Main Agenda: Dari kanan ke utara, kisah mesra ultras Lazio dan Inter Milan

Dari Kanan ke Utara, Kisah Mesra Ultras Lazio dan Inter Milan

Main Agenda – Di tengah pertandingan antara Lazio dan Inter Milan, sebuah momen yang selalu memikat penggemar sepak bola di seluruh Eropa, khususnya pada pertandingan final Coppa Italia 2025/2026 yang berlangsung di Stadion Olimpico, Roma, pada Kamis (14/5) dini hari WIB, terdapat dua kelompok ultras yang memiliki hubungan unik. Kedua kelompok ini, Boys San dari Inter Milan dan Irriducibili dari Lazio, meski berada di pihak berbeda, tetap terikat oleh ideologi yang sama, yaitu fasisme. Hal ini membuat pertandingan antara kedua tim bukan hanya pertunjukan olahraga, tetapi juga pameran semangat politik yang terus memengaruhi sejarah sepak bola Italia.

Moment Sejarah dalam Kebanggaan Piala Italia

Kebanggaan terhadap pertandingan antara Lazio dan Inter Milan sebagian besar berasal dari sejarah yang melekat pada kedua kelompok suporter tersebut. Mereka tidak hanya membanggakan keberadaan timnya masing-masing, tetapi juga menjadi simbol dari ideologi kanan yang masih hidup hingga kini. Di Italia, kisah fasisme yang diperkenalkan oleh Benito Mussolini tetap menjadi pengingat akan masa lalu berdarah. Meski memimpin antara tahun 1922 hingga 1945, paham kanan yang dibawanya membawa Italia ke dalam kubangan hitam sejarah. Mussolini, dengan tangan besi, menghancurkan setiap yang dianggapnya tidak sejalan dengan visi kekuasaannya, termasuk menghancurkan nilai-nilai demokrasi.

Sebelum perang dunia II, fasisme Mussolini menjadi gerakan politik dominan yang memperkuat ketergantungan rakyat terhadap pemerintahan. Ia memimpin dengan menyatukan perbedaan, mengubah segala sesuatu menjadi satu arah. Pemikiran rasial menjadi inti dari ideologinya, sehingga membuatnya terlibat dalam genosida terhadap masyarakat Yahudi. Per 1945, Mussolini meninggal setelah ditangkap oleh rakyatnya sendiri yang terus berkumpul untuk mengakhiri dominasinya. Meski begitu, jejak fana dari paham kanan itu masih terasa hingga kini, terutama di pinggir lapangan hijau.

Jejak Fasisme dalam Kehadiran Ultras

Kelompok ultras Boys San, yang menjadi bagian dari Inter Milan, berkembang dari sayap sayap kanan Movimento Sociale Italiano (MSI) pada akhir 1960-an. Mereka awalnya dikenal sebagai “Boys-Furie Nerazzurre” dan terbentuk atas dasar keterlibatan Franco Servello, seorang tokoh MSI yang dekat dengan klub. Kelompok ini semula berasal dari Fronte della Gioventu, organisasi pemuda MSI, yang bertindak sebagai penggerak ideologi kanan. Setelah beberapa tahun, nama mereka berubah menjadi “Boys San”, dengan akronim “Squadre d’azione Nerazzure” yang menggambarkan kekuatan rasial mereka.

“Motif ideologis mereka lebih kental daripada loyalitas terhadap sepak bola,” tulis Alberto Testa dan Gary Armstrong dalam bukunya “Italian Ultras and Neo-Fascism” yang diterbitkan di Social Indentities: Journal for the Study of Race, Nation and Culture (2008).

Kelompok ultras Lazio, Irriducibili, juga memiliki akar yang tak terlepas dari paham kanan. Mereka mulai beraksi secara terbuka pada 1987, setelah momentum kemenangan Lazio di Liga Italia 1973/1974 memicu kegembiraan yang lebih besar. Saat itu, sebagian pemain Lazio berhubungan dengan anggota MSI, sehingga membawa pengaruh ideologi fasisme ke dalam komunitas suporter. Kelompok ini sangat selektif dalam memilih anggota yang berhak duduk di tribun utara (curva nord) Stadion Olimpico. Mereka menilai bahwa setiap orang yang duduk di sana harus memiliki keyakinan yang sama terhadap nilai-nilai fasisme.

Kembali ke Neo-Fasisme: Kekuatan yang Terus Berlanjut

Dalam tesisnya di Universitas Luiss Guido Carli, Roma, Gil Meiler menjelaskan bahwa ultras dapat menjadi lahan subur bagi kebangkitan neo-fasisme. “Ultas Groups as a Breeding Ground for Fascism: Reflections of an Unresolved Past” adalah judul risetnya, yang menyoroti bagaimana ideologi kanan tetap hidup dalam budaya suporter. Meiler menyoroti perubahan nama dari “Boys-Furie Nerazzurre” menjadi “Boys San” sebagai upaya merekonstruksi kembali simbol-simbol fasisme yang sudah lama pupus.

Meiler menegaskan bahwa Boys San menggunakan istilah “San” yang mirip dengan “SAM”, atau Squadre d’azione Mussolini, yang merupakan pasukan paramiliter Mussolini. SAM bertugas memperkuat kekuasaan diktator tersebut, dan kini Boys San mengambil alih peran itu dalam bentuk modern. Di sisi lain, Irriducibili Lazio menjadi contoh lain dari bagaimana neo-fasisme menyelinap ke dalam kultur olahraga. Mereka menyebut diri mereka sebagai “Irriducibili”, yang dalam bahasa Inggris berarti “tidak dapat direduksi”, tetapi dalam konteks lokal, istilah itu menjadi manifestasi dari kepercayaan mereka terhadap nilai-nilai fasisme yang dianggap paling murni.

Dalam karya Simon Martin yang diterbitkan di Revista Critica de Ciencias Sociais (2018), disebutkan bahwa MSI memiliki pengaruh yang signifikan dalam pembentukan Irriducibili. Martin menjelaskan bahwa kegembiraan atas kemenangan Lazio pada 1973/1974 membuat anggota MSI memperluas pengaruh mereka ke dalam komunitas suporter. Mereka mengisi tribun utara Stadion Olimpico dengan para pemuda yang memuja sosok Mussolini, meski secara eksplisit mereka tidak menyerukan ideologynya dalam bentuk yang terbuka.

Hubungan antara ultras kedua tim ini menjadi bukti bahwa kesadaran sejarah tentang fasisme tidak pernah hilang, tetapi terus diwariskan ke generasi berikutnya. Sebagai hasil, pertandingan antara Lazio dan Inter Milan bukan hanya tentang siapa yang akan memenangkan, tetapi juga tentang pertunjukan ideologi yang terus hidup di bawah nama-nama yang berbeda. Kedua kelompok tersebut menjadi simbol bahwa kekuatan kanan masih berkembang, meski dalam bentuk yang lebih subtis dan modern.