Selamatkan ekosistem sungai – 93 kg sapu-sapu ditangkap di Pesanggrahan
Selamatkan Ekosistem Sungai, 93 Kilogram Ikan Sapu-Sapu Ditangkap di Pesanggrahan
Selamatkan ekosistem sungai – Penangkapan 93 kilogram ikan sapu-sapu di Kali Pesanggrahan berlangsung pada Jumat, 26 Mei 2023, di Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat. Operasi ini dilakukan oleh Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Barat, bekerja sama dengan jajaran Kecamatan Kembangan, Kelurahan Srengseng, serta Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP). Mereka menggunakan jala sebagai alat penangkapan. Hasil operasi ini menunjukkan langkah nyata dalam upaya menjaga keseimbangan ekosistem air di wilayah Jakarta.
Proses Penangkapan dan Pemusnahan
Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Barat, Bety Rahmawati, mengungkapkan bahwa tim berhasil menjaring 463 ekor ikan sapu-sapu dalam operasi tersebut. “Hasil tangkapan langsung dikubur dalam kondisi mati di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kembangan,” jelas Bety saat dikonfirmasi di Jakarta. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ikan invasif tersebut tidak kembali ke lingkungan perairan, sehingga mengurangi risiko kerusakan ekosistem.
“Ikan sapu-sapu dikenal memiliki sifat invasif. Mereka sering berkembang biak dengan membuat lubang pada dinding turap yang menyebabkan struktur saluran air cepat rapuh,” tambah Lurah Srengseng, Tariswan, saat diwawancarai terpisah. Menurutnya, penangkapan ini menjadi prioritas untuk menjaga kelestarian ekosistem sungai dan mencegah dampak negatif dari spesies yang diperkirakan merusak keanekaragaman hayati lokal.
Dalam beberapa tahun terakhir, ikan sapu-sapu telah menjadi ancaman serius bagi lingkungan perairan Jakarta. Ikan ini dikenal sebagai bioakumulator yang menyerap logam berat seperti merkuri dan timbal, serta senyawa kimia lainnya. Karena kemampuannya menumpuk bahan beracun, ikan sapu-sapu berpotensi membahayakan rantai makanan air dan kesehatan masyarakat. Tariswan menegaskan bahwa hal ini menjadi alasan utama mengapa pihak berwenang terus memburu populasi ikan ini.
Peran Ikan Sapu-Sapu dalam Perekonomian
Menurut Tariswan, ikan sapu-sapu kerap menjadi target oknum tertentu untuk diolah menjadi makanan seperti siomay, otak-otak, dan hidangan lainnya. “Ini yang membuat keberadaannya semakin mengkhawatirkan, karena selain merusak ekosistem, mereka juga dianggap sebagai pengganggu ekonomi ikan lokal,” katanya. Meski bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan, penangkapan secara berlebihan akan mengurangi jumlah populasi ikan endemik yang lebih penting bagi keseimbangan alam.
Proses pemusnahan ikan sapu-sapu ini bukanlah hal baru. Pemprov DKI Jakarta telah gencar melakukan operasi serupa sejak beberapa bulan lalu. KPKP DKI menargetkan penurunan populasi ikan sapu-sapu di perairan umum hingga 20 persen dalam dua tahun ke depan. Angka ini sejalan dengan rencana pengendalian spesies invasif, mengingat populasi ikan sapu-sapu diperkirakan mencapai 60 hingga 80 persen di sejumlah saluran air Jakarta.
Regulasi dan Upaya Pemerintah
Keberadaan ikan sapu-sapu juga diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020. Aturan ini melarang pemeliharaan dan pelepasan ikan tersebut ke lingkungan perairan. “Dengan adanya regulasi ini, kami bisa lebih efektif dalam mengendalikan penyebaran ikan sapu-sapu,” ujar Bety. Selain itu, pemerintah daerah terus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai risiko spesies invasif ini.
KPKP DKI Jakarta telah merancang strategi pengendalian yang lebih komprehensif, termasuk penguatan pengawasan di area pesisir dan saluran air. Tim inspeksi rutin melakukan patroli untuk memastikan tidak ada ikan sapu-sapu yang dilepas secara tidak resmi ke perairan. Selain itu, program edukasi kepada nelayan dan masyarakat sekitar juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan.
Proses penangkapan ikan sapu-sapu ini terus dilakukan karena mereka memiliki kemampuan adaptasi tinggi dan memakan berbagai jenis ikan lokal. Hal ini menyebabkan persaingan sumber daya makanan yang ketat, hingga mengancam keberlangsungan spesies asli. Menurut ekspertis, ikan sapu-sapu bisa tumbuh pesat dalam kondisi perairan yang tidak teratur, termasuk saluran drainase yang memiliki aliran lambat.
Dengan adanya penangkapan besar-besaran, pemerintah berharap dapat mengurangi dominasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta. Selain mencegah kerusakan tanggul, langkah ini juga bertujuan melindungi kualitas air dan keanekaragaman hayati. Tariswan menekankan bahwa keberhasilan pengendalian ikan invasif ini bergantung pada kerja sama antara instansi pemerintah, masyarakat, dan pemangkas lainnya.
Proses pemusnahan ikan sapu-sapu tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga melibatkan pengamatan jangka panjang untuk memantau dampaknya terhadap ekosistem. Tim KPKP berupaya memastikan bahwa ikan yang ditangkap tidak dijual ke pasar, sehingga mengurangi permintaan terhadap spesies ini. Pemusnahan dilakukan secara terpusat di BPP Kembangan, di mana hasil tangkapan dibiarkan hingga membusuk untuk menyerap bahan kimia yang berbahaya.
Upaya pemerintah ini memperlihatkan komitmen kuat dalam menjaga lingkungan hidup. Dengan menangani ikan sapu-sapu secara efisien, DKI Jakarta berharap bisa menjaga keseimbangan antara kebutuhan perekonomian dan perlindungan ekosistem. “Kami yakin langkah ini akan berdampak positif, meski perlu dilakukan secara terus-menerus,” kata Bety, yang menegaskan bahwa tidak ada jalan lain selain mengendalikan populasi ikan invasif.
Sebagai bagian dari 14 spesies ikan invasif yang dilarang dipelihara dan dilepasliarkan, ikan sapu-sapu menjadi perhatian khusus. Keberadaannya di perairan Jakarta telah membuktikan bahwa mereka bisa mengganggu keberlangsungan hidup ikan lokal, serta merusak struktur alam seperti batu bata dan tanah di sekitar saluran air. Oleh karena itu, penangkapan ini adalah bagian dari strategi pengendalian yang lebih luas.
Para ilmuwan menyoroti bahwa penyebaran ikan sapu-sapu bisa terjadi karena aktivitas manusia, seperti pembuangan limbah atau pelepasan ikan secara tidak sengaja
