Hiburan

Perpusnas hadirkan pameran pengenalan warisan pengetahuan Nusantara

WhatsApp-Image-2025-04-14-at-18.19.50_19296cc0
Foto : Rina Maulana - programamal.com
Daftar Isi
  1. Perpusnas Dekatkan Warisan Manuskrip Nusantara kepada Generasi Muda
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Perpusnas Dekatkan Warisan Manuskrip Nusantara kepada Generasi Muda

Programamal.com – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) membuka ruang pengenalan warisan pengetahuan Nusantara melalui pameran bertajuk “Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran”. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan 2026 dan ditujukan untuk mengajak masyarakat, terutama anak-anak serta generasi muda, melihat manuskrip sebagai sumber pembelajaran yang hidup.

Pameran tersebut menghadirkan warisan manuskrip Nusantara yang telah memperoleh pengakuan dalam Ingatan Kolektif Nasional (IKON) maupun program Memory of the World (MOW). Pengunjung diajak memahami bahwa naskah kuno bukan sekadar koleksi berusia lama, melainkan jejak gagasan, nilai, pengetahuan, dan pengalaman masyarakat dari berbagai masa.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menekankan peran perpustakaan dalam menjaga kesinambungan pengetahuan bangsa. Koleksi yang dirawat perpustakaan memiliki arti penting karena dapat terus dipelajari dan diberi makna oleh masyarakat pada masa kini.

“Selain menyimpan koleksi, perpustakaan juga menjaga ingatan bangsa agar terus dipelajari, dipahami, dan dimaknai oleh generasi berikutnya,” kata Suharyanto.

Manuskrip sebagai pintu memahami identitas bangsa

Melalui tampilan yang lebih visual dan mudah diakses, pameran berupaya memperpendek jarak antara pengunjung masa kini dengan warisan dokumenter Nusantara. Reproduksi manuskrip, ilustrasi, infografis, serta unsur visual interaktif dipakai untuk membantu pengunjung membaca cerita yang tersimpan di balik dokumen-dokumen tersebut.

Pendekatan ini penting terutama bagi pembaca muda yang mungkin belum akrab dengan aksara, bahasa, atau bentuk fisik manuskrip. Dengan penjelasan yang komunikatif, pengunjung dapat mengenali bahwa setiap naskah menyimpan gambaran tentang cara masyarakat memandang kehidupan, menjalankan tradisi, membangun relasi sosial, dan meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Suharyanto menjelaskan bahwa manuskrip merupakan warisan intelektual. Isi dokumen itu merekam pemikiran, pengalaman, nilai, serta perjalanan hidup masyarakat pada zamannya. Karena itu, pembacaan terhadap manuskrip dapat membuka pemahaman mengenai identitas, kebudayaan, dan perjalanan bangsa Indonesia.

“Warisan dokumenter yang tersimpan dalam manuskrip dapat menjadi pintu masuk untuk memahami identitas, kebudayaan, dan perjalanan bangsa. Warisan dokumenter juga sekaligus menggali nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini,” tutur dia.

Empat narasi dalam pameran

Pameran “Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran” disusun dalam empat narasi utama. Setiap bagian memberi sudut pandang berbeda mengenai posisi manuskrip dalam sejarah dan kehidupan masyarakat Nusantara.

Narasi pertama, “Warisan Indonesia untuk Dunia”, mengangkat manuskrip sebagai catatan perjalanan tokoh, peristiwa, pemikiran, serta pengalaman masyarakat yang memiliki arti pada tingkat lokal, nasional, dan global. Pengunjung dapat mengenal karya-karya terkait Syekh Yusuf, Bo Sangaji, Sutasoma, Babad Diponegoro, Imam Bonjol, dan Trunojoyo.

Bagian kedua, “Warisan Nilai Bersama”, menampilkan naskah sebagai sarana pewarisan nilai, kepercayaan, pengetahuan, dan tradisi lintas generasi. Panji, Sri Tanjung, Bo Sangaji, Primbon Tengger, serta Warisan Syekh Burhanudin Ulakan menjadi beberapa contoh yang diperkenalkan dalam narasi ini.

Sementara itu, “Warisan Perempuan” memberi perhatian pada rekaman tentang pengalaman, peran, suara, dan kedudukan perempuan dalam masyarakat masa lalu. Simbur Cahaya, Sri Tanjung, dan Panji digunakan untuk menghadirkan pembacaan tersebut.

Narasi keempat, “Warisan Karya Istimewa”, memperlihatkan manuskrip yang memiliki kekhasan dari segi isi, bentuk, bahasa, tradisi intelektual, maupun nilai dokumenternya. Di dalam bagian ini terdapat Siksa Kandang Karesian, Babad Diponegoro, Nagarakretagama, La Galigo, Tambar Ni Hulit, Syair Hamzah Fansuri, dan Pecenongan.

Keempat tema itu dirancang untuk menggeser pandangan yang hanya menempatkan manuskrip sebagai artefak masa lalu. Pameran mengajak pengunjung melihat naskah sebagai sumber pengetahuan tentang manusia, masyarakat, pemikiran, serta nilai yang terus diwariskan.

“Keempat narasi yang disuguhkan dalam pameran ini menjadi upaya untuk mengubah cara pandang terhadap manuskrip. Pengunjung tidak hanya diajak melihatnya sebagai ‘benda lama’, tetapi memahami manuskrip sebagai sumber pengetahuan yang menyimpan cerita tentang manusia, masyarakat, pemikiran, nilai, dan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Suharyanto.

Memperluas makna Hari Kunjung Perpustakaan

Kehadiran pameran ini memperluas makna Hari Kunjung Perpustakaan. Momentum tersebut tidak hanya mendorong masyarakat datang ke perpustakaan, tetapi juga menguatkan perannya sebagai tempat belajar, berkarya, berdiskusi, dan berinteraksi dengan beragam pengetahuan.

Hari Kunjung Perpustakaan berawal dari gagasan Kepala Perpustakaan Nasional RI pertama, Mastini Hardjoprakoso. Pada 14 September 1995, Presiden Republik Indonesia Soeharto mencanangkan September sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan. Sejak itu, setiap 14 September diperingati untuk mengajak masyarakat semakin dekat dengan perpustakaan sekaligus menumbuhkan kebiasaan membaca.

Melalui pameran ini, Perpusnas menempatkan koleksi manuskrip sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan. Bagi pengunjung, pengalaman tersebut dapat menjadi pengingat bahwa pengetahuan Nusantara tersimpan dalam banyak bentuk, dan pemeliharaannya membutuhkan perhatian, rasa ingin tahu, serta kemauan untuk terus mempelajarinya.

Frequently Asked Questions

What is Perpusnas hadirkan pameran pengenalan warisan pengetahuan?

Perpusnas hadirkan pameran pengenalan warisan pengetahuan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Perpusnas hadirkan pameran pengenalan warisan pengetahuan matter?

Perpusnas hadirkan pameran pengenalan warisan pengetahuan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Rina Maulana - programamal.com

Rina Maulana - programamal.com

Rina Maulana adalah aktivis sosial yang aktif dalam pemberdayaan perempuan dan keluarga prasejahtera. Ia telah terlibat dalam berbagai program pelatihan dan bantuan ekonomi mikro.

Tulisan Rina banyak berfokus pada dampak sosial dari donasi terhadap kehidupan masyarakat.