Latest Program: Dirjen Imigrasi minta jajaran hilangkan budaya kerja lama
Direktur Jenderal Imigrasi Dorong Eliminasi Budaya Kerja Berlebihan
Latest Program – Jakarta, Antaranews – Dalam upaya memperkuat citra instansi, Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Pemasyarakatan dan Imigrasi, Hendarsam Marantoko, memberikan arahan kepada seluruh jajaran Ditjen Imigrasi. Ia menekankan pentingnya fokus pada pelayanan publik dan menghapus praktek kerja berlebihan yang tidak perlu. Langkah ini bertujuan untuk menunjukkan komitmen meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, serta memperbaiki cara kerja yang selama ini dianggap kurang efektif.
Kebutuhan Masyarakat Menjadi Fokus Utama
Hendarsam menegaskan bahwa sebagai pelayan publik, Imigrasi harus menjadi mitra yang lebih dekat dengan masyarakat. Hal ini diperlukan karena instansi tersebut sering kali menjadi sasaran kritik atau keluhan, terutama jika tidak mampu merespons masalah dengan cepat dan transparan. “Gagasan ‘Imigrasi untuk Rakyat’ muncul dari kebutuhan untuk mendekatkan diri dan menghilangkan jarak antara pihak berwenang dengan rakyat,” ujar Hendarsam dalam pidatonya di Jakarta, Rabu (10/6). Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa transparansi dan kecepatan respons menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan publik.
“Kami berkomitmen untuk membuktikan perubahan ini, merebut kembali dukungan masyarakat, dan memastikan setiap aktivitas Imigrasi memberi manfaat nyata,” tegas Hendarsam.
Dalam pernyataannya, Hendarsam menyoroti bahwa sumber daya manusia (SDM) di Ditjen Imigrasi memiliki kapasitas yang baik, tetapi kinerja tersebut harus didukung oleh integritas yang kuat. Ia menyatakan bahwa budaya kerja lama yang sering diterapkan selama ini perlu diubah agar karyawan dapat menjalankan tugas dengan optimal. “Tidak ada keistimewaan bagi siapa pun untuk melakukan pelanggaran,” imbuhnya.
Sikap dan Komitmen yang Nyata
Salah satu isu yang diangkat dalam arahan ini adalah tentang perubahan sikap dan komitmen pelayanan yang harus dijalani oleh seluruh jajaran. Hendarsam menegaskan bahwa segala bentuk kecemburuan sosial atau persepsi negatif terhadap Imigrasi harus diatasi melalui tindakan konkret. “Kami tidak hanya mengucapkan komitmen, tetapi harus membuktikan dengan hasil nyata,” lanjutnya.
Pada Rabu (10/6), Hendarsam juga memberikan arahan virtual kepada seluruh staf Ditjen Imigrasi di Indonesia dan Atase Imigrasi di perwakilan RI. Acara ini diselenggarakan sebagai respons terhadap penetapan tersangka Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan nonaktif, Silmy Karim, serta sejumlah pejabat lainnya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam pidatonya, ia meminta jajaran untuk tidak hanya fokus pada tugas utama, tetapi juga pada program yang telah ditetapkan.
“Zaman sudah berubah, tuntutan masyarakat juga berkembang. Kami tidak boleh kaku dalam menjalankan fungsi, tetapi harus adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” ujar Hendarsam.
Krisis kredibilitas yang tengah dihadapi oleh Imigrasi, menurut Hendarsam, menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Ia menekankan bahwa budaya kerja lama yang selama ini diterapkan perlu dihapus agar SDM dapat bekerja secara efisien dan efektif. “Selama ini, kita sering terjebak dalam rutinitas yang tidak menghasilkan manfaat langsung. Kini saatnya memperbaiki pola kerja tersebut,” lanjutnya.
Peningkatan Integritas Pelayanan Publik
Hendarsam menggarisbawahi bahwa meningkatkan integritas adalah langkah kritis untuk memperkuat kepercayaan masyarakat. Ia menyatakan bahwa pelayanan publik harus menjadi prioritas utama, dengan semua tindakan dilakukan secara terbuka dan bertanggung jawab. “Kami menyerahkan sepenuhnya proses hukum yang sedang berjalan kepada aparat penegak hukum. Mulai minggu ini, fokus kita adalah memastikan bahwa semua program dan tugas Ditjen Imigrasi berjalan sesuai rencana,” ujarnya.
Dalam konteks ini, Hendarsam menekankan bahwa budaya kerja lama tidak lagi relevan di era yang dinamis. Ia menambahkan bahwa para pejabat harus menjadi contoh yang baik dalam menjalankan tugas, serta menghindari tindakan yang dapat merusak citra organisasi. “Kami tidak hanya memperbaiki proses internal, tetapi juga memperkuat hubungan dengan masyarakat agar Imigrasi tetap menjadi institusi yang dipercaya,” katanya.
Proses Hukum sebagai Pembelajaran
Menurut Hendarsam, proses hukum yang sedang dijalani oleh Silmy Karim dan pejabat lainnya harus dijadikan pelajaran bagi seluruh jajaran. Ia berharap situasi ini mendorong perubahan yang lebih besar dalam cara kerja, khususnya dalam menangani keluhan masyarakat. “Kami harus lebih tanggap terhadap setiap kegagalan, dan segera mengambil tindakan untuk memperbaikinya,” ujarnya.
Ia juga menyatakan bahwa kepercayaan publik tidak bisa direbut hanya dengan ucapan, tetapi perlu dibuktikan melalui kinerja yang konsisten. “Kami harus mampu menjawab setiap kritik dengan solusi yang tuntas, dan memastikan bahwa pelayanan kita selalu diukur dari manfaat yang dirasakan oleh rakyat,” tambah Hendarsam.
Program dan Tugas yang Sudah Dicanangkan
Sebagai bagian dari arahan ini, Hendarsam mendorong seluruh jajaran untuk kembali ke program dan tugas yang telah ditetapkan. Ia menegaskan bahwa pelayanan kepada masyarakat harus terus ditingkatkan, bahkan di tengah tantangan yang dihadapi. “Kami tidak boleh teralihkan oleh masalah yang sedang terjadi, tetapi harus memperkuat fokus pada tugas utama,” katanya.
Salah satu tantangan utama dalam implementasi ini adalah memastikan SDM mampu menjalankan fungsi dengan baik. Hendarsam menyatakan bahwa penguatan mental aparatur adalah hal yang sangat penting untuk menjawab keluhan atau komplain yang muncul. “Kami harus menjadi pelayan yang profesional, terbuka, dan memiliki integritas tinggi,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Hendarsam juga menyoroti bahwa transparansi menjadi elemen kunci dalam membangun kepercayaan publik. Ia menekankan bahwa semua keputusan dan tindakan Ditjen Imigrasi harus selalu diperiksa oleh masyarakat, sehingga setiap langkah dapat diterima secara positif. “Dengan memperbaiki budaya kerja, kami bisa memastikan bahwa pelayanan Imigrasi tidak hanya efisien, tetapi juga memberi dampak yang signifikan bagi masyarakat
