Topics Covered: IHSG menguat di tengah “wait and see” suku bunga BI dan The Fed
IHSG Menguat di tengah Kebijakan Suku Bunga BI dan The Fed yang Belum Pasti
Topics Covered – Jakarta – Pada hari Rabu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kenaikan, meski para pelaku pasar tetap bersikap menunggu dan memperhatikan (wait and see) terhadap langkah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. IHSG dibuka dengan peningkatan sebesar 66,99 poin, atau 1,07 persen, mencapai level 6.321,96. Di sisi lain, kelompok saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45 juga mengalami kenaikan, naik 5,46 poin atau 0,87 persen ke posisi 630,14.
“Kiwoom Research merekomendasikan para investor menunggu hingga terjadi breakout di level 6.300 sebelum mengambil keputusan untuk mengavg up. Perlu diingat, masih ada beberapa peristiwa penting dalam pekan ini yang mungkin memengaruhi volatilitas pasar, seperti RDG BI, keputusan MSCI, dan FTSE Russell,” jelas Liza Camelia Suryanata, kepala riset Kiwoom Sekuritas, saat memberikan analisisnya di Jakarta, Rabu.
Dalam survei yang dilakukan Bank of America, persentase manajer dana internasional yang memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dalam waktu 12 bulan ke depan meningkat menjadi 40 persen, dibandingkan sebelumnya 16 persen. Sementara itu, 55 persen dari manajer dana tersebut mengatakan Ketua The Fed Kevin Warsh kemungkinan besar tetap bersikap hawkish, terutama dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16-17 Juni mendatang. Liza menambahkan bahwa sentimen pasar global masih positif, meski mulai menunjukkan perbedaan respons di berbagai wilayah.
Menurut Liza, alokasi dana investor semakin berpindah ke sektor yang lebih stabil. Persentase dana yang ditempatkan pada saham global turun dari 50 persen menjadi 38 persen, sementara eksposur pada sektor teknologi juga berkurang, dari 33 persen ke 26 persen. “Di sisi lain, investor mulai meningkatkan posisi pada Jepang, serta sektor material dan perbankan. Posisi long saham semikonduktor global mencapai level tertinggi sepanjang sejarah survei ini, dengan 80 persen responden menempatkannya sebagai strategi yang paling banyak dipilih,” kata dia.
Sementara IHSG menunjukkan kekuatan, harga minyak mentah dunia kembali mengalami penurunan menjelang penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss pada Jumat (19/06). Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka penuh pada hari itu, dan negosiasi lanjutan akan berlangsung selama 60 hari, meski detail kesepakatan masih belum jelas. Menurut laporan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih mempertanyakan keputusan yang tidak sepenuhnya menghapus program rudal balistik Iran atau jaringan milisi pro-Iran di wilayah tersebut.
Dalam konteks lokal, pasar menantikan beberapa kejadian penting, termasuk Global Market Accessibility Review (RDG) Bank Indonesia pada Kamis (18/06), yang diperkirakan akan meningkatkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. Selain itu, investor juga memantau keputusan rebalancing indeks FTSE yang akan diumumkan pada Jumat (19/06), serta penilaian MSCI terhadap kelayakan pasar Indonesia. Pemerintah sendiri berencana menerbitkan Panda Bonds pada akhir Juni atau awal Juli 2026, dengan sebelumnya akan mengamati respons dan minat investor terhadap rencana tersebut. Tujuan dari penerbitan obligasi berdenominasi rupiah ini antara lain untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan memperkuat nilai tukar rupiah.
Bank Dunia masih mempertahankan outlook positif terhadap perekonomian Indonesia, dengan proyeksi pertumbuhan mencapai 5,0 persen pada 2026 dan 5,2 persen pada 2027-2028. Pertumbuhan ini didukung oleh kekuatan konsumsi domestik, investasi, serta belanja pemerintah. Defisit fiskal diperkirakan tetap terjaga di bawah ambang 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, Bank Dunia menegaskan bahwa keberlanjutan pertumbuhan jangka panjang masih bergantung pada reformasi produktivitas, peningkatan penerimaan negara, efisiensi pengeluaran publik, serta perbaikan sektor logistik dan perdagangan.
Selama perdagangan Selasa (16/06), bursa saham Eropa mencatat kenaikan kompak. Euro Stoxx 50 naik 0,38 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,61 persen, DAX Jerman melangkah 0,07 persen, dan CAC 40 Prancis meningkat 0,75 persen. Di sisi lain, bursa AS Wall Street menunjukkan volatilitas yang beragam. Indeks Dow Jones Industrial Average bergerak naik 0,64 persen, sementara S&P 500 melemah 0,57 persen dan Nasdaq Composite turun hingga 1,89 persen.
Dalam kawasan Asia, bursa saham regional juga menunjukkan pergerakan yang beragam. Indeks Nikkei Jepang naik 0,76 persen ke 69.942,00, sedangkan Shanghai China sedikit melemah 0,02 persen ke 4.091,31. Hang Seng Hong Kong turun 0,41 persen ke 24.390,00, namun Strait Times Singapura menguat 1,23 persen ke 5.180,78. Pergerakan ini mencerminkan keberagaman respons pasar terhadap berbagai faktor eksternal, termasuk kebijakan moneter dan dinamika geopolitik.
Liza menyoroti bahwa meski IHSG menunjukkan kekuatan, faktor-faktor seperti MoU AS-Iran, keputusan MSCI, serta kebijakan BI masih menjadi perhatian utama. Perkembangan harga minyak yang turun juga bisa memengaruhi inflasi dan kebijakan moneter, terutama jika cadangan minyak negara-negara lain terus terkuras. Di sisi domestik, apresiasi terhadap Panda Bonds diprediksi akan bergantung pada keberhasilan pemerintah dalam membangun kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi.
Perluasan eksposur pada sektor-sektor tertentu seperti material dan perbankan menunjukkan bahwa investor mencari keamanan dalam menghadapi ketidakpastian global. Namun, keputusan untuk menempatkan saham semikonduktor dalam posisi long tetap menjadi strategi yang paling dominan, mengingat tingkat permintaan yang tinggi di pasar global. Perkembangan ini juga mencerminkan ekspektasi akan pertumbuhan teknologi yang berkelanjutan, meski ada risiko perubahan kebijakan di sejumlah negara.
Pergerakan IHSG sepanjang hari Rabu mencerminkan kecenderungan pasar yang konservatif, di mana investor lebih memilih menahan diri daripada membuat pergerakan besar. Meski demikian, peningkatan volume transaksi dan pergerakan harga saham unggulan menunjukkan minat pasar yang tetap aktif. Analisis dari Kiwoom Sekuritas menekankan pentingnya mengawasi kinerja pasar secara dinamis, terutama sebelum keputusan suku bunga dan rencana indeks global diumumkan.
Dengan situasi yang masih memperlihatkan ketidakpastian, IHSG diperkirakan akan terus bergerak dalam ruang yang terbatas hingga faktor eksternal seperti kebijakan The Fed dan BI memberikan arah yang jelas. Kenaikan yang terjadi pada hari Rabu bisa menjadi indikator awal pergerakan positif, asalkan pasar tetap terjaga dalam suasana yang stabil dan tidak terpengaruh oleh peristiwa geopolitik yang berpotensi mengguncang.
