Kemenpar: Wisatawan nusantara masih dominasi peningkatan ekonomi lokal

Kemenpar: Wisatawan Domestik Terus Mendominasi Kontribusi Ekonomi Lokal

Kemenpar –

Jakarta, Rabu – Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Masruroh mengungkapkan bahwa wisatawan dalam negeri masih menjadi penggerak utama perekonomian lokal, dibandingkan pengeluaran wisatawan mancanegara. “Saya yakin wisatawan lokal lebih banyak berkontribusi pada pengembangan usaha kecil menengah (UMKM) di dalam negeri dibandingkan wisatawan asing,” tuturnya usai menghadiri acara Islamic Financial Dialogue di Jakarta.

Dalam pandangan Masruroh, peran wisatawan nusantara (wisnus) berdampak langsung pada perekonomian daerah. Berbeda dengan wisatawan internasional yang lebih dikenal melalui indikator devisa, wisnus justru membuka peluang kerja yang luas dan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) melalui sektor pajak hotel, restoran, serta hiburan. “Wisatawan mancanegara memang mudah diukur berdasarkan jumlah devisa yang masuk, tetapi wisatawan lokal memiliki dampak penyebaran dana yang lebih luas,” jelasnya.

Peran Wisnus dalam Mendorong Ekonomi Lokal

Dari data Kemenpar, wisnus menyumbang kontribusi signifikan terhadap pendapatan pariwisata daerah. Angka pengeluaran wisnus mencapai Rp1.954 triliun, menggeser kinerja sektor pariwisata secara nasional. Masruroh menekankan bahwa dana ini berpindah secara langsung dari satu wilayah ke wilayah lain, menjadikannya mesin penggerak ekonomi yang lebih dinamis.

“Kita perlu memahami bahwa wisnus tidak hanya menghabiskan uang di daerah asalnya, tetapi juga mengalirkan dana ke destinasi wisata yang berbeda,” kata Masruroh. Hal ini menjadikan wisnus sebagai penyeimbang ekonomi, terutama dalam wilayah yang belum tergarap oleh turis asing.

Menurut data sementara Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pariwisata kini menyumbang 3,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan peran pariwisata dalam menyerap tenaga kerja, sebanyak lebih dari 25,88 juta orang, berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2025. “Pariwisata berkontribusi besar dalam mengurangi ketimpangan ekonomi antar daerah, karena pengeluaran wisnus menciptakan keuntungan yang menyebar secara merata,” tambahnya.

Terobosan Pariwisata Berbasis Halal

Masruroh juga menyebutkan upaya Kemenpar dalam mengembangkan pariwisata yang lebih berkualitas dengan pendekatan halal. Menurutnya, Indonesia semakin berupaya memperkuat ekosistem wisata syariah, yang diharapkan menjadi daya tarik bagi wisatawan Muslim di Asia. “Dengan menyiapkan tempat ibadah, makanan halal friendly, serta layanan yang sesuai prinsip syariah, kita bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Indonesia kini masuk dalam daftar Muslim Destination of the Year versi Global Muslim Travel Index 2025. Hal ini didukung oleh keberadaan 19 provinsi dengan populasi Muslim di atas 90 persen. “Prosentase ini memberikan ruang untuk pengembangan destinasi, produk, dan layanan pariwisata yang selaras dengan nilai-nilai Islam,” katanya.

Masruroh menyoroti bahwa pariwisata halal bukan hanya tentang kebersihan dan keaslian, tetapi juga ketersediaan fasilitas yang memudahkan pengalaman wisatawan Muslim. “Kami sedang berupaya memperluas aksesibilitas dan kualitas layanan, agar masyarakat Muslim dapat menjelajah tanpa hambatan,” terangnya.

Perbandingan Pemasukan dan Dampak Ekonomi

Menurut Masruroh, meskipun wisatawan mancanegara memastikan penghasilan devisa, wisnus lebih menguntungkan dalam membangun kemandirian ekonomi. “Devisa turis asing adalah indikator penting, tetapi wisnus membawa dampak berkelanjutan, terutama dalam memperkuat jaringan usaha lokal,” katanya.

Pergerakan wisnus juga berdampak pada peningkatan okupansi hotel dan restoran, yang memperbesar PAD dari sektor pajak. “Dengan wisnus, kita bisa meningkatkan PAD secara bertahap tanpa bergantung sepenuhnya pada wisatawan asing,” tambahnya.

Sebagai contoh, wisnus membantu menghidupkan usaha kecil seperti warung makan, penginapan tradisional, dan toko suvenir. “Dana dari wisnus bergerak secara langsung ke UMKM, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” jelasnya.

Proyeksi Pariwisata ke Depan

Kemenpar terus berupaya meningkatkan daya tarik destinasi wisata Indonesia, terutama melalui inisiatif halal. “Pariwisata berbasis halal diharapkan menjadi penggerak ekonomi baru, terlebih dengan masyarakat Muslim yang terus bertumbuh,” kata Masruroh.

Menurutnya, perluasan destinasi dan layanan halal akan meningkatkan jumlah wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. “Kami percaya bahwa pariwisata yang ramah Muslim dapat menguntungkan ekonomi secara holistik, karena wisnus lebih terjangkau dan loyal terhadap destinasi lokal,” tambahnya.

Sebagai bagian dari upaya ini, Kemenpar bekerja sama dengan sektor syariah lainnya, seperti bank, transportasi, dan ritel. “Kolaborasi lintas sektor akan memastikan kebutuhan wisatawan Muslim terpenuhi, sekaligus meningkatkan kualitas layanan secara keseluruhan,” pungkas Masruroh.

Dengan adanya dampak positif dari wisnus, Kemenpar ingin menumbuhkan pariwisata yang tidak hanya menguntungkan perekonomian nasional, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan religius Indonesia. “Pariwisata tidak hanya tentang jumlah pengunjung, tetapi juga bagaimana kita bisa membangun ekosistem yang berkelanjutan dan bermakna,” tuturnya.