Latest Program: Indonesia terapkan RAM AI UNESCO untuk evaluasi AI yang etis

Indonesia Terapkan RAM AI UNESCO untuk Evaluasi Teknologi Etis

Latest Program – Jakarta, Selasa – Pemerintah Indonesia kini mengadopsi metode evaluasi baru berupa UNESCO Readiness Assessment Methodology (RAM) for AI, yang bertujuan menilai siap tidaknya negara dalam menerapkan kecerdasan buatan (AI) secara adil dan bertanggung jawab. Penyelenggaraan RAM AI ini merupakan langkah strategis dalam memastikan teknologi tidak hanya berkembang secara cepat, tetapi juga sesuai dengan nilai-nilai universal. Dalam laporan pers yang diterbitkan oleh Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), dijelaskan bahwa RAM AI menjadi alat penting untuk mengukur kesiapan nasional dalam membangun sistem AI yang berkelanjutan.

RAM AI: Alat Evaluasi Etika Global

Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, IGAK Satrya Wibawa, menjelaskan bahwa metode ini membantu memetakan kemampuan Indonesia dalam aspek regulasi, sumber daya manusia, dan manajemen data. “RAM AI berperan sebagai panduan untuk menilai kesiapan bangsa ini dalam mengintegrasikan AI ke dalam kehidupan sehari-hari dengan prinsip etika global UNESCO sebagai dasar,” tutur Satrya dalam webinar series yang diselenggarakan oleh Atdikbud dan Wadetap RI untuk UNESCO. Tema acara tersebut, “Semangat Global, Berdampak Lokal: UNESCO dan Indonesia dalam Dialog Dua Arah,” menekankan pentingnya kolaborasi antara nilai internasional dan implementasi lokal.

“Melalui RAM AI, kita dapat memetakan kesiapan Indonesia dalam aspek regulasi, kapasitas SDM, hingga tata kelola data. Ini memastikan bahwa transformasi digital berjalan sejalan dengan prinsip etika global UNESCO,” kata Satrya.

Menurutnya, dalam era percepatan adopsi teknologi, pendekatan berbasis etika dan data menjadi lebih kritis. “Pendekatan ini tidak hanya mendorong inovasi, tetapi juga memastikan keberlanjutan budaya digital, literasi media, dan keamanan informasi,” tambah Satrya. Ia menyoroti bahwa UNESCO tidak hanya berfungsi sebagai organisasi global, tetapi juga sebagai mitra yang menjembatani praktik lokal dengan visi internasional. “UNESCO hidup dalam praktik sehari-hari, dalam guru yang menggunakan referensi global, dalam peneliti yang memanfaatkan data terbuka, dan dalam komunitas yang mengembangkan inovasi berbasis budaya,” imbuhnya.

Kolaborasi dan Sinergi dalam Implementasi RAM AI

Satyra menggarisbawahi bahwa keberhasilan penerapan RAM AI bergantung pada kolaborasi yang kuat antara pemerintah, KNIU, institusi pendidikan, serta masyarakat. “Sinergi ini membentuk fondasi untuk menjadikan UNESCO sebagai platform strategis dalam pembangunan nasional yang inklusif, berbasis data, dan kompetitif secara global,” jelasnya. Dengan metode ini, Indonesia diharapkan dapat mengembangkan sistem AI yang tidak hanya efisien, tetapi juga menghormati hak asasi manusia dan keadilan sosial.

KNIU berharap RAM AI bisa menjadi acuan dalam kebijakan nasional, termasuk di sektor pendidikan, kebudayaan, sains, dan komunikasi. “Evaluasi berbasis RAM AI memungkinkan kita melihat bagaimana penerapan teknologi bisa sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan,” tambah Satrya. Ia juga menekankan bahwa RAM AI tidak hanya mengukur kesiapan teknis, tetapi juga mengidentifikasi tantangan dalam kesadaran etis masyarakat terhadap AI.

Upaya Indonesia dalam Kolaborasi UNESCO

KNIU menyatakan bahwa Indonesia memiliki sejumlah keunggulan dalam kerja sama dengan UNESCO. Di bidang pendidikan, lebih dari 80 sekolah telah tergabung dalam UNESCO Associated Schools Network (ASPnet), yang merupakan bagian dari jaringan global terbesar di lebih dari 80 negara. “Jumlah sekolah tersebut membuktikan komitmen Indonesia dalam pendidikan berbasis global dan lokal,” ungkap Satrya. Selain itu, Indonesia memiliki lebih dari 850 UNESCO Chairs di 117 negara, yang memperkuat kolaborasi riset dan transfer pengetahuan.

Dalam sektor kebudayaan, Indonesia terus memperkuat posisinya dengan 16 Warisan Budaya Takbenda (ICH) yang diakui UNESCO. “Budaya lokal adalah aset penting dalam mendorong inovasi teknologi yang relevan dengan masyarakat,” katanya. Selain ICH, ada juga sejumlah Situs Warisan Dunia yang memiliki nilai universal, seperti Situs Taman Nasional Komodo dan Situs Gunung Bromo. “Dengan RAM AI, kita bisa menilai bagaimana kebudayaan Indonesia diintegrasikan ke dalam pengembangan teknologi,” lanjut Satrya.

Transformasi Digital Berbasis Etika

Dalam bidang sains, Indonesia memiliki lebih dari 20 Cagar Biosfer UNESCO dan 12 UNESCO Global Geopark. “Konservasi lingkungan dan riset ilmiah tidak bisa dipisahkan dari pendekatan etis dalam penggunaan teknologi,” jelas Satrya. Di sektor komunikasi dan informasi, Indonesia telah mendaftarkan 16 arsip ke dalam Memory of the World (MoW) UNESCO, yang menjadi bagian dari upaya pelestarian dokumentasi sejarah global.

Satyra juga menyoroti bahwa RAM AI mencakup empat aspek utama: kerangka regulasi, kapasitas SDM, tata kelola data, dan partisipasi masyarakat. “Setiap aspek ini perlu dikelola secara berimbang agar AI tidak hanya menguntungkan sebagian kelompok, tetapi mencakup seluruh lapisan masyarakat,” kata dia. Dengan RAM AI, Indonesia diharapkan dapat menghindari risiko seperti diskriminasi digital atau penyalahgunaan teknologi yang merusak keseimbangan ekosistem.

Kemajuan dan Tantangan dalam Penerapan RAM AI

Menurut laporan KNIU, penerapan RAM AI tidak hanya menyoroti kemajuan, tetapi juga menyadarkan tentang tantangan yang dihadapi. “Kita perlu memperkuat regulasi nasional, meningkatkan literasi AI di masyarakat, dan memastikan akses yang merata terhadap teknologi,” tegas Satrya. Ia menambahkan bahwa RAM AI juga menjadi alat untuk mengukur kinerja pemerintah dalam mengelola data secara transparan dan akuntabel.

RAM AI, sebagai metode evaluasi internasional, diharapkan bisa memperkuat koordinasi antar lembaga. “Kerangka ini membantu kita membandingkan progres Indonesia dengan negara-negara lain dalam menerapkan AI secara etis,” kata Satrya. Dengan adanya RAM AI, Indonesia bisa menyesuaikan kebijakan lokal sesuai dengan standar global. “Ini tidak hanya menguntungkan sektor teknologi, tetapi juga memperkuat ekonomi dan kehidupan sosial secara keseluruhan,” imbuhnya.

Potensi RAM AI untuk Pembangunan Nasional

Dalam dialog dua arah antara Indonesia dan UNESCO, Satrya memaparkan bahwa RAM AI adalah kunci untuk menciptakan transformasi digital yang berkelanjutan. “Pembangunan berbasis data dan bukti memastikan bahwa setiap inovasi teknologi memiliki dampak yang dapat diukur dan diperbaiki,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menilai kebijakan AI. “Masyarakat adalah bagian dari sistem, jadi partisipasi mereka sangat vital dalam menjaga keadilan dan keberlanjutan,” tuturnya.

Di samping itu, Satrya berharap RAM AI bisa menjadi alat untuk memperkuat kerja sama internasional. “Dengan RAM AI, Indonesia dapat berkontribusi pada kebijakan global tentang AI, sekaligus belajar dari pengalaman negara-negara lain,” katanya. Laporan strategis seperti Global Education Monitoring (GEM) Report juga menjadi rujukan dalam menilai capaian pendidikan global, yang dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas transformasi digital.

Dengan mengadopsi RAM AI, Indonesia memperlihatkan komitmen untuk menjadikan teknologi sebagai alat yang mendukung kesejahteraan bersama. “Ini bukan hanya tentang inovasi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi bisa memperkuat kehidupan manusia secara universal,” pungkas Satrya. Penerapan metode ini diharapkan menjadi jembatan antara kecerdasan buatan dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar UNESCO.