Bisnis

Kemenpar: Festival Adat Erau perkuat daya tarik wisata daerah

Pembukaan-Erau-2026
Foto : Rina Maulana - programamal.com
Daftar Isi
  1. Erau Adat Kutai 2026 Hidupkan Tradisi dan Pesona Tenggarong
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Erau Adat Kutai 2026 Hidupkan Tradisi dan Pesona Tenggarong

Programamal.com – Suasana budaya menyelimuti Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, saat Festival Erau Adat Kutai 2026 resmi dimulai. Perhelatan ini membuka ruang bagi masyarakat dan wisatawan untuk menyaksikan kekayaan adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, sekaligus memperlihatkan peran budaya sebagai kekuatan penting bagi pariwisata daerah.

Rangkaian pembukaan diawali dengan prosesi mendirikan Tiang Ayu, yang juga dikenal sebagai Pinang Ayu, di Kompleks Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura atau Museum Mulawarman. Upacara sakral tersebut dipimpin oleh pemangku adat kesultanan dan menjadi penanda dimulainya pesta adat Erau.

Tiang yang dihiasi beragam ornamen itu mengandung makna kemakmuran dan kesuburan. Kehadirannya bukan hanya unsur seremonial, melainkan simbol penting dalam tradisi masyarakat Kutai serta penegasan bahwa pesta adat telah dibuka secara resmi.

Budaya sebagai alasan wisatawan datang

Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah Kalimantan Kementerian Pariwisata, Dwi Marhen Yono, menilai Erau memiliki arti yang lebih luas daripada sebuah agenda perayaan. Festival ini dipandang dapat membantu memperkuat posisi Kutai Kartanegara sebagai tujuan wisata yang bertumpu pada kekayaan budaya.

“Festival Adat Erau juga menjadi benteng sekaligus jendela pelestarian warisan leluhur, sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata,” ujar Dwi Marhen Yono.

Ia menekankan bahwa daya tarik Indonesia tidak hanya terletak pada pantai, lanskap alam, atau destinasi rekreasi. Nilai budaya, adat, dan tradisi yang masih dijalankan juga menjadi pertimbangan penting bagi orang yang memilih berkunjung ke Indonesia.

“Mengapa banyak orang memilih datang ke Indonesia, bukan ke Malaysia, Vietnam, atau negara lain. Tentu bukan semata karena keindahan pantai atau alam, namun lebih pada alasan budaya,” kata Dwi Marhen.

Pandangan tersebut menempatkan festival adat sebagai bagian dari pengalaman wisata yang lebih utuh. Pengunjung tidak sekadar datang untuk melihat pertunjukan, tetapi juga dapat mengenal nilai, simbol, dan tata kehidupan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kementerian Pariwisata mendorong pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta pelaku budaya untuk menjaga adat istiadat secara optimal. Warisan budaya takbenda memiliki nilai besar karena tidak dapat digantikan oleh pembangunan fisik semata. Tradisi yang dirawat dengan baik dapat memperkuat identitas daerah sekaligus memberi alasan yang khas bagi wisatawan untuk datang.

Agenda hingga akhir September

Setelah prosesi Tiang Ayu, kegiatan Erau dilanjutkan dengan pembukaan seremonial di Stadion Rondong Demang. Festival juga menghadirkan expo dan bazar UMKM, yang memberi ruang bagi produk dan aktivitas ekonomi masyarakat untuk tampil dalam rangkaian acara budaya tersebut.

Pada malam pembukaan, agenda mencakup Beluluh Sultan dan Bepelas. Kedua kegiatan itu menjadi bagian dari susunan tradisi Erau yang memperlihatkan keterhubungan antara adat, kesultanan, dan kehidupan masyarakat Kutai.

Festival dijadwalkan berlangsung sampai 27 September. Penutupnya akan ditandai dengan prosesi merebahkan Pinang Ayu pada 28 September, bertepatan dengan peringatan hari jadi Kota Tenggarong. Penanda akhir tersebut melengkapi rangkaian ritual yang dimulai dengan pendirian Tiang Ayu.

Susunan acara yang berlangsung selama beberapa hari memberi kesempatan bagi pengunjung untuk mengikuti festival dalam berbagai suasana, dari prosesi sakral hingga kegiatan publik yang lebih terbuka. Kehadiran bazar UMKM juga memperlihatkan bahwa perayaan budaya dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas masyarakat lokal.

Warisan yang melintasi zaman

Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri menyambut kedatangan tamu dan wisatawan dalam pesta adat yang mengangkat tema “Raja Menjamu Rakyatnya”. Tema tersebut menggambarkan semangat keterbukaan dan kebersamaan yang menjadi bagian dari penyelenggaraan Erau.

Bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Erau bukan kegiatan yang hanya hadir satu kali dalam setahun. Festival ini diposisikan sebagai peninggalan leluhur yang membentuk identitas daerah dan menghubungkan perjalanan peradaban dari masa ke masa.

“Di dalam Adat Erau tersimpan penghormatan kepada leluhur, kesetiaan kepada adat, kebersamaan masyarakat, serta prinsip harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” ujar Aulia.

Makna tersebut menjadikan Erau relevan bukan hanya bagi masyarakat yang menjalankan adatnya, melainkan juga bagi generasi muda dan para pengunjung. Festival ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berlangsung melalui praktik nyata, ritual, pertemuan masyarakat, serta keterlibatan publik dalam menghormati tradisi yang hidup.

Di tengah persaingan destinasi wisata, ciri khas budaya menjadi pembeda yang tidak mudah ditiru. Erau Adat Kutai menghadirkan pengalaman yang berakar pada sejarah dan nilai lokal Tenggarong. Karena itu, kelangsungan festival bukan sekadar soal menjaga agenda tahunan, tetapi juga merawat ingatan kolektif, kebanggaan daerah, dan hubungan masyarakat dengan warisan leluhurnya.

Frequently Asked Questions

What is Kemenpar?

Kemenpar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kemenpar matter?

Kemenpar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Rina Maulana - programamal.com

Rina Maulana - programamal.com

Rina Maulana adalah aktivis sosial yang aktif dalam pemberdayaan perempuan dan keluarga prasejahtera. Ia telah terlibat dalam berbagai program pelatihan dan bantuan ekonomi mikro.

Tulisan Rina banyak berfokus pada dampak sosial dari donasi terhadap kehidupan masyarakat.