Key Strategy: Andalan Artha Primanusa pacu jasa kontraktor batu bara dan nikel
Andalan Artha Primanusa Perkuat Posisi di Industri Pertambangan
Key Strategy – Jakarta, 28 Mei 2026 – Perusahaan yang dikenal sebagai Andalan Artha Primanusa terus bergerak untuk memperluas cakupan layanan di bidang jasa kontraktor pertambangan batu bara dan nikel. Langkah ini diambil dalam rangka menyesuaikan dengan dinamika industri pertambangan nasional yang tetap menunjukkan potensi tumbuh signifikan ke depan. Dalam keterangan resmi yang diterbitkan di Jakarta, Selasa, Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa, Gahari Christine, mengungkapkan bahwa konsistensi dalam pengerjaan proyek di lapangan menjadi faktor utama keberhasilan sektor pertambangan. “Tidak hanya sumber daya alam yang menentukan, tetapi juga kemampuan kontraktor dalam menjaga efisiensi dan produktivitas selama operasi berlangsung,” jelasnya. Menurut Gahari, peran jasa kontraktor semakin vital dalam era transisi komoditas dan peningkatan hilirisasi industri, yang menuntut keterlibatan lebih dalam dalam berbagai tahap pengelolaan pertambangan.
Strategi Kemitraan untuk Pertumbuhan Jangka Panjang
Perusahaan tersebut menegaskan komitmennya untuk memperkuat kualitas operasional melalui kolaborasi strategis dengan mitra berpengalaman. Kemitraan ini dirancang agar dapat menyediakan solusi yang menyeluruh, mulai dari fase eksplorasi hingga tahap reklamasi lingkungan. Wilayah operasional Andalan Artha Primanusa mencakup Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, serta Halmahera Timur. Dalam hal ini, perusahaan bekerja sama dengan Grup Harum Energy, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan Grup Petrindo. “Kemitraan tersebut menjadi fondasi penting untuk menjaga konsistensi dan kualitas dalam setiap proyek,” ujar Gahari. Selain itu, Andalan Artha Primanusa saat ini mengelola beberapa kontrak operasional strategis, termasuk kerja sama dengan PT Satria Bahana Sarana di wilayah PTBA.
“Konsistensi eksekusi di lapangan adalah kunci untuk memastikan stabilitas industri pertambangan. Peran kontraktor tidak hanya sekadar menyelesaikan tugas, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan,” katanya.
Kebijakan peningkatan kapasitas operasional tersebut juga berdampak pada perluasan jaringan kerja. Memasuki tahun 2026, perusahaan berencana memperkuat keberadaannya di sektor batu bara dengan menegaskan keberhasilan dalam memperoleh kontrak baru dari berbagai pemain industri. Di antaranya adalah kerja sama dengan PT Daya Bumindo Karunia, PT Intan Bumi Persada, serta PT Arkara Prathama Energi. Penandatanganan kontrak ini diharapkan meningkatkan efisiensi pengerjaan dan memperluas basis proyek yang dijalankan.
Ekspansi ke Industri Nikel dengan Kontrak Strategis
Salah satu langkah penting yang diambil Andalan Artha Primanusa adalah mengembangkan bisnis di industri nikel. Sejak Januari 2026, perusahaan sukses memperluas pasar dengan mendapatkan kontrak pengembangan dan operasi penambangan bersama PT Position di Maluku Utara. Proyek ini menjadi bukti komitmen perseroan untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang terus berubah. “Kami melihat potensi pertumbuhan signifikan dalam industri nikel, sehingga mengejar diversifikasi menjadi kebijakan yang strategis,” tambah Gahari. Langkah ini tidak hanya memperkaya keterampilan perusahaan, tetapi juga mengamankan pangsa pasar dalam sektor yang dinilai sangat berpotensi.
“Diversifikasi ke nikel memperkuat kemampuan kami dalam menyediakan layanan yang komprehensif, baik untuk permintaan sekarang maupun di masa depan,” ujar Gahari Christine.
Menurut laporan terkini, sektor pertambangan Indonesia sedang mengalami transisi yang cepat. Pertumbuhan konsumsi batu bara dan nikel diperkirakan tetap stabil, terutama dalam konteks kebutuhan energi nasional dan pembangunan infrastruktur. Dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 menyebutkan bahwa permintaan listrik di Indonesia akan meningkat sebesar 5,3 persen per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa batu bara tetap menjadi sumber energi utama, sementara nikel juga berperan penting dalam industri hilirisasi. “Indonesia telah memimpin produksi global nikel dengan pangsa pasar 67 persen, dan diperkirakan akan mencapai 74 persen pada 2035,” ungkap Gahari. Angka ini menegaskan bahwa nikel menjadi salah satu komoditas yang diandalkan dalam proses transisi energi nasional.
Di sisi lain, pertumbuhan energi konvensional juga diprediksi tetap stabil meski program hilirisasi nasional berjalan percepatan. Tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) diperkirakan mencapai sekitar delapan persen, sehingga total produksi nikel global diperkirakan mencapai 5,0 juta metrik ton pada 2035. “Pertumbuhan ini mencerminkan kebutuhan industri yang terus berkembang, baik dalam aspek listrik maupun ekspor,” tambahnya. Sebagai kontraktor jasa pertambangan, Andalan Artha Primanusa siap menopang kebutuhan tersebut melalui layanan yang andal dan berkelanjutan.
Strategi Berkelanjutan untuk Masa Depan
Menurut Gahari, konsistensi prospek industri pertambangan menjadi dasar utama bagi perusahaan untuk memperluas jaringan kerja. Transisi komoditas dan hilirisasi yang sedang berlangsung diharapkan memperkuat posisi Andalan Artha Primanusa sebagai mitra utama. “Kami berharap dapat memanfaatkan peluang besar yang ada, serta menjawab kebutuhan jasa kontraktor di masa mendatang,” katanya. Selain itu, perusahaan juga fokus pada penguatan kapasitas lokal, terutama di wilayah operasional yang beragam.
Dalam konteks keberlanjutan, Andalan Artha Primanusa tidak hanya memperhatikan keuntungan finansial, tetapi juga dampak lingkungan. Reklamasi dan pengelolaan sumber daya alam yang terencana menjadi bagian integral dari kebijakan perusahaan. “Kami berupaya menyelaraskan antara pertumbuhan bisnis dan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan,” jelas Gahari. Pemenuhan standar lingkungan dan keberlanjutan ini diharapkan menjadi nilai tambah dalam pemasaran jasa kontraktor pertambangan ke depan.
Dengan berbagai strategi yang diterapkan, Andalan Artha Primanusa berharap dapat memperkuat kinerja di sektor batu bara dan nikel. Tantangan yang ada, seperti fluktuasi harga dan persaingan, dianggap sebagai peluang untuk berinovasi. “Kami terus meningkatkan kapasitas dan daya tahan operasional agar selalu siap menangani proyek kompleks,” tegas Gahari. Harapan tersebut semakin realistis dengan penguasaan pangsa pasar global nikel yang terus meningkat. Dalam jangka panjang, perusahaan menargetkan menjadi pemain utama di industri pertambangan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Dengan dukungan dari sejumlah mitra strategis, Andalan Artha Primanusa berkomitmen untuk menjadi mitra yang bisa diandalkan. Sebagai kontraktor jasa pertambangan, perusahaan berupaya memenuhi berbagai kebutuhan industri, baik untuk mendukung pembangunan infrastruktur maupun pengembangan energi. “Kami percaya bahwa peran kontraktor akan semakin penting di masa depan, terutama dalam menghadapi perubahan global di sektor pertambangan,” pungkas Gahari. Keberhasilan proy
