Humaniora

Menag: MTQ bukan sekadar kompetisi, tapi wujudkan “Living Quran”

1000180812
Foto : Fajar Lestari - programamal.com
Daftar Isi
  1. MTQ Nasional XXXI Dorong Nilai Al Quran Hadir dalam Kehidupan
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

MTQ Nasional XXXI Dorong Nilai Al Quran Hadir dalam Kehidupan

Programamal.com – Menag – Musabaqah Tilawatil Quran Nasional XXXI yang akan digelar di Semarang, Jawa Tengah, pada 11–20 September 2026, diharapkan menjadi ruang untuk menghadirkan nilai Al Quran secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa ajang ini memiliki makna yang jauh melampaui perlombaan membaca, menghafal, atau menulis Al Quran.

Gelaran tahun ini mengangkat tema “Menebar Cahaya Al Quran dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban.” Tema tersebut menempatkan Al Quran sebagai sumber nilai yang dapat membentuk perilaku, memperkuat hubungan sosial, dan menumbuhkan kehidupan yang rukun di tengah keberagaman.

Nasaruddin Umar menggambarkan perjalanan seseorang dalam berinteraksi dengan kitab suci melalui beberapa tahapan. Ada yang sedang mendekat kepada Al Quran, ada pula yang telah melekat dengannya. Tahap yang lebih mendalam adalah ketika nilai-nilai Al Quran terlihat dalam tindakan sehari-hari, yang ia sebut sebagai living Quran.

“Jadi ada beberapa kategori, ada yang dekat dengan Al Quran, ada yang melekat dengan Al Quran, dan ada yang menjadi living Quran, (being the Quran), ibaratnya sudah seperti Quran berjalan,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Jakarta, Jumat.

Dari Bacaan menuju Keteladanan

Membaca dan menghafal Al Quran merupakan bagian penting dalam upaya memahami kitab suci. Namun, proses itu tidak berhenti pada kemampuan melafalkan ayat atau menyimpan hafalan. Nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterapkan ketika seseorang mengambil keputusan, menghadapi persoalan, dan membangun relasi dengan orang lain.

Dalam konteks ini, MTQ memiliki fungsi pembinaan yang penting. Ajang tersebut memang menghadirkan peserta dengan kemampuan unggul dalam tilawah, tahfiz, tafsir, serta cabang-cabang lainnya. Meski demikian, ukuran keberhasilan tidak hanya terletak pada perolehan juara atau penghargaan di arena musabaqah.

Peserta diharapkan dapat membawa semangat Al Quran kembali ke keluarga, sekolah, komunitas, serta lingkungan tempat tinggal mereka. Ketika prestasi di panggung perlombaan berlanjut menjadi perilaku yang baik dalam masyarakat, pesan MTQ akan terasa lebih luas dan berkelanjutan.

Nasaruddin Umar mengajak para peserta untuk menjadikan nilai keagamaan sebagai kekuatan yang menenangkan dan menyatukan. Pesan itu juga relevan dalam kehidupan sosial yang memerlukan sikap terbuka, kemampuan berdialog, serta kemauan membantu menyelesaikan persoalan bersama.

“Jadilah sebagai penjernih bukan pengeruh. Jadilah penghubung bukan pemisah. Jadilah moderator bukan provokator. Jadilah problem solver bukan problemator. Jadilah penyuluh bukan perusuh,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Makna Living Quran bagi Masyarakat

Gagasan living Quran menempatkan Al Quran bukan hanya sebagai teks yang dibaca dalam kegiatan keagamaan, melainkan sebagai pedoman yang tercermin dalam akhlak. Sikap jujur, kepedulian terhadap sesama, kesediaan menjaga kedamaian, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara bijak dapat menjadi bentuk penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan ini membuat MTQ tidak semata menjadi pertemuan bagi para qari, qariah, hafiz, dan hafizah. Ajang tersebut juga dapat menjadi pengingat bahwa keindahan bacaan Al Quran perlu berjalan seiring dengan keindahan budi pekerti. Kemampuan yang ditampilkan para peserta diharapkan memberi inspirasi bagi masyarakat untuk semakin dekat dengan Al Quran sekaligus mengamalkan ajarannya.

Dengan demikian, MTQ dapat dipahami sebagai ruang syiar, pendidikan, dan penguatan karakter. Kompetisi tetap menjadi bagian penting untuk mengapresiasi kemampuan peserta, tetapi dampak yang lebih besar terletak pada teladan yang lahir setelah acara berakhir.

Ruang Partisipasi bagi Penyandang Disabilitas

Semangat menghadirkan Al Quran dalam kehidupan juga terlihat dari penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI yang semakin inklusif. Penyandang disabilitas memperoleh kesempatan untuk mengambil bagian dalam syiar Al Quran melalui sejumlah kategori dan kegiatan ekshibisi.

Tahun ini, MTQ menghadirkan ekshibisi bagi Teman Tuli. Selain itu, tersedia golongan tilawah disabilitas netra putra dan putri. Kehadiran cabang-cabang tersebut memperluas ruang partisipasi dan menunjukkan bahwa akses terhadap pembelajaran serta pengamalan Al Quran dapat dibuka bagi berbagai kelompok masyarakat.

Ekshibisi Teman Tuli dijadwalkan berlangsung pada 14–16 September 2026. Sebanyak 28 peserta dari 14 komunitas Tuli Muslim di berbagai daerah Indonesia akan mengikuti kegiatan itu. Mereka akan berpartisipasi dalam golongan Tilawah, yakni membaca Al Quran menggunakan bahasa isyarat, serta golongan Kitabah berupa penulisan Al Quran Isyarat.

Keterlibatan Teman Tuli dan peserta disabilitas netra memberi makna tambahan bagi MTQ tahun ini. Inklusivitas bukan hanya soal menyediakan kategori, melainkan membuka kesempatan agar lebih banyak orang dapat menunjukkan kecintaan mereka kepada Al Quran melalui cara yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing.

Di Semarang nanti, MTQ Nasional XXXI diharapkan menjadi perjumpaan antara prestasi, penghayatan spiritual, dan kepedulian sosial. Cahaya Al Quran yang digaungkan dalam tema kegiatan dapat menemukan wujudnya melalui peserta yang berprestasi, masyarakat yang saling menghormati, serta ruang keagamaan yang terbuka bagi semua.

Frequently Asked Questions

What is Menag?

Menag is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menag matter?

Menag matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Fajar Lestari - programamal.com

Fajar Lestari - programamal.com

Fajar Lestari adalah peneliti independen di bidang sosial dan ekonomi masyarakat. Ia banyak menulis tentang dampak donasi terhadap pemberdayaan komunitas lokal.

Di Program Amal, Fajar berkontribusi dalam menyusun konten berbasis data dan riset, sehingga informasi yang disajikan tidak hanya informatif tetapi juga memiliki dasar yang kuat.