Important Visit: Pemkot Bandung buka pendaftaran SPMB 2026 jalur afirmasi dan prestasi
Pemkot Bandung Resmikan Pendaftaran SPMB 2026 untuk TK, SD, dan SMP
Important Visit – Kota Bandung, Jawa Barat, kembali mengumumkan pembukaan pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027. Proses ini ditujukan bagi siswa yang akan memasuki jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pendaftaran dilakukan secara daring pada periode 8 hingga 12 Juni 2026 melalui situs resmi spmb.bandung.go.id. Pemkot Bandung menegaskan bahwa prosedur ini dirancang untuk memudahkan calon peserta didik serta orang tua dalam mengakses informasi dan pengajuan formulir.
Proses SPMB Dibagi Dua Tahap
Menurut Asep Saeful Gufron, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, SPMB 2026 akan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama difokuskan pada jalur afirmasi dan prestasi, sementara tahap kedua menampung peserta melalui jalur domisili serta mutasi. “Orang tua calon murid perlu memastikan proses pendaftaran dilakukan secara lengkap sesuai jadwal yang ditentukan. Setelah mengisi formulir pendataan, selanjutnya mereka bisa mengikuti langkah-langkah berikutnya,” jelas Asep dalam wawancara di Bandung, Senin.
“Tidak hanya integrasi data, tetapi juga layanan terintegrasi secara tatap muka di kantor Dinas Pendidikan maupun secara daring melalui fitur chatbox dan media sosial,” ujar Asep.
Menurut Asep, pendaftaran SPMB tahun ini dimulai dengan pendataan dan pembuatan akun peserta didik baru. Proses ini menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan telah berlangsung sejak 11 Mei hingga 5 Juni 2026. Dinas Pendidikan, Disdukcapil, serta Dinsos Kota Bandung bekerja sama untuk memastikan sistem ini berjalan lancar. “Kolaborasi ini bertujuan menyederhanakan prosedur administrasi dan mempercepat verifikasi data,” tambahnya.
Kuota Jalur Afirmasi dan Prestasi
Dalam jalur afirmasi, Pemkot Bandung menyediakan kuota sebesar 15 persen untuk SD dan 30 persen untuk SMP. Kuota ini dibagi menjadi dua kategori, yakni afirmasi penempatan (20 persen) dan afirmasi non-penempatan (10 persen). Selain itu, ada kuota khusus untuk siswa berkebutuhan khusus. “Jalur ini ditujukan bagi warga Kota Bandung yang terdaftar dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) Desil 1 hingga Desil 5,” terang Asep.
Jalur prestasi juga terbuka untuk peserta didik dengan kriteria yang berbeda. Kuota total untuk jalur ini mencapai 25 persen. Sebagian besar dari kuota tersebut (15 persen) diberikan berdasarkan prestasi akademik, seperti nilai rapor dan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA). Sementara 10 persen lainnya mengacu pada prestasi non-akademik, seperti kejuaraan olahraga atau kegiatan ekstrakurikuler. “Pemkot Bandung ingin menekankan kualitas pendidikan yang merata dan inklusif,” tambahnya.
Proses Pemenuhan Kuota bagi Peserta yang Tidak Lolos
Asep menjelaskan bahwa peserta yang gagal masuk melalui jalur afirmasi atau prestasi di tahap pertama tetap memiliki kesempatan untuk mengikuti SPMB pada tahap kedua. Jalur domisili dan mutasi akan menjadi alternatif bagi mereka. “Para orang tua perlu memperhatikan syarat pendaftaran, seperti kartu keluarga yang telah terbit minimal satu tahun,” pungkas Asep.
Menurut Asep, jalur domisili menitikberatkan pada keberadaan tempat tinggal keluarga peserta didik. “Jika tidak memenuhi kuota afirmasi atau prestasi, peserta bisa mencoba pendaftaran melalui domisili. Hal ini memungkinkan siswa yang berasal dari daerah lain tetap bisa mengikuti pendidikan di Kota Bandung,” jelasnya.
Persiapan untuk Pemenuhan Kuota yang Tersisa
Di samping itu, Asep menegaskan bahwa para calon murid yang lolos di jalur afirmasi tetap bisa mengikuti proses pemenuhan kuota di sekolah lain jika tidak diterima di sekolah pertama. “Pemkot Bandung memastikan bahwa semua warga yang memenuhi kriteria tetap mendapatkan kesempatan belajar,” tambahnya. Hal ini penting untuk menjaga kualitas pendidikan dan mengurangi risiko siswa putus sekolah.
Salah satu prioritas utama Pemkot Bandung adalah memastikan akses pendidikan bagi peserta didik yang masuk kategori Rawan Melanjutkan Pendidikan (RMP). “Pemkot menjamin bahwa mereka tetap bisa menempuh pendidikan di sekolah negeri atau swasta, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka,” kata Asep. Ia menekankan bahwa kebijakan SPMB ini tidak hanya mengurangi beban orang tua, tetapi juga mendorong persaingan yang adil antar peserta didik.
Pelaksanaan SPMB Berjalan Terpadu
Proses SPMB 2026 dirancang secara terintegrasi. Integrasi ini mencakup penyamaan data, penyederhanaan formulir, serta penggunaan teknologi dalam pendaftaran. “Kolaborasi antara tiga dinas tersebut memberikan keuntungan dalam mengurangi kesalahan administratif dan mempercepat pengambilan keputusan,” jelas Asep. Dengan sistem ini, orang tua tidak perlu mengumpulkan berbagai dokumen fisik yang berulang.
Asep juga menyebutkan bahwa layanan terpadu ini dilengkapi oleh fitur chatbox dan media sosial. “Selain layanan tatap muka, peserta didik bisa berinteraksi langsung dengan petugas melalui platform digital ini,” terangnya. Hal ini memungkinkan para orang tua yang sibuk atau berada di luar Kota Bandung tetap terhubung dengan proses pendaftaran. “Kita berharap sistem ini menjadi lebih efisien dan transparan,” pungkas Asep.
Persiapan untuk Tahun Ajaran Berikutnya
Pemkot Bandung terus melakukan persiapan agar proses SPMB 2026 berjalan optimal. Kegiatan ini tidak hanya menyangkut penerimaan siswa, tetapi juga mencakup peningkatan kualitas layanan administrasi pendidikan. “Kita perlu memastikan bahwa seluruh prosedur tidak menghambat akses pendidikan bagi siswa yang membutuhkan bantuan,” kata Asep.
Menurut Asep, P
