Latest Program: Pengamat: Airbus bisa jadi bagian proses sertifikasi profesional MRO

Pengamat: Airbus bisa jadi bagian proses sertifikasi profesional MRO

Latest Program – Perjanjian strategis antara Kementerian PPN/Kepala Bappenas dan President Airbus Asia-Pacific Anand Stanley menandatangani Joint Declaration of Intent (JDI) di Jakarta, Jumat, menjadi langkah penting dalam mendukung industri kedirgantaraan nasional. Kesepakatan ini menegaskan komitmen untuk memperkuat sektor penerbangan melalui kolaborasi antara pihak pemerintah dan perusahaan multinasional. Dalam kerangka Peta Jalan Pengembangan Ekosistem Industri Kedirgantaraan Indonesia Tahun 2022-2045, inisiatif ini diharapkan mendorong pertumbuhan lalu lintas udara yang lebih efisien dan berkelanjutan hingga empat kali lipat pada tahun 2045.

Kemitraan untuk Peningkatan Kualitas SDM Aviasi

Menurut pengamat transportasi Danang Parikesit dari Universitas Gadjah Mada (UGM), perusahaan Airbus memiliki potensi besar untuk berperan dalam sertifikasi profesional maintenance, repair, and overhaul (MRO). Ia menekankan bahwa modernisasi lembaga pendidikan penerbangan menjadi kunci agar standar aviasi Indonesia bisa menyamai tingkat internasional. “Politeknik penerbangan perlu dimodernisasi dan Airbus bisa menjadi bagian dari proses sertifikasi profesional MRO maupun aviasi secara keseluruhan,” kata Danang saat dihubungi ANTARA di Jakarta. Ia menambahkan bahwa sistem sertifikasi yang lebih komprehensif akan memperkuat kepercayaan publik dan investor terhadap industri penerbangan nasional.

“Di grup InJourney juga sudah punya IAS Academy yang bisa menjadi mitra strategis Airbus untuk pendidikan aviasi,” ujarnya.

Menurut Danang, keberadaan IAS Academy dalam grup InJourney menunjukkan keberhasilan kolaborasi antara sektor swasta dan lembaga pendidikan. Institut ini berpotensi menjadi bentuk sinergi yang mendorong ketersediaan sumber daya manusia berkualitas di bidang aviasi. Kemitraan dengan Airbus, menurutnya, bukan hanya sekadar transaksi bisnis, tapi bagian dari upaya menyeluruh untuk meningkatkan kapasitas industri dalam negeri.

Peluang Kerja Sama dalam Penguatan Infrastruktur Bandara

Kerja sama yang diusulkan meliputi pengembangan infrastruktur bandara, pengoptimalan layanan penerbangan, serta peningkatan standardisasi di sektor MRO. Danang menyoroti bahwa penggunaan teknologi canggih dari Airbus akan membantu menyelaraskan sistem pendidikan dengan kebutuhan industri. “Penguatan kapasitas industri dalam negeri dan pengembangan sektor MRO untuk berbagai lini produk Airbus menjadi fokus utama kemitraan ini,” jelasnya. Dengan adanya kemitraan tersebut, pihaknya berharap penerbangan antar-pulau bisa lebih terjangkau, yang sejalan dengan tujuan pembangunan jangka panjang Indonesia.

Dalam konteks pertumbuhan lalu lintas udara, JDI ini dianggap sebagai bentuk komitmen untuk mempercepat proses modernisasi. Pihak pemerintah dan Airbus akan menjajaki peluang kerja sama dalam bidang teknologi, sertifikasi, serta pelatihan karyawan. Pengamat menekankan bahwa keberhasilan kolaborasi ini bergantung pada keterlibatan aktif institusi pendidikan dan pelaku industri. “Dengan adanya standar sertifikasi yang lebih ketat, industri aviasi Indonesia bisa bersaing secara global,” tambahnya.

Standarisasi dan Peran Pendidikan dalam Ekosistem Kedirgantaraan

Sebagai bagian dari Peta Jalan 2022-2045, JDI ini menargetkan peningkatan kemampuan sumber daya manusia, termasuk pengembangan program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Danang mengatakan, modernisasi pendidikan aviasi harus diiringi oleh inovasi dalam metode pengajaran dan kurikulum. “Sertifikasi profesional MRO membutuhkan pendekatan yang holistik, mulai dari penguasaan teknologi hingga pengembangan soft skill,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa institusi seperti IAS Academy bisa menjadi platform untuk mengintegrasikan teori dan praktik dalam bidang aviasi.

Kerja sama antara Airbus dan lembaga pendidikan nasional diharapkan memberikan dampak jangka panjang terhadap ekosistem kedirgantaraan. Dengan meningkatkan kualitas SDM, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada tenaga asing. Danang juga menyoroti bahwa perusahaan multinasional seperti Airbus memiliki peran strategis dalam menciptakan standar internasional yang bisa diadopsi oleh industri lokal. “Penerapan teknologi dan standarisasi yang konsisten akan mempercepat proses industrialisasi aviasi,” tegasnya.

“Di grup InJourney juga sudah punya IAS Academy yang bisa menjadi mitra strategis Airbus untuk pendidikan aviasi,” ujarnya.

Sebagai informasi tambahan, pihak pemerintah dan Airbus akan fokus pada tiga aspek utama: penguatan kapasitas industri, pengembangan sektor MRO, dan pemberdayaan sumber daya manusia. Keberhasilan implementasi JDI akan menjadi tolok ukur dalam mengukur kemajuan penerapan standar internasional di Indonesia. Danang mengingatkan bahwa program sertifikasi harus disertai dengan pengawasan yang ketat agar tidak hanya menjadi formalitas. “Kami mengharapkan sertifikasi profesional MRO bisa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan sektor penerbangan,” imbuhnya.

Kontribusi terhadap Indonesia Emas 2045

Kemitraan Airbus dan Indonesia, baik melalui JDI maupun inisiatif pendidikan, dianggap sebagai langkah konkret dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Tahun 2045 dijadwalkan sebagai target utama dalam pengembangan ekonomi dan infrastruktur nasional, termasuk dalam bidang transportasi udara. Dengan menggabungkan keahlian Airbus dalam teknologi penerbangan dan sumber daya pendidikan lokal, keberlanjutan industri kedirgantaraan bisa terjamin. Danang menekankan bahwa kolaborasi ini juga berdampak pada keberdayaan kecil dan menengah, karena pihak pemerintah akan memberikan stimulus untuk mengembangkan industri penerbangan lokal.

Kelangsungan kerja sama antara Airbus dan lembaga pendidikan juga menjadi penjamin terhadap peningkatan kualitas layanan penerbangan. Danang menjelaskan bahwa pengembangan MRO tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya, tapi juga pada keselamatan dan keandalan operasional. “Program sertifikasi profesional MRO akan menjadi pondasi utama dalam menghadirkan layanan penerbangan yang lebih baik,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pengembangan infrastruktur bandara dan layanan penerbangan akan menjadi katalisator utama dalam meningkatkan konektivitas antar-pulau.

Kepentingan Strategis dalam Menghadapi Persaingan Global