Politik

ICBS 2026 jadi wadah kolaborasi dukung pengembangan pasar karbon RI

1000621771
Foto : Rafi Wibowo - programamal.com
Daftar Isi
  1. Ekosistem Pasar Karbon Indonesia Diperkuat Melalui Forum Kolaborasi di Bali
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Ekosistem Pasar Karbon Indonesia Diperkuat Melalui Forum Kolaborasi di Bali

Programamal.com – Pasar karbon nasional Indonesia tengah memasuki fase krusial di mana regulasi saja tidak lagi cukup untuk mendorong pertumbuhan. Diperlukan keterhubungan yang solid antara berbagai aktor—mulai dari pembuat kebijakan, pengembang proyek, pemilik lahan, lembaga keuangan, pembeli kredit karbon, hingga komunitas lokal—agar mekanisme perdagangan karbon dapat berfungsi secara utuh. Dalam konteks itulah Indonesia Carbon and Biodiversity Summit (ICBS) 2026 hadir di kawasan Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, pada 8–9 September, sebagai ruang temu lintas pemangku kepentingan yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan tersebut.

Forum ini diinisiasi oleh Indonesia Carbon Credit and Biodiversity Alliance (ICBA), organisasi yang berfokus pada pengembangan pasar karbon dan perlindungan keanekaragaman hayati di dalam negeri. Kehadiran ICBS 2026 bukan sekadar agenda konferensi tahunan, melainkan upaya sistematis untuk membangun jaringan kolaborasi yang dapat menghasilkan koneksi bisnis, peluang investasi, serta penguatan kapasitas teknis di seluruh rantai nilai karbon.

Regulasi Tanpa Ekosistem Tidak Cukup

Rob Raffael Kardinal, Ketua Umum ICBA, menegaskan bahwa kemajuan pasar karbon Indonesia tidak dapat ditopang oleh kerangka hukum semata. Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, ia menekankan bahwa proyek berkualitas, akses pembiayaan, permintaan nyata dari pembeli, serta literasi dan kompetensi di setiap titik ekosistem merupakan prasyarat mutlak.

“Pasar karbon tidak akan berkembang hanya dengan regulasi. Kita membutuhkan proyek yang berkualitas, pembiayaan,需求 dari pembeli serta pemahaman dan kapasitas yang memadai di seluruh ekosistem.”

Pernyataan tersebut menggarisbawahi realitas bahwa Indonesia, sebagai negara dengan komitmen net zero emissions pada 2060 dan target penurunan emisi 31,8 persen pada 2030 (atau 43,1 persen dengan dukungan internasional), memerlukan mekanisme pasar yang hidup dan berdaya guna. Tanpa aliran modal dan permintaan yang kredibel, regulasi yang sudah disusun—termasuk Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Carbon Trading—akan tetap menjadi dokumen di atas kertas.

Desain Forum: Dari Pertukaran Pandangan ke Aksi Nyata

Rob menjelaskan bahwa ICBS sengaja dikonsepkan melampaui format konferensi konvensional. Tujuannya bukan sekadar memfasilitasi pertukaran pandangan akademis, melainkan menciptakan ruang di mana pengembang proyek dapat berinteraksi langsung dengan investor dan pembeli, sekaligus membuka kanal capacity building serta pertukaran pengetahuan teknis.

“ICBS kami bangun sebagai wadah bagi seluruh stakeholder untuk bertemu, memperkuat jaringan, dan membangun kolaborasi. Kami ingin project developer dapat bertemu langsung dengan investor dan pembeli, sekaligus menciptakan ruang untuk capacity building dan pertukaran pengetahuan.”

Desain ini menjawab kebutuhan praktis di lapangan: banyak proyek karbon di sektor kehutanan, energi terbarukan, dan pengelolaan lahan basah yang sudah siap secara teknis namun terkendala akses terhadap pembeli kredit atau sumber pendanaan. Dengan mempertemukan kedua sisi pasar dalam satu forum, hambatan informasi dan kepercayaan dapat dipersempit secara signifikan.

Bali sebagai Titik Temu Ekonomi Hijau Global

Gubernur Bali I Wayan Koster turut menyoroti relevansi lokasi penyelenggaraan. Ia menegaskan bahwa Pulau Dewata memiliki posisi strategis sebagai bagian dari percakapan global tentang ekonomi hijau, adaptasi perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan. Bali sendiri telah mengembangkan berbagai inisiatif lokal—mulai dari pengelolaan sampah berbasis komunitas hingga konservasi mangrove—yang dapat menjadi rujukan praktik baik dalam konteks pasar karbon.

Pemilihan Nusa Dua sebagai venue juga mempertimbangkan infrastruktur perhotelan dan konektivitas internasional yang memudahkan partisipasi delegasi asing, termasuk pembeli karbon dari Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur yang aktif mencari proyek-proyek berkualitas di kawasan tropis.

Agen Dua Hari: Dari Integritas Pasar ke Masa Depan 2027

Hari Pertama — Kebijakan, Integritas, dan Pendanaan

Sesi pembuka pada Selasa (8/9) berfokus pada tiga pilar: perkembangan regulasi pasar karbon Indonesia, mekanisme integritas untuk mencegah double counting dan memastikan kualitas kredit, serta strategi pendanaan yang membuat proyek karbon lebih atraktif bagi investor institusional dan pembeli korporat global. Diskusi mencakup bagaimana desain proyek—mulai dari metodologi baseline hingga verifikasi dan verifikasi (MRV)—dapat disusun agar memenuhi standar internasional sekaligus tetap kontekstual dengan kondisi ekologis dan sosial lokal.

Hari Kedua — Integrasi Kebijakan, Karbon Biru, dan Arah 2027

Agenda Rabu (9/9) memperluas cakupan ke integrasi kebijakan lintas sektor, potensi karbon biru dari ekosistem pesisir dan laut, penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS/CCUS), serta perlindungan keanekaragaman hayati sebagai nilai tambah proyek karbon. Sesi penutup mengarahkan pandangan ke peta jalan pasar karbon Indonesia menuju 2027, termasuk skenario permintaan, kapasitas verifikasi nasional, dan peran lembaga keuangan dalam memfasilitasi transaksi.

Dengan agenda yang mencakup spektrum dari kebijakan makro hingga teknologi mikro, ICBS 2026 berupaya menjadi katalis agar pasar karbon Indonesia tidak tertinggal dari dinamika global, sekaligus memastikan bahwa keuntungan ekonomi dari perdagangan emisi mengalir juga ke konservasi biodiversitas dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Frequently Asked Questions

What is ICBS 2026 jadi wadah kolaborasi dukung?

ICBS 2026 jadi wadah kolaborasi dukung is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does ICBS 2026 jadi wadah kolaborasi dukung matter?

ICBS 2026 jadi wadah kolaborasi dukung matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Rafi Wibowo - programamal.com

Rafi Wibowo - programamal.com

Rafi Wibowo adalah praktisi teknologi yang fokus pada pengembangan sistem digital untuk kegiatan sosial. Ia memiliki pengalaman dalam membangun platform berbasis web yang mendukung transparansi donasi.

Di Program Amal, Rafi membantu memastikan bahwa aspek teknologi dalam donasi online dipahami dengan baik oleh pembaca.