Key Strategy: Mendag: Barter RI-Filipina tak bebani ekspor dan impor
Mendag Budi Santoso: Barter Indonesia-Filipina Dukung Stabilitas Ekspor dan Impor
Key Strategy – Jakarta, 8 Juni – Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai sistem perdagangan berbasis barter antara Indonesia dan Filipina bisa menjadi strategi efektif untuk meningkatkan volume ekspor sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada mata uang asing. Dalam wawancara di Jakarta, ia menjelaskan bahwa mekanisme barter tidak mengurangi efisiensi transaksi dagang, bahkan mungkin mendorong pertumbuhan ekonomi bilateral. “Barter bisa dijadikan solusi untuk mengoptimalkan perdagangan tanpa mengorbankan stabilitas nilai tukar,” ujarnya.
Komitmen Pihak Terlibat Menentukan Keberlanjutan
Budi menyatakan bahwa skema barter hanya akan berjalan baik jika semua pihak memiliki kesepakatan yang kuat serta kepercayaan yang solid. Menurutnya, ketika eksportir dan importir saling berkomitmen, mekanisme ini bisa mengurangi tekanan dari fluktuasi nilai tukar mata uang. “Ini bukan beban tambahan bagi pelaku usaha, justru menjadi peluang untuk memperkuat hubungan dagang,” tambahnya.
Menurut Budi, barter tidak terbatas pada pertukaran produk yang saling melengkapi dalam satu rantai industri. Ia menjelaskan bahwa berbagai jenis komoditas memiliki peluang untuk diperdagangkan selama terdapat persetujuan antar pihak. “Contohnya, kita pernah melakukan barter dengan Mesir. Maka, ekspor kopi dan impor kurma bisa terjadi meski kedua produk tersebut tidak secara langsung terkait,” kata Budi.
“Saya pikir, skema ini tidak membebani ekspor dan impor. Justru, ia membantu mengurangi tekanan dari perubahan nilai tukar yang bisa mengganggu transaksi dagang,” ujar Mendag.
Transaksi Barter Dengan Filipina: Dua MoU Tripartit Diangkat
Dalam acara penandatanganan kesepakatan perdagangan baru-baru ini, pemerintah Indonesia menandatangani dua nota kesepahaman (MoU) imbal dagang bersama Filipina. Kedua perjanjian ini melibatkan tiga pihak, masing-masing fokus pada komoditas berbeda. Pertama, perjanjian antara Asian Pyrochem Technologies dari Filipina, PT Trade Barter Indonesia, dan Asosiasi Pakaian serta Tekstil Indonesia. Kedua, antara Asian Pyrochem Technologies, PT Trade Barter Indonesia, dan PT Krakatau Global Trading.
Dalam MoU pertama, para pihak menyepakati pertukaran serat abaka mentah dari Filipina dengan produk tekstil jadi dari Indonesia. Nilainya mencapai 50 juta dolar AS per tahun. Sementara itu, MoU kedua menargetkan pertukaran bijih besi Filipina dengan produk baja yang akan digunakan untuk produksi Krakatau Steel. Volume transaksi dianggap sebesar 300 juta dolar AS per tahun.
Budi menjelaskan bahwa kedua MoU ini dirancang untuk mendorong kerja sama perdagangan yang lebih seimbang. “Kita ingin memastikan bahwa transaksi dagang tidak hanya bergantung pada aliran dolar AS, tapi juga bisa berjalan berkelanjutan melalui mekanisme barter,” tegasnya.
Strategi Mengatasi Ketergantungan Mata Uang
Menurut Mendag, imbal dagang berperan penting dalam mengurangi ketergantungan pada mata uang asing. Ia menjelaskan bahwa sistem ini bisa menjaga stabilitas transaksi antar negara tanpa mengandalkan pembayaran tunai dalam dolar Amerika Serikat. “Maka, dampak dari perubahan kurs tidak akan merugikan pihak-pihak yang terlibat,” ujar Budi.
Budi menekankan bahwa barter juga bisa menjadi pilihan untuk menjaga pertumbuhan ekspor tanpa terganggu oleh dinamika pasar internasional. “Dengan skema ini, Indonesia bisa memasukkan lebih banyak produk ke dalam rangkaian perdagangan, termasuk barang yang tidak selalu bisa dikembangkan melalui cara tradisional,” tambahnya.
Dalam konteks perdagangan global, Budi mengungkapkan bahwa barter bisa menjadi pendorong untuk menutupi defisit neraca perdagangan. “Maka, transaksi antar negara tidak hanya fokus pada keuntungan moneter, tapi juga pada hubungan ekonomi yang lebih kuat,” katanya.
Contoh Sebelumnya Dengan Mesir: Barter Bukan Hanya Untuk Produk Melengkapi
Contoh sebelumnya yang diungkapkan Budi adalah kerja sama barter dengan Mesir, di mana Indonesia mengimpor kurma dan mengekspor kopi. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa barter bisa diterapkan pada berbagai jenis komoditas, bahkan yang tidak terkait langsung. “Kerja sama dengan Mesir membuktikan bahwa barter bisa menjadi model untuk memperkuat hubungan perdagangan dengan negara-negara lain,” ujarnya.
Budi juga menjelaskan bahwa penggunaan mekanisme barter akan mempercepat proses perdagangan, terutama di tengah tantangan inflasi dan perubahan kurs. “Maka, kita bisa menjaga konsistensi produksi tanpa mengkhawatirkan tekanan dari sisi keuangan,” tegasnya.
Peran PT Trade Barter Indonesia dalam Membangun Kerja Sama
PT Trade Barter Indonesia, sebagai pihak penghubung dalam kedua MoU tersebut, memiliki peran penting dalam memfasilitasi transaksi antar negara. Budi menyebutkan bahwa perusahaan ini berupaya membangun jaringan perdagangan yang lebih luas, terutama untuk komoditas yang belum banyak dikembangkan. “PT Trade Barter Indonesia menjadi perantara yang mampu menyelaraskan kebutuhan dua belah pihak dalam transaksi barter,” ujarnya.
Di sisi lain, Budi menegaskan bahwa keberhasilan barter juga bergantung pada keinginan pihak-pihak terlibat. “Komitmen yang kuat dari semua pihak akan memastikan bahwa kebijakan ini bisa berdampak positif jangka panjang,” kata dia. Ia menambahkan bahwa perjanjian ini bisa menjadi dasar untuk ekspansi perdagangan di masa depan, terutama dengan negara-negara yang memiliki sumber daya alam berbeda.
Potensi Transaksi Berdampak Luas
Dengan total potensi transaksi mencapai 350 juta dolar AS per tahun, keberhasilan dua MoU ini bisa menjadi langkah awal dalam memperluas perdagangan bilateral. Budi mengharapkan bahwa kerja sama ini tidak hanya menambah nilai ekspor, tapi juga memperkuat ikatan ekonomi
