangan spanduk, pembacaan puisi, orasi, dan penyampaian pesan lingkungan. Kegiatan tersebut dirancang untuk menarik perhatian masyarakat dan pihak terkait tentang urgensi perlindungan kawasan hulu. “Kita harus menyadari bahwa danau bukan hanya sumber air, tetapi juga sistem kehidupan yang sangat kompleks,” kata Defri.

Walhi Gorontalo juga menyoroti peran danau Limboto sebagai sumber air bagi masyarakat sekitar dan wilayah sekitarnya. Danau ini tidak hanya berfungsi sebagai penahan air, tetapi juga sebagai habitat berbagai spesies flora dan fauna yang langka. Kondisi ekosistem yang tidak sehat bisa berdampak pada kebutuhan masyarakat, seperti air minum, pertanian, dan pariwisata. “Krisis iklim tidak bisa diatasi tanpa perlindungan lingkungan yang terpadu,” tambah Defri.

DAS Limboto, yang mencakup luas area hulu yang mencapai ratusan kilometer persegi, harus dipertahankan sebagai “paru-paru” wilayah tersebut. Defri mengingatkan bahwa pemerintah perlu memperhatikan kebijakan pengelolaan lahan yang berkelanjutan, terutama di daerah hulu. “Jika kita tidak mengubah pola penggunaan lahan, maka DAS Limboto akan semakin terdegradasi,” katanya. Ia juga menyarankan adanya pengawasan lebih ketat terhadap proyek-proyek yang berpotensi mengganggu aliran air dan keberlanjutan ekosistem.

Kelompok ekologis ini berharap pemerintah provinsi dan kabupaten dapat mengambil langkah-langkah konkret untuk melindungi DAS Limboto. Defri menuturkan, ada banyak potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk menjaga keseimbangan lingkungan. “Kita perlu menciptakan kebijakan yang berkelanjutan, bukan hanya keuntungan jangka pendek,” pungkasnya. Aksi yang diadakan pada hari tersebut diharapkan menjadi awal dari perubahan kesadaran masyarakat dan pihak terkait terhadap pentingnya perlindungan lingkungan hidup.