Rupiah diprediksi menguat seiring selera pasar pada aset EM meningkat

Rupiah Diprediksi Menguat Beriringan dengan Kenaikan Selera Risiko di Aset EM

Rupiah diprediksi menguat seiring selera pasar – Jakarta, Selasa — Perkiraan tentang penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin menguat, berdasarkan analisis yang menyebutkan adanya perubahan preferensi pelaku pasar terhadap aset emerging market (EM). Rully Nova, ahli dari Bank Woori Saudara, mengungkapkan bahwa tren ini dipicu oleh peningkatan minat terhadap aset berisiko, yang sejalan dengan situasi global yang mulai menunjukkan arah penguatan. “Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan kembali menguat, dengan kisaran Rp17.820 hingga Rp17.870,” jelasnya kepada ANTARA di Jakarta. Faktor-faktor seperti penurunan harga minyak dan kejatuhan yen memperkuat dinamika ini, sementara indeks dolar AS mulai bergerak stabil setelah mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Menguatnya Selera Risiko Pelaku Pasar

Berdasarkan survei dan analisis global, Rully Nova menilai bahwa peningkatan selera risiko menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan rupiah. “Ketika pelaku pasar mulai mencari aset yang menghasilkan imbal hasil lebih tinggi, mereka meninggalkan safe assets seperti yen dan mengalihkan investasi ke pasar saham serta aset emas,” katanya. Perubahan ini tidak hanya terjadi di pasar global, tetapi juga terasa di pasar lokal Indonesia, yang menunjukkan respons positif terhadap kebijakan moneter dan kondisi ekonomi domestik.

Kondisi Yen dan Dolar AS

Yen Jepang, yang telah menjadi salah satu mata uang safe asset selama bertahun-tahun, kembali mengalami tekanan akibat ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang terus meningkat. Xinhua mengungkapkan bahwa yen bergerak ke level terendah dalam hampir 39 tahun terakhir, tercatat di kisaran 161,90 terhadap dolar AS. Level ini menandai titik terendah sejak Desember 1986, yang terjadi karena kebijakan moneter ketat yang dijalankan Bank of Japan (BoJ) dan kurangnya kebutuhan pasar terhadap mata uang tersebut.

“Kejatuhan yen akibat pelaku pasar meninggalkan safe asset yang identik dengan yen dan mengejar aset yang yield-nya tinggi serta pasar saham dengan momentum kenaikan saham-saham perusahaan teknologi,” ungkap Rully.

Kondisi Pasar Minyak dan Dolar

Pergerakan harga minyak yang turun juga berkontribusi pada dinamika pasar keuangan. Harga minyak mentah berada di kisaran 70 dolar AS per barel, yang menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Turunnya harga minyak memberi dampak langsung pada inflasi dan biaya produksi, sehingga meningkatkan daya tarik aset berisiko. “Kondisi ini memperkuat tren ‘risk on’ yang terjadi di pasar global, di mana investor cenderung mengalihkan dana ke sektor-sektor yang menawarkan pertumbuhan lebih cepat,” tambah Rully.

Indeks Dollar Mulai Stabil

Indeks dolar AS, yang sebelumnya bergerak menguat, mulai menunjukkan penurunan di pasar. Tren ini dianggap sebagai faktor yang membantu penguatan rupiah, karena menunjukkan kecenderungan investor mengurangi eksposur pada dolar. “Penguatan rupiah juga didukung oleh penurunan indeks dolar, yang mengindikasikan ketidakstabilan mata uang AS dan minat investor pada aset lain, seperti rupiah,” jelas Rully.

Kondisi Pasar Lokal dan Obligasi Pemerintah

Di sisi domestik, minat pelaku pasar terhadap obligasi pemerintah dan instrumen Bank Indonesia (BI) masih tinggi, yang mencerminkan kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. “Yield obligasi pemerintah Indonesia menunjukkan penurunan, yang menunjukkan adanya permintaan yang kuat dari investor,” kata Rully. Penurunan ini terjadi untuk berbagai tenor, seperti obligasi 5 tahun yang turun 5,2 bps menjadi 7,08 persen, serta obligasi 16 tahun yang mengalami penurunan 4,6 bps ke level 7,3 persen. Tenor 6-8 tahun juga menunjukkan penurunan sebesar 2,4 bps, masing-masing menjadi 7,1 persen dan 7,22 persen.

“Yield obligasi pemerintah Indonesia menunjukkan penurunan, yang menunjukkan adanya minat pelaku pasar yang meningkat, serta SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) terus diburu,” tambahnya.

Analisis dan Prediksi Jangka Pendek

Rully Nova menekankan bahwa penguatan rupiah tidak hanya didasarkan pada faktor eksternal, tetapi juga dinamika internal. “Kondisi pasar lokal yang tetap stabil, ditambah kebijakan BI yang cermat, memberi dampak positif pada nilai tukar rupiah,” ujarnya. Namun, ia juga memperingatkan bahwa perubahan kebijakan moneter global atau fluktuasi harga komoditas bisa memengaruhi prediksi ini. “Meski tren penguatan terlihat jelas, kita tetap harus memantau dinamika pasar secara berkala karena ada faktor-faktor yang belum terduga,” katanya.

Konteks Global dalam Penguatan Rupiah

Penguatan rupiah beriringan dengan kenaikan selera risiko di pasar EM sejalan dengan kebijakan moneter yang lebih longgar di beberapa negara. Dalam konteks ini, investor mulai mempertimbangkan aset dari negara-negara berkembang sebagai alternatif untuk aset tradisional. “Pertumbuhan ekonomi di EM yang relatif stabil, ditambah akses yang lebih mudah terhadap pasar keuangan global, menjadikan mereka sebagai pilihan yang menarik bagi investor,” jelas Rully. Ia juga menyoroti peran teknologi dalam meningkatkan kepercayaan pasar terhadap aset EM, khususnya di tengah peningkatan adopsi digital dan efisiensi operasional perusahaan-perusahaan di sektor ini.

Kesimpulan dan Kebutuhan Pengawasan

Rully Nova menegaskan bahwa meskipun prediksi penguatan rupiah terhadap dolar AS menunjukkan kecenderungan positif, kenaikan ini perlu dilihat dalam konteks jangka pendek. “Kita masih dalam masa transisi, di mana perubahan kecil di pasar global bisa berdampak besar terhadap nilai tukar rupiah,” katanya. Untuk menjaga momentum ini, pemerintah dan BI harus terus memastikan stabilitas ekonomi nasional, serta mengelola inflasi dan ketersediaan dana investasi secara efektif.

“Penguatan rupiah juga didukung oleh penurunan indeks dolar, yang mengindikasikan ketidakstabilan mata uang AS dan minat investor pada aset lain, seperti rupiah,” jelas Rully.

Dengan situasi ini, Rully mengharapkan rupiah bisa menguat lebih lanjut di bulan mendatang, terutama jika pasar global tetap menunjukkan sikap optimis terhadap aset EM. Namun, ia juga mengingatkan bahwa volatilitas tetap bisa terjadi jika terdapat perubahan kebijakan di tingkat global, seperti kenaikan suku bunga yang tiba-tiba atau krisis geopolitik. “Kita harus tetap waspada dan menganalisis setiap pergerakan pasar secara mendalam,” pungkas Rully.