Meeting Results: Anggota MPR ajak masyarakat rawat kebinekaan lewat seni
Anggota MPR Ajak Masyarakat Rawat Kebinekaan Lewat Seni
Meeting Results – Dalam upaya memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, anggota MPR Siti Mukaromah mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus melestarikan nilai-nilai kebhinekaan melalui ekspresi seni dan budaya. Acara yang dihadiri ribuan peserta berlangsung di Pendopo Adipati Marapat, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada hari Sabtu sore. Di sana, ia mengemukakan bahwa budaya memiliki peran sentral dalam mempererat tali persaudaraan dan membangun kesatuan bangsa.
Pada pembukaan Dialog “Harmonisasi Budaya-Merawat Kebhinekaan dengan Fondasi Empat Pilar Kebangsaan,” Siti Mukaromah menekankan pentingnya menjaga keberagaman sebagai kekuatan, bukan penyebab perpecahan. “Dengan perbedaan antar individu, kita justru bisa lebih kuat jika diimbangi oleh kesatuan melalui budaya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa seni seperti tari, musik, atau pertunjukan lainnya bisa menjadi sarana pemersatu masyarakat. “Budaya harus menjadi fondasi yang mengikat kita sebagai satu bangsa,” tuturnya.
“Hari ini kita berkumpul untuk melestarikan dan memelihara budaya yang kita miliki. Salah satunya dengan ngibing atau menari, ini adalah bagian dari pemersatu warga masyarakat Indonesia,” katanya.
Siti Mukaromah, yang akrab disapa Erma, juga menyebut bahwa kegiatan seni seperti “Banyumas Ngibing 24 Jam Menari” tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi wadah dialog dan pembelajaran. Acara tersebut melibatkan seniman lokal, pelaku UMKM, komunitas budaya, serta generasi muda dari berbagai daerah. “Budaya Indonesia harus tetap dijaga, karena inilah yang menjadi ciri khas kita sebagai bangsa,” katanya.
Kebudayaan Sebagai Katalisator Ekonomi
Menurut Bambang Cahyo Murdoko, Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah I Kementerian Pariwisata, acara serupa memiliki dampak positif yang luas. Ia mengatakan bahwa budaya tidak hanya menyentuh aspek estetika, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. “Budaya bisa menjadi penggerak ekonomi, khususnya melalui keterlibatan UMKM, sektor perhotelan, serta komunitas kreatif,” tambahnya.
“Kalau budaya terus dilestarikan, maka budaya juga bisa menyejahterakan masyarakat. Ekonomi tumbuh, UMKM tumbuh, masyarakat terlibat, dan sektor pariwisata ikut bergerak,” katanya.
Bambang menyoroti peran kegiatan budaya dalam memperkuat identitas nasional. “Budaya tidak hanya dipentaskan sebagai bentuk seni, tetapi juga menjadi ruang dialog yang menciptakan kesadaran bersama,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa acara seperti “Banyumas Ngibing 24 Jam Menari” mampu membangun kebersamaan dan menginspirasi masyarakat untuk terus menggali potensi lokal.
Upaya Mempertahankan Nilai-Nilai Nasional
Siti Mukaromah mengingatkan bahwa keberhasilan penjagaan kebhinekaan bergantung pada kesadaran masyarakat terhadap Empat Pilar Kebangsaan. “Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia jangan sampai terlupakan,” katanya. Ia menekankan bahwa nilai-nilai tersebut menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus dihayati dan diaplikasikan sehari-hari.
Kebudayaan Indonesia, menurut Siti, juga menjadi benteng melawan pengaruh budaya asing yang semakin dominan di era globalisasi. “Budaya lokal harus kita banggakan, karena ini adalah identitas kita sebagai bangsa yang berbeda namun tetap bersatu,” ujarnya. Ia menyampaikan bahwa melalui seni, masyarakat bisa memperkuat rasa memiliki terhadap warisan budaya yang telah mereka warisi.
“Saya ingin mengingatkan agar empat pilar yang menjadi dasar kita sebagai warga Indonesia jangan sampai dilupakan,” katanya.
Dalam rangkaian acara “Banyumas Ngibing 24 Jam Menari,” yang digelar di Kota Lama Banyumas pada 2-3 Mei 2026, peserta dari berbagai daerah dan negara turut hadir. Acara ini menampilkan berbagai pertunjukan tari, mural, dan aktivitas seni yang menunjukkan keragaman budaya tetap bisa menjadi kekuatan persatuan. “Kebudayaan mesti menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar hiasan,” imbuhnya.
Bambang Cahyo Murdoko menegaskan bahwa kegiatan seperti “Banyumas Ngibing” bisa menjadi contoh bagus dalam mewujudkan Karisma Event Nusantara. “Banyumas Ngibing harus terus berkembang sebagai ruang budaya yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya. Ia menilai acara ini memiliki potensi besar untuk menarik minat wisatawan dan mendorong pembangunan ekonomi lokal melalui sektor kreatif.
Kegiatan yang diadakan selama dua hari ini menggabungkan pertunjukan seni, diskusi budaya, dan keterlibatan komunitas. Hal ini memperlihatkan bahwa seni tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga alat untuk menyampaikan pesan kebhinekaan. “Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat bisa merasakan bagaimana budaya lokal bisa memperkuat kebersamaan,” kata Bambang. Ia berharap acara serupa bisa menjadi pendorong bagi perayaan budaya nasional yang lebih luas.
Siti Mukaromah menutup sambutannya dengan harapan bahwa “Banyumas Ngibing 24 Jam Menari” menjadi salah satu referensi untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih harmonis. “Kita perlu terus memperkuat kebersamaan dengan cara yang menyenangkan dan bermakna,” ujarnya. Kegiatan ini, katanya, bisa menjadi percontohan bagi daerah lain dalam menggali potensi budaya dan mempererat tali persaudaraan antar warga.
