4.357 calon haji gelombang pertama asal Riau telah berangkat ke Makkah

4.357 Calon Haji Gelombang Pertama Asal Riau Sudah Tiba di Makkah

4 357 calon haji gelombang pertama – Pekanbaru, (ANTARA) – Sejumlah besar jamaah haji dari Provinsi Riau yang tergabung dalam gelombang pertama telah melangkah ke Tanah Suci Makkah, Arab Saudi. Rombongan ini berangkat dari Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, dan mencakup seluruh kloter dari BTH 3 hingga BTH 12. Pemberangkatan dilakukan secara bertahap, dengan masing-masing kloter mengirimkan peserta berdasarkan jadwal yang telah ditentukan.

Persiapan dan Pemberangkatan Jamaah

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Riau, Defizon, menyampaikan bahwa selain jamaah haji, rombongan juga melibatkan sejumlah petugas pendamping. Dalam keterangan yang diterima di Pekanbaru, Rabu (5/5), Defizon menjelaskan bahwa total peserta yang telah berangkat mencapai 4.422 orang. Angka ini termasuk 20 petugas haji daerah, 5 pembimbing kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah, serta 40 petugas kloter yang bersifat tambahan.

Pemberangkatan dilakukan dengan menggunakan maskapai Saudi Airlines, yang telah dipersiapkan secara matang untuk memastikan kelancaran perjalanan. Sebelumnya, seluruh jamaah telah menjalani proses registrasi dan pemeriksaan medis untuk memastikan kesiapan mereka. Defizon juga menegaskan bahwa setiap jamaah diberikan penjelasan singkat mengenai aturan dan persyaratan selama berada di Arab Saudi.

Detail Kloter Terakhir dan Pengaruhnya

Kloter terakhir dalam gelombang pertama membawa 434 orang, terdiri dari jamaah haji, 2 petugas haji daerah (PHD), 1 pembimbing kelompok bimbingan ibadah haji (KBIHU), dan 4 petugas kloter. Rombongan ini berangkat pada hari Selasa (5/5) setelah menghabiskan beberapa hari di Bandara Hang Nadim. Defizon menyebutkan bahwa terdapat satu calon haji asal Kabupaten Rokan Hulu yang tidak berhasil berangkat akibat kondisi kesehatan yang memburuk.

Dalam kloter ini, juga terjadi mutasi peserta. Sebanyak satu jamaah dari Kloter BTH 03 yang berangkat dari Pekanbaru bergabung dengan kloter terakhir, sementara dua jamaah dari Kloter BTH 08 asal Rokan Hulu diizinkan untuk masuk dalam kloter tersebut. Mutasi ini dilakukan setelah melalui evaluasi oleh petugas medis yang menilai kondisi jamaah layak untuk berangkat.

Menurut Defizon, beberapa jamaah masih memerlukan perawatan sebelum benar-benar berangkat. Tiga dari Kabupaten Siak dan Rokan Hulu sedang menjalani pemulihan di Batam, didampingi oleh tiga pendamping yang bertugas memastikan kebutuhan mereka terpenuhi. Hal ini memberikan gambaran bahwa pemberangkatan tidak hanya melibatkan jamaah haji tetapi juga tim pendukung yang berperan penting dalam kesuksesan misi.

Kondisi Kesehatan dan Persiapan Tambahan

Dalam rangka memastikan kesiapan jamaah haji, Defizon mengatakan bahwa beberapa peserta mengalami penundaan atau batal berangkat. Di antaranya, 10 orang dirawat di Batam sebelum terbang ke Makkah, termasuk 8 pendamping yang ikut menemani mereka. Lima jamaah juga kembali ke daerah asal karena alasan kesehatan, yaitu 3 yang sakit dan 2 pendamping yang menemani. Selain itu, terdapat 2 jamaah yang mengalami kondisi sakit di wilayah masing-masing, serta 1 jamaah yang dalam keadaan hamil saat memasuki embarkasi.

Ada pula satu jamaah yang meninggal dunia di daerah asal sebelum akhirnya berhasil berangkat. Defizon menjelaskan bahwa situasi ini membutuhkan pengawasan ekstra dari tim medis dan petugas kloter untuk memastikan proses berjalan lancar. Ia juga menekankan bahwa seluruh jamaah harus tetap mematuhi protokol kesehatan dan menjaga kondisi fisik serta mental sebelum dan selama perjalanan.

Importansi Kartu Nusuk dalam Ibadah Haji

“Kartu Nusuk merupakan kartu pintar resmi dari Pemerintah Arab Saudi yang memuat data profil jamaah, informasi medis, serta jadwal kegiatan ibadah. Tanpa kartu ini, jamaah tidak dapat mengakses berbagai fasilitas, termasuk di kawasan Armuzna,” tukas Defizon.

Dalam proses pelaksanaan ibadah haji, Kartu Nusuk memiliki peran kritis sebagai dokumen utama yang digunakan untuk memasuki Makkah, Madinah, serta Masjidil Haram. Kartu ini juga digunakan untuk mengakses lokasi suci lainnya, seperti pusat ibadah dan tempat-tempat wajib haji. Defizon mengingatkan seluruh jamaah untuk menjaga keamanan dan kejelasan Kartu Nusuk, karena kehilangan dokumen tersebut dapat menghambat aktivitas mereka di Arab Saudi.

Kartu Nusuk dirancang agar dapat menunjang proses ibadah dengan lebih efisien. Pemerintah Arab Saudi menyediakan kartu ini sebagai alat pengidentifikasi dan alat pembantu dalam mengelola jamaah. Selain itu, kartu ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi antara jamaah dengan petugas yang mengawasi kegiatan mereka. Dengan adanya Kartu Nusuk, setiap jamaah dapat dengan mudah memperoleh informasi tentang jadwal, lokasi, dan kebutuhan selama berada di Tanah Suci.

Defizon menambahkan bahwa pihatannya terus memantau kondisi jamaah haji dan petugas pendamping. Ia meminta seluruh pihak untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca, kondisi kesehatan, dan segala hal yang dapat mengganggu kelancaran ibadah haji. Dalam konteks ini, pelaksanaan pemberangkatan gelombang pertama menjadi bagian penting dalam memastikan jamaah haji dapat menjalani ibadah dengan optimal.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah juga menyebutkan bahwa jumlah jamaah yang berangkat tidak hanya berdasarkan target tetapi juga mempertimbangkan kesiapan dan keadaan kesehatan. Ia berharap seluruh jamaah dapat menjalani ibadah dengan lancar dan aman, serta memperoleh pengalaman spiritual yang bermakna. Dengan pemberangkatan yang telah berlangsung, Defizon yakin bahwa gelombang pertama telah memenuhi standar kualitas yang diharapkan oleh pemerintah dan masyarakat.

Proses pemberangkatan jamaah haji gelombang pertama menunjukkan koordinasi yang baik antara berbagai pihak, termasuk Pemerintah Arab Saudi, Kementerian Haji dan Umrah Riau, serta para petugas pendamping. Def