Dunia

Surat dari Timur Tengah: Kenangan buatan tangan di Pasar Ramallah

CjkinzN000005_20260908_CBMFN0A001
Foto : Rachmat Razi - programamal.com
Daftar Isi
  1. Pasar Harjeh Kembali Bernapas: Di Antara Benang, Kayu, dan Nama-Nama yang Menolak Hilang
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Pasar Harjeh Kembali Bernapas: Di Antara Benang, Kayu, dan Nama-Nama yang Menolak Hilang

Programamal.com – Setiap Jumat sepanjang musim panas, sebuah area parkir di kawasan kota tua Ramallah berubah wajah menjadi empat deret stan dagang. Pasar Harjeh, yang menampung sekitar 100 pedagang kecil, baru saja kembali beroperasi setelah dua tahun lamanya tutup. Penutupan itu dipicu oleh pecahnya konflik bersenjata terbaru antara Israel dan Hamas pada Oktober 2023, yang mengguncang seluruh Tepi Barat dan memutus rantai pasok, mobilitas, serta kepercayaan para pelaku usaha lokal. Kini, di tengah udara yang bercampur aroma kopi pekat, sabun herbal buatan tangan, dan roti segar dari oven, pasar itu kembali menjadi ruang di mana ingatan kolektif Palestina disulam, diukir, dan dipajang ulang.

Tatreez: Benang yang Membaca Lanskap yang Hilang

Di antara stan-stan tersebut, satu titik menarik perhatian bukan karena aroma, melainkan karena warna. Benang merah tua dan ungu lembayung, sehalus urat nadi, tersulam rapat ke permukaan kain. Di balik meja kerja itu duduk Ayyam Tamimi, perempuan berusia 50 tahun asal Yerusalem Timur, yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya pada kerajinan bordir tradisional Palestina.

Tamimi memulai perjalanannya sebagai penyulam di bawah bimbingan keluarga, lalu beralih menjadi pemilik toko, hingga akhirnya mendirikan merek bordirnya sendiri. Pada 2021, seni bordir tusuk silang yang ia geluti itu memperoleh pengakuan resmi dari UNESCO, yang mencantumkannya ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Bagi Tamimi, pengakuan internasional itu bukan sekadar prestise; ia adalah pengakuan atas sebuah bahasa visual yang telah diwariskan lintas generasi.

“Ini adalah warisan yang diwariskan oleh leluhur kami.”

Jemarinya mengusap permukaan sulaman dengan kelembapan seorang arsitek yang memeriksa fondasi. Matanya menelusuri pola-pola geometris seolah membaca peta wilayah yang tak lagi dapat ia kunjungi secara fisik.

“Kami perempuan Palestina menyulam lanskap desa-desa kami yang diduduki ke dalam kain. Desa-desa itu tidak bertahan. Namun, kain sulaman ini bertahan. Kami mungkin tidak dapat mewarisi tanah leluhur kami, tetapi setiap kali melihat Tatreez, di rumah, dalam upacara pernikahan, maupun di toko, saya teringat dari mana akar kami berasal.”

Pernyataan itu menempatkan Tatreez bukan sekadar dekorasi tekstil, melainkan arsip hidup. Setiap motif geometris menyimpan referensi topografis: bukit, lembah, sungai, dan nama tempat yang mungkin sudah tidak ada di peta resmi, tetapi tetap hidup di jarum dan benang.

Plakat, Pos Pemeriksaan, dan Ekonomi yang Terhambat

Beberapa langkah dari stan Tamimi, suasana berubah menjadi lebih tegang. Mohammad Omar, pria berusia 30 tahun, berdiri di balik tumpukan plakat kayu bertuliskan nama-nama kota dan desa Palestina. Ia meminta agar tidak direkam, dengan alasan ingin menghindari masalah yang tidak perlu. Omar menempuh perjalanan lebih dari empat jam dari Tulkarm, Tepi Barat bagian utara, melewati sejumlah pos pemeriksaan militer Israel. Perjalanan yang secara geografis hanya membutuhkan sekitar 40 menit itu berubah menjadi setengah hari penuh ketidakpastian.

“Barang dagangan saya sering ditahan di pos pemeriksaan Israel.”

Sepuluh tahun terakhir, Omar menjual plakat yang mencantumkan nama tempat-tempat Palestina. Strategi distribusinya sederhana namun memakan waktu: setiap kali hendak bepergian ke kota lain, ia mengirim plakat-plakat tersebut terlebih dahulu melalui truk pemasok agar tidak tertahan di jalan.

“Mereka takut. Takut kami akan mengingat nama setiap kota yang diduduki, setiap bukit, setiap sungai.”

Di stan sebelah, Sameh Abdullah membungkuk mengambil sebuah plakat bertuliskan “Jaffa” dalam dua bahasa, Arab dan Inggris. Kakek-neneknya termasuk gelombang pengungsi yang terpaksa meninggalkan Kota Jaffa pada 1948 dan mengungsi ke al-Bireh, sebuah kota di Tepi Barat. Bagi Abdullah, plakat itu bukan merchandise; ia adalah dokumen keluarga yang membuktikan bahwa nama itu pernah menjadi rumah.

Kekerasan yang Menghantui Setiap Jumat

Konteks di mana pasar ini beroperasi tidak bisa dipisahkan dari data yang tercatat. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mendokumentasikan lebih dari 1.300 serangan pemukim yang mengakibatkan korban jiwa atau kerusakan properti dalam tujuh bulan pertama tahun berjalan. Angka itu merupakan laju tertinggi yang pernah dicatat di Tepi Barat. Setiap Jumat pasar dibuka, pedagang harus melewati rute yang sama dengan risiko yang sama, dan setiap stan yang berdiri adalah pernyataan bahwa kehidupan ekonomi lokal belum menyerah.

Kayu Zaitun: Simbol yang Tak Tergilas

Di stan lain, Aida Al-Shawa menata magnet kulkas yang diukir dari kayu zaitun. Ribuan pohon zaitun di Tepi Barat telah dibakar, ditebang, atau dirusak dengan berbagai cara selama bertahun-tahun. Bagi warga Palestina, pohon-pohon itu melampaui fungsi agraris sebagai tanaman yang dibudidayakan selama ribuan tahun dan sumber penghidupan utama. Mereka adalah simbol perlawanan yang senyap, simbol kampung halaman yang tak lekang oleh waktu.

Seorang petani lansia yang ditemui di kawasan pertanian pernah merangkum filosofi itu dalam satu kalimat: buldoser mungkin membelah batang pohon zaitun, tetapi selama akarnya masih tertanam di tanah, pohon itu akan tumbuh kembali. Kata-kata itu menggema di setiap stan Pasar Harjeh, di setiap sulaman Tatreez, di setiap plakat bertuliskan nama kota yang sudah tidak ada di peta resmi. Pasar itu bukan sekadar tempat jual-beli; ia adalah mekanisme ingatan yang menolak diam, yang menyulam, mengukir, dan menuliskan ulang apa yang ingin dihapus dari kesadaran kolektif.

Frequently Asked Questions

What is Surat dari Timur Tengah?

Surat dari Timur Tengah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Surat dari Timur Tengah matter?

Surat dari Timur Tengah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Rachmat Razi - programamal.com

Rachmat Razi - programamal.com

Rachmat Razi adalah seorang SEO content writer yang suka menulis dan membahas berbagai hal, serta berdedikasi dalam mengoptimalkan situs web untuk mesin pencari.