Hanya dua orang calon haji Kabupaten Malinau diberangkatkan

Hanya dua orang calon haji Kabupaten Malinau diberangkatkan

Hanya dua orang calon haji Kabupaten – Kota Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara) — Dua warga Kabupaten Malinau akhirnya mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji dalam musim 1447 Hijriah/2026 Masehi. Keduanya, Hasmiah Amiruddin Kile dan Aries, masing-masing berasal dari Desa Malinau Kota serta Kuala Lapang RT 8, berhasil memasuki jadwal keberangkatan setelah menunggu selama 12 tahun. Ini menjadi momen bersejarah bagi mereka yang selama ini bersabar menantikan panggilan kemenag.

Perubahan sistem kuota haji mengubah pola pemberangkatan

Kepala Kantor Kementerian Haji (Kemenhaj) Kabupaten Malinau, Umar Maya, menjelaskan bahwa sistem pemberangkatan haji pada tahun ini berbeda dari masa lalu. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Haji dan Umrah, kuota jamaah Kabupaten Malinau untuk tahun 2026-2027 tidak lagi diberikan secara tetap. “Kami hanya mengirimkan dua orang karena mereka termasuk dalam jamaah lunas cadangan dari tahun 2025,” kata Umar. Hal ini menunjukkan adanya penyesuaian mekanisme alokasi kuota haji yang lebih fleksibel.

Berdasarkan perubahan ketiga terhadap UU Nomor 8 Tahun 2019, kuota haji kini dikelola berdasarkan kebutuhan dan prioritas, bukan lagi secara mandatori per kabupaten/kota. Umar menambahkan bahwa untuk kuota murni musim haji 2026-2027, Malinau tidak memiliki slot terbuka. “Kebijakan ini mengubah cara kita mengatur jamaah, terutama bagi daerah dengan jumlah pendaftar yang lebih sedikit dibandingkan kuota yang diberikan,” ujarnya. Meski demikian, jamaah lansia tetap menjadi prioritas dalam pemenuhan kuota.

Momen haru di antara jamaah yang menunggu

Dua warga Malinau yang berangkat tersebut tak hanya mengisi slot kuota, tetapi juga menjadi simbol harapan bagi warga yang masih menanti kesempatan. Hasmiah, yang berusia 50 tahun, menyatakan rasa syukur dan bahagia setelah 12 tahun bersabar. “Alhamdulillah, akhirnya bisa berangkat. Ini adalah panggilan dari Allah SWT,” kata Hasmiah, menjelaskan bahwa ia memilih waktu ini untuk menunaikan ibadah haji setelah menunggu berbulan-bulan. Ia juga berharap seluruh proses perjalanan berjalan lancar dan pulang ke Tanah Air dalam keadaan baik.

“Mudah-mudahan semuanya lancar dan selamat. Doakan seluruh proses perjalanan ibadah haji berjalan lancar hingga kembali ke Tanah Air dengan selamat,” ujarnya.

Aries, yang berusia 39 tahun, juga merasa bersyukur setelah menunggu 12 tahun sejak mendaftar. Sebagai sopir mobil muatan, ia menjelaskan bahwa kesempatan berangkat haji merupakan penghargaan untuk usaha dan kesabaran yang ia lakukan selama ini. “Syukur Alhamdulillah, senang sekali. Sudah menunggu 12 tahun,” kata Aries, menambahkan bahwa ia berharap ibadah haji ini bisa memberikan keberkahan.

Persiapan dan harapan untuk masa depan

Menurut Umar, kebijakan baru ini akan memberikan dampak signifikan pada jumlah jamaah yang diberangkatkan. Dalam beberapa tahun ke depan, Malinau akan melihat peningkatan kuota secara bertahap. “Pada 2028, kami akan mengirimkan sembilan orang, 2029 sebanyak 24, dan di 2030 akan ada sekitar 65 orang,” jelas Umar. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Malinau sedang membangun kapasitas dan persiapan untuk meningkatkan partisipasi dalam musim haji.

Di sisi lain, Umar menekankan bahwa pemberangkatan dua jamaah ini juga membantu mengisi kekosongan kuota dari tahun sebelumnya. Dengan adanya jamaah lunas cadangan, Kemenhaj dapat memastikan bahwa semua calon haji yang sudah memenuhi syarat tetap memiliki peluang untuk berangkat meskipun kuota tidak diberikan secara tetap. “Ini menjadi solusi untuk jamaah yang ingin berangkat namun belum mendapat slot dalam tahun yang sama,” katanya.

Meski jumlah yang diberangkatkan terbatas, Umar yakin ini adalah langkah awal yang penting. Ia berharap warga Malinau tetap antusias dan bersabar menghadapi perubahan sistem yang baru diimplementasikan. “Kami akan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah, baik yang diberangkatkan sekarang maupun yang akan datang,” ujar Umar. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap mendukung program haji yang dijalankan pemerintah.

Hajj sebagai pengingat akan kepatuhan dan kepercayaan

Bagi Hasmiah dan Aries, perjalanan ke Tanah Suci bukan hanya tentang ritual ibadah, tetapi juga tentang perjalanan spiritual yang menginspirasi. Keduanya menyatakan bahwa menunggu selama 12 tahun telah menjadi pengalaman yang berharga. “Tidak mudah menunggu selama itu, tapi rasa sabar dan kepercayaan kepada Allah menjadikan proses ini lebih bermakna,” ungkap Hasmiah, yang berharap pengalaman ini bisa menjadi motivasi bagi orang lain.

Aries menambahkan bahwa ia berharap dapat menjadi contoh bagi warga yang masih menantikan kesempatan. “Kalau bisa, semoga ada lebih banyak orang yang bergerak dan berusaha menunaikan haji,” katanya. Kedua jamaah ini juga menyampaikan doa dan harapan agar seluruh proses haji berjalan lancar, sejak perjalanan ke Tarakan hingga ibadah di Mekah.

Dalam konteks ini, keberangkatan dua jamaah dari Malinau menjadi bukti bahwa sistem haji yang baru berjalan efektif. Meski ada penyesuaian dalam alokasi kuota, Umar yakin kebijakan ini akan memberikan keadilan kepada seluruh warga yang ingin berangkat. “Kita berharap dengan perubahan ini, warga Kabupaten Malinau tetap bisa menunaikan haji meskipun dalam jumlah yang lebih sedikit,” tutupnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa Kemenhaj terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat dan tuntutan zaman yang semakin dinamis.