WHO konfirmasi lima kasus virus Andes dari kapal pesiar
WHO konfirmasi lima kasus virus Andes dari kapal pesiar
WHO konfirmasi lima kasus virus Andes – Jenewa – Dalam sebuah konferensi pers daring, Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengungkapkan bahwa lima dari delapan kasus infeksi yang dilaporkan dari kapal pesiar MV Hondius telah diperiksa dan dikonfirmasi sebagai penyebaran virus Andes. Jenis hantavirus ini dikenal langka, serta memiliki kemampuan menular antarmanusia secara terbatas. Sejauh ini, wabah ini telah menyebabkan tiga kematian, menurut informasi yang diberikan oleh lembaga kesehatan global tersebut.
Kapal pesiar MV Hondius, yang saat ini sedang berlayar menuju Kepulauan Canary, menjadi pusat perhatian setelah sejumlah penumpang terjangkit virus Andes. Tedros menyebutkan bahwa lima individu yang menunjukkan gejala penyakit sudah diperiksa melalui laboratorium, sementara tiga kasus lainnya masih dalam status dugaan. Meski demikian, otoritas kesehatan terus memantau semua kasus untuk memastikan potensi penyebaran lebih lanjut.
Virus Andes, yang terutama ditemukan di wilayah Amerika Selatan, biasanya ditularkan melalui hewan pengerat. Namun, dalam kasus ini, penularan antarmanusia terjadi, meski dengan tingkat yang terbatas. Tedros menjelaskan bahwa interaksi dekat dan berkepanjangan, seperti antaranggota keluarga atau di lingkungan kerja medis, menjadi faktor utama dalam penyebaran wabah. Pemantauan ketat terhadap semua orang yang terjangkit tetap dilakukan oleh pihak berwenang setempat.
Dalam pidatonya, Tedros menegaskan bahwa masa inkubasi virus ini bisa mencapai enam pekan, sehingga kemungkinan adanya kasus baru masih terbuka. “Hal ini berarti kita perlu tetap waspada dan terus mengumpulkan data,” kata dia. Meski risiko kesehatan masyarakat secara keseluruhan dianggap rendah, WHO mengingatkan bahwa wabah ini dapat berkembang jika tidak diatasi secara cepat. Saat ini, tidak ada penumpang atau awak kapal yang menunjukkan gejala pada tahap awal, menurut laporan terbaru.
“Masa inkubasi virus Andes dapat mencapai enam pekan, sehingga ada kemungkinan lebih banyak kasus akan dilaporkan,” kata Tedros, dalam konferensi pers daring yang dihadiri oleh tim medis dan otoritas kesehatan dari berbagai negara.
Kapal pesiar MV Hondius menjadi tempat transmisi utama virus ini, meski belum ada bukti bahwa kontak dengan penumpang lainnya memicu penyebaran lebih luas. Tedros menyebutkan bahwa WHO sedang mengumpulkan informasi dari sumber-sumber yang relevan, termasuk laporan tentang individu yang kemungkinan pernah berinteraksi dengan pasien terjangkit. Dengan demikian, lembaga tersebut meminta semua pihak untuk melaporkan gejala atau penyebaran tambahan segera.
Penyakit yang disebabkan oleh virus Andes biasanya menunjukkan gejala seperti demam, mual, dan gejala parah seperti gagal jantung atau kejang. Penularan antarmanusia lebih sering terjadi dalam lingkungan tertutup atau ruang dengan konstan interaksi, seperti kapal pesiar. Karena adanya risiko penularan, para penumpang yang terjangkit diminta untuk tetap berada di kabin masing-masing selama proses disinfeksi berlangsung. Langkah ini dilakukan sebagai upaya memutus rantai infeksi sebelum kapal tiba di tujuan.
Sementara itu, WHO sedang menginvestigasi lebih lanjut untuk memahami dinamika penyebaran virus Andes di kapal pesiar tersebut. Organisasi tersebut juga berharap mengidentifikasi sumber infeksi awal, apakah dari hewan pengerat yang ada di kapal atau interaksi manusia yang terjadi selama perjalanan. Tekanan pada pemantauan dan pencegahan akan terus dilakukan, terutama terhadap penumpang yang belum menunjukkan gejala.
Kasus wabah ini menimbulkan perhatian internasional karena virus Andes tidak seumur hidup seperti virus lainnya yang lebih dikenal. Meski jarang terjadi, penularan antarmanusia dapat menyebabkan dampak serius jika tidak terdeteksi dini. Tedros menyatakan bahwa virus ini memiliki sifat menular yang relatif lambat, tetapi kecepatan penyebarannya bisa meningkat dalam kondisi tertentu, seperti kepadatan penumpang atau kurangnya kebersihan.
Sebagai langkah pencegahan, kapal pesiar MV Hondius akan melakukan pengecekan kesehatan berkala hingga semua penumpang dipastikan bebas dari gejala. Penumpang yang mengalami tanda-tanda penyakit akan segera diisolasi dan diberikan perawatan medis yang memadai. WHO juga berkoordinasi dengan pihak lokal dan pemerintah untuk memastikan penanganan yang cepat dan efektif.
Virus Andes ditemukan pertama kali di negara-negara seperti Argentina, Chili, dan Peru, di mana kasusnya sering terjadi dalam keluarga atau komunitas dengan akses terbatas ke fasilitas kesehatan. Di kapal pesiar, lingkungan yang tertutup dan interaksi manusia yang intens menjadi faktor risiko tambahan. Meski begitu, tidak semua penumpang terpapar, dan upaya mengisolasi yang terinfeksi diharapkan dapat mencegah penyebaran lebih luas.
WHO menekankan bahwa meskipun kasusnya terbatas, virus Andes tetap memerlukan perhatian serius. Dengan adanya lima kasus yang dikonfirmasi dan tiga kematian, lembaga tersebut memberikan rekomendasi untuk pengawasan intensif di seluruh jaringan transportasi laut. Penumpang yang terjangkit dianjurkan menghindari kontak dekat dengan orang lain selama periode inkubasi hingga benar-benar pulih. Selain itu, kesehatan umum di kapal pesiar akan diperiksa secara berkala untuk memastikan tidak ada penyebaran baru.
Virus ini biasanya tidak menyebar dengan cepat, tetapi risiko penularan meningkat jika ada penumpang yang mengalami gejala penyakit selama perjalanan. Untuk meminimalkan dampak, kapal pesiar akan melakukan pembersihan dan penyemprotan disinfektan secara rutin. Sementara itu, pihak otoritas juga meminta penumpang yang tidak terinfeksi tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku, seperti mengenakan masker dan mencuci tangan secara teratur.
Penyebaran virus Andes di kapal pesiar menjadi contoh bagaimana penyakit yang jarang bisa mengancam kesehatan publik dalam situasi tertentu. Dengan dukungan teknologi pemeriksaan laboratorium dan sistem pelacakan, WHO berharap bisa mengendalikan wabah ini
