Solution For: LPS ajak generasi muda bijak kelola keuangan di era digital
LPS Ajak Generasi Muda Bijak Kelola Keuangan di Era Digital
Solution For – Makassar, Sabtu — Dalam upaya meningkatkan kesadaran finansial, Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Farid Azhar Nasution, menekankan pentingnya pemahaman yang baik tentang pengelolaan uang, terutama bagi generasi muda yang tengah berada di tengah transformasi teknologi. Diskusi ini menjadi bagian dari serangkaian kegiatan edukasi keuangan yang dilakukan lembaga tersebut, dengan harapan mampu membentuk pola pikir yang lebih matang terhadap pengambilan keputusan finansial.
Kesenjangan Literasi dan Dampaknya pada Perilaku Keuangan
Farid menyatakan bahwa rendahnya tingkat literasi keuangan di kalangan pemuda berdampak langsung pada cara mereka memanage uang. Ia menyoroti bagaimana kebiasaan belanja impulsif dan penggunaan layanan pinjaman sering kali muncul akibat kurangnya pemahaman tentang konsep keuangan yang sehat. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi keputusan sehari-hari, tetapi juga mengarah pada tindakan yang berisiko, seperti mengambil utang tanpa perhitungan matang.
“Kurangnya pengetahuan tentang keuangan sering kali membuat generasi muda tergoda untuk memenuhi keinginan jangka pendek dengan cara yang tidak berpikir panjang,” ujarnya dalam acara kuliah umum di Universitas Hasanuddin (Unhas).
Fenomena Sosial yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Dalam menjelaskan tantangan, Farid mengungkapkan beberapa fenomena sosial yang memperparah kondisi tersebut. Termasuk fear of missing out (FOMO), yang mendorong seseorang untuk segera memiliki sesuatu karena takut ketinggalan. Fenomena you only live once (YOLO) juga ikut berperan, mengajak orang untuk menghabiskan uang tanpa memikirkan konsekuensi. Sementara fear of other people’s opinion (FOPO) membuat individu lebih rentan terhadap tekanan sosial dalam memilih produk atau layanan finansial.
“Ketiga fenomena ini menggambarkan bagaimana teknologi digital memberi pengaruh besar pada perilaku keuangan. Banyak orang justru mengabaikan kemampuan finansial mereka karena tergiur oleh tren yang sedang populer,” jelas Farid.
Layanan Pinjaman Online: Pilihan Instan yang Perlu Dikendalikan
Ia menambahkan bahwa penggunaan layanan pinjaman online oleh kelompok usia muda mencapai hingga 60 persen. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pemuda kini mengandalkan instrumen pembiayaan konsumtif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski memudahkan akses, Farid menekankan bahwa penggunaan uang secara tidak terencana bisa berdampak serius pada stabilitas keuangan jangka panjang.
Menurutnya, digitalisasi finansial mempercepat proses pengambilan keputusan, tetapi juga meningkatkan risiko pengelolaan uang yang kurang bijak. “Fasilitas seperti paylater atau cicilan diskon memungkinkan seseorang berbelanja dengan uang yang belum ada, tetapi hal ini berpotensi menciptakan kebiasaan konsumsi yang tidak seimbang,” katanya.
Mengatasi Tantangan dengan Kesadaran Finansial yang Tertanam
Farid berargumen bahwa masalah utama dalam pengelolaan keuangan bukan hanya terletak pada jumlah uang yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang mengendalikan keinginan mereka. Ia mencontohkan bahwa kemampuan untuk menetapkan prioritas dan disiplin dalam pengeluaran sangat penting dalam menghindari utang yang berlarut. “Masyarakat perlu memahami bahwa pengelolaan keuangan yang baik adalah dasar dari kemandirian finansial dan integritas pribadi,” tambahnya.
Menurut Farid, kesadaran ini harus dibentuk sejak dini melalui pendidikan yang tepat. Ia menekankan bahwa literasi keuangan yang baik bisa mengurangi risiko terjebak dalam skema utang konsumtif, seperti pinjaman online atau investasi yang tidak sesuai dengan kapasitas. “Dengan memahami prinsip keuangan, generasi muda bisa menjadi pelaku yang lebih bijak, bukan korban dari teknologi yang terus berkembang,” jelasnya.
Kuliah Umum sebagai Wadah Edukasi Finansial
Acara kuliah umum yang dihadiri ribuan peserta ini bertema “Kesadaran Finansial: Fondasi Integritas dan Kesadaran Kemandirian Generasi Muda.” Farid menjelaskan bahwa acara tersebut dirancang untuk memberikan wawasan tentang cara mengatasi tantangan keuangan di era digital, khususnya bagi remaja dan mahasiswa. Ia berharap peserta dapat mengaplikasikan konsep yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai pelajar, pekerja, maupun pengusaha.
Dalam pembicaraannya, Farid juga mengungkapkan bahwa kesadaran finansial merupakan kunci dalam menciptakan generasi yang lebih mandiri. “Banyak orang muda terjebak dalam siklus utang karena tidak menyadari bahwa pengeluaran berlebihan bisa menyebabkan tekanan ekonomi di masa depan,” katanya.
Langkah Penting Menuju Pengelolaan Keuangan yang Sehat
Selain itu, Farid mendorong peran aktif institusi pendidikan dalam mengintegrasikan pendidikan keuangan ke dalam kurikulum. Ia menilai bahwa pengenalan konsep seperti tabungan, investasi, dan perencanaan keuangan harus dilakukan secara sistematis agar generasi muda lebih siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. “Kita perlu membekali mereka dengan pengetahuan yang memadai, agar tidak terbuai oleh kemudahan teknologi,” ujarnya.
Farid juga mengingatkan bahwa kesadaran finansial bukan hanya tentang menabung atau mengelola uang, tetapi juga tentang mengenali perilaku konsumsi yang berlebihan. “Masyarakat digital cenderung tergoda oleh tawaran yang menarik, tetapi mereka perlu belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan,” tuturnya.
Potensi Dampak dan Solusi untuk Masa Depan
Dengan kondisi ini, Farid berharap kegiatan seperti kuliah umum bisa menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran finansial yang kuat. Ia menambahkan bahwa LPS akan terus berupaya memberikan edukasi keuangan yang menyeluruh, baik melalui media online maupun kerja sama dengan institusi pendidikan. “Masa depan ekonomi Indonesia bergantung pada generasi muda yang mampu menjadi pengelola keuangan yang bijak,” pungkasnya.
Kuliah umum ini dihadiri oleh sejumlah pemuda dan mahasiswa dari berbagai daerah, yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap topik yang dianggap relevan dengan kehidupan mereka. Farid berharap kegiatan serupa dapat terus digelar, agar kesadaran finansial masyarakat, khususnya pemuda, terus ditingkatkan seiring perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Dengan kebijakan yang tepat dan pendidikan keuangan yang mendalam, Farid yakin generasi muda bisa menghadapi tantangan ekonomi secara lebih waspada. Ia menegaskan bahwa kemampuan mengendalikan diri dan menetapkan prioritas keuangan adalah aset yang tak ternilai, yang akan membangun fondasi kehidupan yang lebih baik. “Kita harus mulai dari sekarang, agar masa depan tidak terasa seperti tantangan yang mustahil diatasi,” tutup
