Pengamat dorong pengembangan PLTP untuk energi bersih jangka panjang
Daftar Isi
PLTP Dinilai Penting untuk Menjaga Pasokan Energi Bersih Jangka Panjang
Programamal.com – Ketahanan sistem kelistrikan dari energi terbarukan menjadi perhatian setelah sejumlah pembangkit tenaga air di Sulawesi Selatan mengalami penurunan produksi akibat pengaruh El Nino. Dalam kondisi seperti ini, pembangkit listrik tenaga panas bumi atau PLTP dipandang dapat menjadi salah satu pilihan energi bersih yang lebih stabil untuk kebutuhan jangka panjang.
Managing Director Energy Shift Institute (ESI) Putra Adhiguna menilai pengembangan panas bumi tetap relevan, meski proses persiapannya tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. PLTP membutuhkan tahapan awal yang lebih panjang dibandingkan sejumlah teknologi pembangkit terbarukan lain, termasuk pengembangan proyek dan kesiapan sumber daya panas bumi.
“Dalam jangka panjang, PLTP tetap menjadi opsi. Tetapi PLTP harus disiapkan dalam waktu persiapan yang lebih lama,” ujar Putra.
Pandangan itu muncul di tengah dampak El Nino terhadap ketersediaan air bagi pembangkit listrik tenaga air atau PLTA. Perubahan kondisi hidrologi menyebabkan produksi listrik dari PLTA Poso, Bakaru, Malea, serta sejumlah pembangkit listrik tenaga minihidro mengalami penurunan.
Data PLN menunjukkan daya mampu gabungan pembangkit hidro di wilayah terdampak turun dari sekitar 850 megawatt menjadi 250 megawatt. Artinya, sistem kehilangan sekitar 600 megawatt kapasitas yang sebelumnya dapat diandalkan dari pembangkit berbasis aliran air.
Cadangan energi terbarukan perlu disesuaikan dengan kondisi wilayah
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa sumber energi terbarukan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. PLTA sangat bergantung pada kondisi air, sementara tenaga surya memerlukan sinar matahari dan pembangkit listrik tenaga bayu membutuhkan potensi angin yang memadai. Karena itu, pilihan pembangkit cadangan tidak selalu sama untuk setiap daerah.
Putra menekankan bahwa pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai penyangga pasokan harus memperhitungkan kekuatan lokal masing-masing wilayah. Daerah dengan kecepatan angin tinggi dapat mengembangkan pembangkit listrik tenaga bayu atau PLTB sebagai salah satu pilihan tambahan.
“PLTB (pembangkit listrik tenaga bayu) akan potensial di daerah dengan potensi angin tinggi, seperti di Sulsel atau NTT (Nusa Tenggara Timur),” ujar Putra.
Selain angin, tenaga surya dan sistem penyimpanan energi juga dapat memainkan peran lebih luas. Pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS dapat diterapkan di banyak wilayah, terutama apabila tersedia lahan yang cukup. Kehadiran Battery Energy Storage System (BESS) berpotensi membantu menyimpan listrik saat produksi surya tinggi untuk digunakan ketika kebutuhan meningkat atau produksi pembangkit lain berkurang.
Kombinasi berbagai sumber energi tersebut penting karena tidak ada satu teknologi yang otomatis menjawab seluruh kebutuhan kelistrikan. PLTP menawarkan pasokan yang dapat disiapkan sebagai energi jangka panjang, sementara PLTS, PLTB, BESS, dan PLTA dapat disusun sesuai karakter sumber daya serta kebutuhan sistem di tiap daerah.
Insentif dan penyederhanaan aturan untuk panas bumi
Pemerintah juga menaruh perhatian pada percepatan proyek panas bumi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan akan segera merevisi aturan untuk membuka insentif perpajakan bagi pengembangan proyek PLTP.
Dua regulasi yang menjadi fokus revisi adalah Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2017 tentang Panas Bumi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung serta Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik.
Langkah itu diarahkan untuk mempercepat pembangunan proyek PLTP di Indonesia. Insentif pajak dapat menjadi salah satu unsur yang diperhitungkan dalam pengembangan proyek, terutama karena panas bumi memerlukan tahapan persiapan dan investasi awal yang panjang sebelum listrik dapat disalurkan ke jaringan.
Bahlil juga menegaskan komitmen untuk memangkas prosedur yang dinilai berbelit-belit. Penyederhanaan aturan dipandang penting agar hambatan administrasi tidak memperlambat pengembangan sumber energi panas bumi.
Pelajaran dari penurunan pembangkit hidro
Penurunan kapasitas hidro di Sulawesi Selatan menjadi pengingat bahwa perencanaan energi perlu mempertimbangkan perubahan kondisi alam. Ketika ketersediaan air turun, ketergantungan yang besar pada pembangkit hidro dapat menimbulkan tekanan terhadap pasokan listrik. Diversifikasi pembangkit terbarukan dapat membantu sistem menghadapi risiko tersebut dengan lebih baik.
Dalam konteks ini, pengembangan PLTP bukan sekadar penambahan kapasitas listrik. Pembangkit panas bumi dapat menjadi bagian dari strategi pasokan bersih jangka panjang, sementara sumber lain disesuaikan dengan potensi angin, matahari, lahan, serta kebutuhan penyimpanan energi di setiap wilayah.
Keberhasilan strategi tersebut akan bergantung pada kesiapan proyek, kepastian aturan, dukungan investasi, dan perencanaan jaringan listrik. Dengan persiapan yang konsisten, energi panas bumi bersama sumber terbarukan lain dapat memperkuat keandalan pasokan tanpa mengabaikan kebutuhan transisi menuju energi yang lebih bersih.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pengamat dorong pengembangan PLTP untuk energi?
Pengamat dorong pengembangan PLTP untuk energi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pengamat dorong pengembangan PLTP untuk energi matter?
Pengamat dorong pengembangan PLTP untuk energi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.