Psikolog: Trauma kecelakaan kereta bisa picu kecemasan hingga depresi

Psikolog: Trauma kecelakaan kereta bisa picu kecemasan hingga depresi

Psikolog – Kecelakaan kereta api yang terjadi di Bekasi Timur, yang menimbulkan korban jiwa serta luka-luka, tidak hanya meninggalkan dampak fisik tetapi juga berpotensi menyebabkan trauma psikologis pada korban. Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa setiap insiden kecelakaan bisa memicu respons emosional yang berbeda pada individu, mulai dari kecemasan ringan hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD). “Setelah mengalami insiden tersebut, individu tertentu dapat mengalami gangguan stres pascatrauma, tetapi tidak semua akan berkembang menjadi PTSD,” kata psikolog yang akrab disapa Bunda Romy tersebut dalam wawancara dengan ANTARA, Selasa.

Perbedaan Respons Psikologis Setiap Individu

Dalam kasus seperti ini, psikolog menggarisbawahi bahwa penyebab trauma tidak selalu berdampak sama bagi semua orang. Faktor-faktor seperti pengalaman masa lalu, kondisi mental sebelumnya, dan tingkat adaptasi terhadap situasi kritis akan memengaruhi seberapa dalam seseorang terpengaruh. Misalnya, seorang anak mungkin merasa gelisah hanya dengan melihat gambar kereta api, sementara orang dewasa yang lebih matang mungkin mengalami kecemasan yang lebih terkendali. Psikolog ini juga menekankan pentingnya pengamatan terhadap perubahan perilaku setelah kejadian, karena gejala trauma bisa muncul secara bertahap atau tiba-tiba.

“Pengalaman trauma bersifat subjektif, sehingga perlu dipahami secara individu,” ujarnya. Dalam beberapa situasi, trauma yang tidak segera diatasi dapat berkembang menjadi gangguan psikologis lebih serius, seperti depresi atau gangguan kecemasan kronis. Gejala yang muncul bisa berupa perasaan sedih berkepanjangan, hilangnya semangat untuk berinteraksi dengan orang lain, atau bahkan ketidakmampuan melakukan tugas sehari-hari yang sebelumnya lancar.

Gejala Trauma yang Bervariasi

Korban kecelakaan kereta sering mengalami reaksi psikologis yang beragam. Psikolog Rose Mini Agoes Salim menjelaskan bahwa gejala bisa mencakup kecemasan berlebihan, seperti gemetar saat berada di tempat umum atau terasa jantung berdebar-debar tanpa alasan jelas. Beberapa korban juga mengalami kesulitan berkonsentrasi, sehingga tampak seperti bengong atau tidak responsif ketika dihadapkan pada situasi yang mengingatkannya pada kejadian lalu. Selain itu, stimulus seperti suara kereta, aroma minyak, atau bahkan gambar rel kereta bisa memicu respons ketakutan yang intens, membuat seseorang menghindari aktivitas tertentu.

“Korban bisa merasa gelisah saat mendengar suara kereta atau bahkan menghindari moda transportasi tertentu karena trauma yang masih tersisa,” lanjutnya. Dalam kondisi tertentu, trauma juga bisa memicu serangan panik, yang menampakkan gejala seperti sesak napas, keringat dingin, serta perasaan takut yang tanpa alasan jelas. “Serangan panik sering terjadi tiba-tiba, seperti saat berada di tempat ramai atau ketika teringat kejadian. Ini bisa menghambat kemampuan korban untuk menjalani kehidupan normal,” jelas psikolog tersebut.

Pemulihan Trauma Memerlukan Dukungan yang Tepat

Pemulihan dari trauma kecelakaan kereta, menurut Rose Mini Agoes Salim, membutuhkan waktu serta bantuan dari lingkungan sekitar. “Lingkungan harus memahami bahwa pemulihan tidak bisa disamaratakan, karena setiap orang memiliki perjalanan mental yang berbeda,” tambahnya. Psikolog ini menyarankan pendekatan yang personal, seperti konseling atau terapi, untuk membantu korban mengatasi rasa takut dan kecemasan yang muncul. Terapi berbasis kognitif dan perilaku (CBT), misalnya, bisa menjadi pilihan efektif untuk membangun cara berpikir baru terhadap pengalaman traumatis.

Dalam beberapa kasus, trauma yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi depresi, yang ditandai dengan kelelahan berlebihan, perubahan nafsu makan, dan kesulitan dalam menjaga hubungan sosial. Kondisi ini sering muncul setelah periode kecemasan yang lebih ringan, dan bisa berdampak pada kualitas hidup korban. Selain itu, korban mungkin mengalami gangguan tidur, seperti insomnia atau mimpi buruk, yang memperparah proses pemulihan.

Perhatian Publik Terhadap Dampak Kesehatan Mental

Kecelakaan kereta di Bekasi Timur sebelumnya mendapat perhatian luas dari masyarakat, tidak hanya karena jumlah korban yang signifikan, tetapi juga karena dampak psikologis yang berkepanjangan. Menurut psikolog tersebut, kejadian seperti ini bisa menjadi pengingat bagi banyak orang tentang keberadaan bahaya dalam kehidupan sehari-hari. “Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa trauma tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga pada mental. Ini bisa memengaruhi cara seseorang memandang dunia sekitar,” tuturnya.

Salah satu aspek yang sering terlewat adalah respons psikologis pada anak-anak, yang mungkin lebih rentan terhadap pengalaman trauma. Psikolog ini menyarankan pendampingan orang tua yang intensif, karena anak-anak perlu waktu lebih lama untuk memproses peristiwa tersebut. Selain itu, ia menekankan pentingnya pendidikan masyarakat tentang gejala-gejala awal trauma, sehingga bisa segera mengambil langkah pencegahan atau intervensi. “Dukungan emosional dari keluarga dan komunitas menjadi pilar utama dalam pemulihan,” ujarnya.

Menurut Rose Mini Agoes Salim, tanda-tanda trauma bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pola makan, mengalami flashbacks saat tertidur, atau bahkan merasa tidak aman dalam lingkungan yang sebelumnya dianggap nyaman. Psikolog ini juga menyoroti bahwa kecemasan atau depresi yang muncul dari trauma kecelakaan bisa bersifat kronis, sehingga membutuhkan pendekatan terapeutik jangka panjang. Dengan pemahaman yang lebih dalam